Wednesday, October 4, 2017

Ahmadiyah Qadian dalam Perspektif Komunikasi Antar Budaya

RESUME DISERTASI

Ahmadiyah Qadian dalam Perspektif Komunikasi Antar Budaya:
Kajian Tentang Agama di Ruang Publik
Disertasi Jufri Alkatiri UIN 2014
Oleh:

Abdullah Khusairi
NIM. 31161200000061



I
Konflik sosial yang berlatarbelakang agama dalam sejarah kehidupan manusia telah membuat banyak darah ummat tumpah ke tanah. Alasan keyakinan memang sangat efektif untuk membawa klaim kebenaran kepada pihak di luar dirinya. Ini seiring dengan pendapat Peter L. Burger, agama adalah alat legitimasi kebenaran dan menekan pihak lain yang berbeda pandangan dan kepentingan.
Karen Amstrong menyebutkan, sejarah perang suci (Holy War) antar ummat agama yang terjadi membuat konflik panjang tak berujung. Benih-benih konflik sewaktu-waktu bisa tumbuh, mekar dan pecah menjadi perang berkepanjangan. Perang Salib contoh yang nyata dari sekian banyak contoh-contoh kecil.

Monday, October 2, 2017

ORANG MERU

 Sebuah karya sastra yang terkumpulkan:
Orang Meru (Erka, 2017)

About My Name


We call him Grandfather Puyang. Have a library. Five bookcase room of his house in Kampung Masjid. The book consists of books of Arabic-speaking Arabic and jawi Malay. People call it, the Yellow Book. The themes of the book are varied, ranging from Fiqh to mysticism, from worship to muamalah. Complete.

The House where we play in childhood. Home places meets a lot of relatives. I will meet with the small brother and played there the day saban, if there was a family event.

After the great, after the House and the room did not exist, I can guess, that is the source of his inspiration in making the names of the children of his grandson. Including me.

Di Bawah Naungan Merah Putih

^^Hasan Subang Lamanepa Putra Timor Leste di Padang^^

Darahnya berdesir, jika melihat seseorang mempermainkan bendera merah putih. Sebab, masa lalunya penuh keringat dan darah untuk memilih hidup di bawah naungan merah putih. Berpisah dengan sanak saudara, bercerai-berainya kehidupan.

ABDULLAH KHUSAIRI – PADANG

Itulah Hasan Subang Lamanepa (25). Seorang anak bangsa yang memilih untuk berpisah dengan kedua orang tuanya, pasca konflik bercerainya Timor Leste dari ibu pertiwi. Ia pergi dengan segenap kecewa.

“Terdampar ke Padang tak pernah terpikirkan sebelumnya, nasib ternyata menghanyutkan,” kenang Achang, demikian ia akrab disapa. Terbesit di matanya, kerinduan atas tanah kelahiran di Timor sana. Kenangan yang tak pernah mudah hilang. Rumah yang dibakar massa, mengungsi berbulan-bulan, pahitnya kehidupan, dan seterusnya.


Tak terasa, sudah 11 tahun lebih ia pergi dari pangkuan orang tua. Itu semua hanya karena konflik berkepanjangan demi harkat martabat Merah Putih di tanah Leste.

Tragedi Tabloid Charlie Hebdo

ABDULLAH KHUSAIRI - PADANG

Agak sulit mencari alasan yang masuk akal atas penembakan di sebuah kantor surat kabar seperti yang terjadi Paris, Prancis itu. Sebab pembunuhan yang dilakukan tanpa proses hukum dengan dalil apapun tidak bisa dibenarkan secara manusiawi. Kalaupun akhirnya harus dikaitkan dengan produk kreatif karikatur yang diproduksi tabloid tersebut, maka yang dapat ditarik ke ranah analisis; keyakinan jika tidak hati-hati bisa membutakan akal!

Teror bisa terjadi kepada siapa saja dari mereka yang tersakiti dan tidak mendapat kesempatan untuk membalas kekalahan. Teror adalah perlawanan dalam bentuk lain ketika menyadari kekuasaan tak terlawan. Inilah cara paling pengecut!

Tenggelamnya Kapal Ikan Asing

ABDULLAH KHUSAIRI - PADANG

Ide dasar judul tulisan ini tentu saja dari Novel Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1938). Tapi ini bukan fiksi tapi fakta yang diekspos media massa, kapal asing yang tertangkap aparat pemerintah lalu dibakar dan ditenggelamkan karena telah melakukan penangkapan ikan secara tidak sah (illegal fishing) di wilayah Indonesia. 

Ada yang mencibir dan ada yang memuji atas tindakan berani Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti ini. Mencibir karena dianggap hanya pencitraan. Katanya, bukan kapal yang dibakar tapi perahu nelayan malang dan miskin dari negeri lain. 

Itupun hanya beberapa saja, yang lain masih dibiarkan. Macam-macam. Selalu saja ada alasan untuk bila tidak setuju dengan satu tindakan dari seseorang yang sudah sejak awal memang tidak disukai. 

Ada yang memuji tindakan berani tersebut. Katanya, untung ada kebijakan berani serupa itu, selama ini tak banyak yang diketahui. Sewaktu pemerintahan sebelumnya, banyak juga yang ditangkap tapi tidak terekspos apalagi dibakar dan ditenggelamkan. Dipuji karena berani menegakkan kedaulatan negara di laut. Walau baru beberapa, tapi sudah melakukan sebuah tindakan demi kedaulatan, patutlah diapresiasi. 

Jurnalisme Online Situs Radikal

ABDULLAH KHUSAIRI - PADANG 

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) memblokir 22 situs berita yang diduga menyebar informasi tentang radikalisme. Kebijakan ini atas dasar rekomendasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dipandang dari sisi kebebasan pers, inilah langkah yang lancang. Namun bukan berarti langkah Kemkominfo ini tak perlu diapresiasi, ketika dilihat dari sisi ilmu jurnalistik dan standar sebuah lembaga pers yang ideal sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Sayangnya Kemkominfo begitu cepat mengambil sikap sebelum meminta pandangan Dewan Pers. Begitu pula Dewan Pers, sejauh ini bisa dipandang masih begitu lemah melakukan gerakan cerdas bermedia, dalam arti cerdas mendirikan, profesional menjalankan, juga pencerdasan terhadap publik dalam mengonsumsi media online.

Dakwah Entertainment dan Sertifikasi Mubaligh

ABDULLAH KHUSAIRI - PADANG

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukmanul Hakim threw a discourse of certification for missionaries. Certification is meant so that the pulpit of the mosque does not become a place to spread hatred and mischief. Those who go up to the pulpit must be selected. Not just people.

Actually this is an old discourse, which has been discussed many times among practitioners, observers and academics in the seminar room of the Da'wah Science. But this discourse has never reached the meeting point, so it can not yet establish a certification system and any agency that has the competence to do so. There are thoughts, religious organizations like MUI, Muhammadiyah, NU, Perti, Persis, who manage. Plus with educational institutions, such as the Faculty of Da'wah and Communication Science and Ushuluddin Faculty. Again, these are still unrealized.

Benediction in the cabin AirAsia one Day

ABDULLAH KHUSAIRI - PADANG

Towards anchored at Kuala Lumpur International Airport (KLIA), flight attendants remind passengers to remain in their seats. The weather is very bad. The plane shook strong many times. Kuala Lumpur city looks from above, sparkling in the rain. 

That night, in the cabin, passengers pray with pale of face. There is also crying and hysterically, fear has come to crown. The pilot had tried some for landing in the rain storms and lightning, but to no avail. Finally, he decided to return to Penang International Airport. 

So a bit of experience AirAsia plane, on a journey of journalism at the invitation of the Malaysian Tourism Board (MTB), 21-24 July 2005. It's been a long time, but remembered since Sunday (29/12) morning, as news of AirAsia plane lost contact QZ8501 in Surabaya-Singapore trip.

AirAsia to sponsor the grand event, Malaysia Mega Sale Familiarisation Programme 2005. The airline carries the invitation, which is composed of businessmen, entrepreneurs, journalists, from various countries to participate in an event, know better the world tourism neighboring country. Malaysia reached a vision, as heaven asia (trully asia).

As one of the invitations, along with several journalists from Padang, I felt immediately fly with AirAsia Padang-Kuala Lumpur-Penang, commute. Up airline that carries the motto now everyone can fly, it feels no different to other airlines. Although known as airlines, low cost carriers.

However, with the brand as a cheap plane ticket, service in the cabin is limited. Unlike the previously known, with the physical plane tickets like a book. Printed lux. AirAsia change, just a piece of paper, choose your own seat on arrival in the plane, in the cabin, food orders charged.

Initially, feeling bad weather through the sky, is the usual despite fears. But the experience that night, very scary. Is still felt. The more so when looking at the television screen QZ8501 evacuation process. Death is so close, but death remains a mystery.

Cerdaslah Memilih Media Online

ABDULLAH KHUSAIRI - PADANG


Zaman android yang serba mudah dan indah ini, mengakses informasi semudah menggerakkan jari di layar sentuh seluler. Sayangnya, kemudahan ini tidak dibarengi kesiapan literasi media massa, sehingga informasi diterima tanpa penyaringan yang layak.

Dampaknya adalah menyebarnya informasi bohong dan bodong. Dunia pun banjir informasi. Membawa sampah-sampah kepentingan sesaat orang-orang tak bertanggung-jawab atas informasi yang disebarkan. Sampah-sampah penetrasi kepentingan politik dan ekonomi orang-orang yang memperkuda kebodohan pengguna android. Menjadi semacam jarum hypodermic yang menyuntik tapi tak terasa sakit dan tak disadari, demi mencapai tujuan kepentingannya.

Bagi mereka yang tidak punya literasi media massa memadai, akan menelan bulat-bulat informasi yang diluncurkan. Sialnya lagi, menyebarkan kembali dengan penuh keyakinan atas kebenaran berita yang didapatkan. Inilah yang membuat runyam.

Literasi Media
Literasi media adalah, kemampuan memahami, menganalisis kebenaran informasi dan media yang menyebarkan. Kritis terhadap siapa yang membuat informasi, dimana ia dapatkan, untuk apa ia melakukannya, serta lalukan verifikasi setiap informasi yang didapatkan. Apalagi media online yang simpangsiur menjadi viral di media sosial.

Secara sederhana,  setiap media, baik online, cetak maupun elekronik, memiliki peran produksi informasi. Ada kaidah jurnalistik yang dipakai, serta kode etik jurnalistik dalam mendapatkannya. Setiap media yang resmi, memiliki badan hukum, tim kerja redaksi, bertanggung jawab atas kerja jurnalistik yang dilakukan setiap hari. Profesional dan siap melayani hak jawab. Sebagaimana diatur dalam UU Pers No. 40 Tahun 1999.

Sementara itu, kini muncul media online yang tidak memiliki reporter, kerjanya hanya copy paste dari media mainstream, lalu merobah judul lebih provokatif. Nama media online yang dipakai kadang-kadang juga mendompleng nama media cetak --- ini sudah memerlihatkan itikad buruk. Jika tidak memerhatikan dengan seksama, mudah sekali publik akan terbawa arus informasi yang keliru. Itikad berberita kadang-kadang tampak jelas, hanya menyebarkan kebencian, kedengkian, serta muatan politik yang kental. Bagi publik yang cerdas bermedia tidak akan menggunakan media serupa ini sebagai referensi informasinya.

Sikap kritis terhadap media online melalui literasi media sangatlah penting agar tidak membawa kesesatan lebih lanjut. (lihat Q.S: al Hujurat: 6)

Informasi yang menyesatkan hanya menjadi arena pembodohan serta bisa jadi membawa petaka. Perang sering kali dimulai dari kegagalan komunikasi dan informasi. Inilah yang harus dipertimbangkan.

Kemampuan mengkonsumsi informasi memang berhubungkait dengan kemauan, kemampuan serta kepentingan. Artinya, setiap orang memiliki segmen informasi yang berbeda. Namun demikian, kita akan dinilai oleh orang lain, konsumsi dari media informasi yang salah akan membawa kekeliruan mendasar dalam membangun konstruksi kebenaran faktual.

Mereka yang mengerti seluk beluk informasi yang diproduksi dengan profesional akan selalu membaca dan membagikan informasi melalui media online resmi pula. Sementara itu, bagi yang tidak mengerti, mungkin juga karena terlibat dalam kepentingan terhadap informasi, akan membagikan informasi sungguhpun dari media online yang abal-abal. (Lihat Komentar, Jurnalisme Online Situs Radikal, SINGGALANG, 6 April 2015)


Informasi adalah asupan pengetahuan untuk penalaran. Kamu adalah apa yang kamu makan, begitu kata orang kesehatan. Kamu adalah apa yang kamu baca, begitu pula kata orang akademik. Media online, kini bak kecambah tumbuh di musim hujan. Bacalah dengan seksama, tetaplah kritis terhadap informasi yang datang dan media online yang dibaca, pilih media online yang profesional dalam memroduksi karya jurnalistik. Jangan yang media abal-abal, kalau tak ingin disebut sebagai pembaca abal-abal. Jangan sebar informasi palsu, ingat UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE) No. 11 Tahun 2008 yang selalu mengintai. Begitulah kiranya, agar selamat dalam era banjir informasi ini. Salam. [] DITERBITKAN DI HARIAN SINGGALANG

Sunday, December 25, 2016

Bulan Manja dari Ayah

HIKMAH


Bulan Manja dari Ayah


ABDULLAH KHUSAIRI


Alhamdulillah. Kita bertemu lagi di bulan suci Ramadhan. Bulan penuh berkah. Bulan penuh perenungan. Bulan peperangan bathin menahan hawa nafsu. Bulan penuh kasih sayang.


Soal kasih sayang, saya punya pengalaman indah tentang kasih sayang Ayah, yang sebelumnya tak disadari. Hanya tahu, membenci rotan di tangannya. Setelah dewasa, barulah tahu, maksud kasih sayang itu. Ayah yang pendiam, kasih sayangnya sangatlah dalam!


Sekitar tahun 80-an, sebagai seorang bocah Sekolah Dasar (SD), tugas sudah didapatkan dari Ayah, yaitu mengembala sapi dan kambing. Setiap sore, harus dihidupkan api di dalam kandang sapi. Dengan begitu, sapi akan nyaman. Kandang sapi harus bersih, sebelum beberapa ekor sapi itu masuk. Ayah akan inpeksi mendadak (Sidak), sewaktu-waktu. Kalau sempat kandang sapi kotor, kalau api padam, siap-siaplah menghadapi murkanya!

Monday, July 18, 2016

Nilai Kejujuran

"Kakak tidak bekerjasama. Tidak mencontek. Hasil usaha sendiri," sedikit manyun gadisku memberi penjelasan. Sebenarnya, ia sedang membanggakan diri, walau sedang takut dengan nada tinggi suara ayah. Ia juga sedang ingin berusaha tegak di kebenaran yang pernah diberikan ayah.


Nilainya sedikit anjlok dari perkiraan. Saya masih bersyukur, nilainya masih rata-rata air dari yang lain. Tetapi dia sepertinya tetap puas, melakukan sendiri. Sebaliknya, saya gelisah setengah mati, karena teman-temannya dapat nilai tinggi dan bisa lolos ke sekolah selanjutnya dengan mulus.

Friday, June 3, 2016

Tidak Berkompeten Sama Sekali

Pernahkah engkau merasakan, ketika apa yang kita usulkan dari pikiran yang jernih tapi dianggap suatu virus? Pernahkah engkau merasakan, sikap kritis terhadap sistem tetapi dianggap sebagai bahaya? Pernakah engkau merasakan, tidak dianggap berkompeten dan cakap padahal, engkau dan teman-temanmu sudah melakukannya lebih dari seribu kali sebuah kegiatan itu?