Thursday, November 7, 2019

catatan

Catatan yang Tercecer 


Puncak pendidikan itu bergelar doktor. Dua huruf  yang disematkan di depan nama. Sebuah capaian yang sebenarnya tak pernah terbetik di waktu kecil. Perjalanan telah menggiring langkah ke sana, pergi dari dunia profesi yang sejak awal sudah digandrungi. Berawal dari menekuni dunia tulis menulis lalu menjadi profesi yang mengasyikkan. Entah itu wartawan, sastrawan, budayawan, seniman, menulis dan membaca adalah pokok kerjanya.

Tulisan Wartawan Utama, Khairul Jasmi di Harian Umum Independen Singgalang, Wartawan Senior Wiztian Yoetri di Harian Pagi Padang Ekspres dan tulisan salah seorang guru, Dr. Sheiful Yazan, M.Si, Dt. Mangkudun di Harian Khazanah telah menggugah saya untuk menulis. Saya terharu karena tiga nama di atas orang-orang yang saya hormati. Banyak sekali bantuan dari mereka hingga sampai ke puncak pendidikan yang memang tidak semua orang mau menuju ke sana kecuali atas desakan kewajiban karena sebagai seorang dosen. 

Friday, October 25, 2019

Irman Gusman Silaturahmi dengan Tokoh Masyarakat Sumbar

Irman Gusman 

Silaturahmi dengan Tokoh Masyarakat Sumbar


PADANG, forumsumbar —Daerah-daerah harus bisa tampil dan tidak lagi bergantung kepada pusat. Apapun kejadian di pusat, harusnya tidak banyak pengaruhnya ke daerah. Itulah idealnya hubungan antara daerah dengan pusat dalam pemerintahan modern.

Demikian disampaikan Irman Gusman dalam sambutannya saat acara silaturahmi dengan tokoh masyarakat Sumbar di Aula STMIK Indonesia, Khatib Sulaiman, Belanti – Padang, Kamis (24/10) malam.

Lanjut Irman, daerah harus mampu memberdayakan diri dengan menggali potensi yang ada secara maksimal. Khususnya Sumbar, “mencermati politik pascapilpres, dan melihat susunan kabinet yang telah diumumkan, menjadi cambuk 5 tahun ini kita harus bekerja lebih keras lagi,” ingatnya.

Begitu juga dengan Pilkada Sumbar 2020 ke depan, diimbau Irman, rakyat Sumbar lah yang mencari pemimpin itu, siapa pun itu. “Dilakukan diskusi-diskusi yang intens. Ketika sosok itu sudah didapatkan, dan tidak ada partai yang mencalonkan, maka bersama-sama mengusungnya melalui jalur independen, dan rakyat yang ikut mendanai,” tukuk Irman.

Thursday, October 24, 2019

Radikalisme

my think my twitt

#radikalisme


radikalisme itu memang mengancam persatuan dan kesatuan bernegara. ingin menghancurkan karena memang tak bersetia dengan perjuangan dan kebersamaan menuju kebaikan bersama. indonesia adalah keajaiban, juga karunia tuhan. damai itu mahal sekali. #membaca #menulis
#radikalisme

pekerjaan besar adalah, bagaimana menyisir secara detail, siapa saja dan dimana mereka berada? jika memang tak mau bersetia dengan negara kesatuan dan persatuan ini, silahkan minggat. jika masih mencintainya, mari membangun bersama dengan jalan damai, bukan menghancurkan. #membaca #menulis #radikalisme

Friday, October 4, 2019

Membaca Mimpi Dony Oskaria


KOMENTAR

Membaca Mimpi
Dony Oskaria

ABDULLAH KHUSAIRI

Bermimpilah, sebelum bermimpi itu dilarang. Tak ada yang salah dari bermimpi sebab mimpi adalah titik picu dan pacu seseorang agar bergerak dan berjuang menuju harapan. Hidup harus punya harapan. Harapan lahir dari mimpi-mimpi. Mimpi harus menjadi kenyataan agar tidak ditertawakan menjadi khayalan!

Plato menyebutkan, realitas hadir dari alam ide. Pun begitu kehidupan ini, berangkat dari ide-ide. Ide dalam kepala, hasil dari perenungan, daya pikir yang dituangkan, diperjuangkan, sehingga menjadi kenyataan. Sebuah daerah yang maju, lembaga yang kuat, berangkat dari ide-ide yang diperjuangkan dan direalisasikan.

Adalah Dony Oskaria, seorang profesional di bendera usaha Chairul Tanjung Corps kelahiran Tanjung Alam, Tanah Datar, Sumatra Barat, 1969, menyatakan mimpi-mimpinya untuk Sumbar.

"Saya galau melihat Ranah Minang tercinta. Bergerak lamban dalam pertumbuhan, padahal begitu banyak sumber daya alam dan sumber daya manusia yang bisa dikelola untuk memaju pertumbuhan di atas rata-rata," ungkap Dewan Penasehat Dewan Penasihat Presiden Bidang Ekonomi dan Industri di Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) ini, dalam Seminar Konsep dan Pikiran 100 Tokoh Minangkabau untuk Sumbar ke Depan, di Pangeran Beach, Minggu, 29 September 2019.

Wednesday, September 18, 2019

CATATAN PENDIDIKAN


CATATAN PENDIDIKAN
 Jalan Berliku Menuju Podium Itu...
Oleh: 
Dr. Abdullah Khusairi, MA


Andrea Hirata menulis suasana tegang dan degup kencang jantung Ikal –tokoh dalam novel— ketika akan menghadapi ujian akhir di sebuah ruangan yang berumur ratusan tahun. “Inilah altar ilmu yang angker, mulia dan terhormat,” kata budak Belitong itu dalam dalam salah satu trilogy novelnya, Laskar Pelangi, Edensor, Sang Pemimpi.

Ketika akan menulis suasana hati ujian Sidang Promosi Doktor, narasi di atas mengalir saja. Ingatan kembali kepada sebuah bacaan yang entah halaman keberapa tetapi sangat jelas; Andrea mendeskripsikan perasaan mahasiswa sebuah universitas di Sorbonn Prancis itu.
Saya tidak di Prancis, tetapi di Ciputat. Kuliah di Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Sebuah universitas yang memang sudah diperhitungkan di tingkat Asean. Tak perlu pula berkecil hati, tak sampai ke Sorbonn  seperti Ikal. Setiap orang memiliki starting point yang berbeda-beda. Bisa ke Ciputat, sudah luar biasa, mengingat kesempatan untuk ikut Program Doktor lewat beasiswa adalah hal yang langka, sulit dan ajaib. Tidak semua bisa ikut. Baik karena pertimbangkan keluarga, biaya, juga hal-hal lain yang sering mengganggu.

Saturday, August 3, 2019

Kisah Pagi

Kebahagiaan aku kecil yang ditunggu ketika emak pulang dari pasar adalah penganan bernama cendil dan gethuk. Emak sudah tahu agar aku tak ikut ke pasar, main saja di rumah, nanti dibawakan makan. Ketika emak datang, maka ambillah keranjang belanjanya. Cari saja di dalam keranjang itu, pasti dapat.

Tuesday, July 23, 2019

Abdullah Khusairi, Mantan Wartawan Padang Ekspres Raih Gelar Doktor

Kaji Wacana Radikalisme di Media, Lulus Cum Laude

Wiztian Yoetri
Wartawan Senior

Inilah perjalanan seseorang yang dikenal gigih dan tiada pernah berhenti belajar. Sekalipun sudah memasuki dunia kerja, dia tetap belajar dan belajar: membaca dan membaca, menulis dan menulis. Dua hal yang selalu ia tekuni sepanjang hidupnya. 

Selamat kepada Dr Abdullah Khusairi MA yang sudah menjalani ujian promosi dengan khidmat di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Senin (15/7). Sebuah capaian hebat oleh seorang mantan reporter, begitu saya pertama mengenalnya. 

Si Dul—demikian kami menyapanya dengan akrab di ruang redaksi Padang Ekspres ketika itu—berhasil mempertahankan karya akhir berjudul ”Diskursus Islam Kontemporer di Media Cetak: Kajian terhadap Radikalisme dalam Artikel Populer Surat Kabar Harian Kompas dan Republika 2013-2017”, di hadapan para para profesor penguji. 

DOKTOR ABDULLAH KHUSAIRI LULUS CUM LAUDE

Cendekiawan Muslim Lamban Menguasai Media 

KHAIRUL JASMI
Wartawan Utama 

"Awak ke Jakarta, baok amak, istri, anak dan adik perempuan," kata Abdullah Khusairi. Dan pada Senin (15/7) mereka duduk dengan takzim, menyaksikan Khusairi jadi doktor di UIN Ciputat.


Ini Senin yang cemerlang bagi mantan wartawan itu, setelah jungkir balik membiayai dirinya sendiri. Ibunya, memandang nyaris tak berkedip tatkala semua guru besar menyatakan, ia berhak menyandang gelar doktor. Khusairi lulus cum laude dengan nilai 95.
"Dinyatakan lulus dengan nilai 95, cum laude," kata Prof. Jamhari, ketua sidang ujian promosinya.
Pada awalnya, ia mendaftar S3 di UIN dengan bekal keras hati belaka. Hanya ada pesan:
"Sekolahlah tinggi-tinggi,"  membuatnya tak henti untuk meneruskan sekolah hingga sampai ke tingkat doktoral. Itulah kalimat dari sang ayah sebelum pergi untuk selama-lamanya, 20 tahun silam. Kini ia meraih doktor dengan lika-liku panjang pengalaman. Salut!

Thursday, July 18, 2019

PROMOSI DOKTOR ABDULLAH KHUSAIRI

Abdullah Khusairi, Mantan Jurnalis Peraih Gelar Doktor dengan Nilai Cum Laude

Langgam.id – Abdullah Khusairi menjadi doktor ke-1.151 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Mantan jurnalis Padang Ekspres itu berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Diskursus Islam Kontemporer di Media Cetak, Kajian Terhadap Radikalisme dalam Artikel Populer Surat Kabar Harian Kompas dan Republika (2013-2017).
Dengan begitu, lelaki kelahiran Sarolangun, Jambi 16 April 1977 silam, resmi menyandang gelar doktor setelah dinyatakan lulus dalam dalam sidang yang digelar Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta, Senin (16/7/2019) kemarin.

Wednesday, May 29, 2019

Catatan Ramadhan 1440 H

Buat Apa Sombong!

Hebat. Apa yang hebat. Jangan sombonglah. Kuliah di Jakarta, sombong pula. Banyak orang yang sudah dulu kuliah di sana. Tak perlu berhebat-hebatlah. Apalagi sekadar menulis disertasi 300 halaman. Belum apa-apa. Sombong itu tak boleh. Ada paham? Hebat. Apa yang hebat. Kuliah ke luar negeri. Hebat apa pula itu? Bagi sebagian orang, mungkin saja. Sementara yang lain seperti pergi mandi saja ke luar negeri. 

Jalani sajalah. Tak ada yang baru di bawah matahari ini. Sebelum kau lahir, sudah orang pikirkan. Lalu, apa benar yang hendak disombongkan? Anak orang kaya, kini kaya raya? Tunggu dulu, banyak yang lebih kaya. Biasa-biasa saja hidupnya. Malahan, ingin seperti orang biasa. Kamu, baru saja kaya, eh, belum kaya benar. Tetapi lagaknya nauzubulillah. Macam dunia sudah dalam kantong saja. Santai sajalah. 

Sunday, May 26, 2019

22 Mei 2019

22 Mei 2019


Saya sedih. Rakyat dan aparat harus berhadapan di lapangan karena kekuasaan. Sehebat apapun logika tentang keadilan, penegakan hukum, semuanya menjadi kotor karena ada darah yang tumpah, nyawa yang melayang dan tangis seorang ibu karena kehilangan anak. Sementara itu, para elite masih membangun kebenaran dengan logika mereka sendiri. Kedua belah pihak meyakini dengan logika tersebut dan menginjak-injak komitmen hukum positif yang mestinya dihormati bersama. 

Tuesday, April 30, 2019

Harus Tunjukkan Demokrasi Terhebat di Mata Dunia

Iwosumbar.com, Padang – Hasil Pemilu secara resmi ada di tangan KPU, itu mesti dinanti 22 Mei. Bersabarlah, agar jangan mudah terprovokasi oleh siapapun.
Menurut pengamat pemikiran komunikasi Islam dari UIN Iman Bonjol Padang  Abdullah Khusairi, Hormatilah KPU. Walau memang dianggap paling buruk kinerjanya, tetapi saya memahami ada yang lemah dalam lembaga KPU, terangnya pada media ini Selasa (30/4/2019).
Abdullah Khusairi juga mengatakan, Bagi politisi ulung, bisa memandang peristiwa suksesi punya kelemahan di sana-sini. Tetapi kelemahan itu tidaklah rusak semuanya. Ada kelebihan yang perlu diapresiasi. Ini yang tak muncul. Mungkin KPU harus berbenah soal komunikasi massa.

Media Massa vs Media Sosial

Media Sosial vs Media Sosial

Selemah-lemah usaha mendapatkan berita oleh jurnalis adalah berasal dari akun narasumber lalu ditulis menjadi versi hardnews. inilah yang membuat media sosial lebih unggul dari media massa. sebab publik sejajar dalam mendapatkan info dengan jurnalis. semestinya para jurnalis jauh di depan. #ngopipers

Ada media online tanpa jumlah jurnalis yang memadai di lapangan tetapi media onlinenya selalu mendapat berita hangat. Redaktur kerja keras copas sana sini dari media online besar, lalu olah jadi berita versi media online tersebut. Ini membuat jurnalisme "secangkir isu sagantang bumbu," memeriah media online di tengah masyarakat yang belum memiliki literasi media yang memadai. #ngopipers