Saturday, January 24, 2009

HTT PADANG

>>>HTT Padang Akan Raih Tiga Rekor Muri<<<
Sipasan Terpanjang, Kio Terbesar, Naga Dimainkan Perempuan

HTT-PADANGPerayaan Gong Xi Fat Chai 2560 yang digelar Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang bakal meriah. Ditargetkan tiga rekor tercapai dan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri). Apa saja?



Abdullah Khusairi - Padang Today
"Kita menggelar Cap Go Me Termegah, pada hari puncak, 15 Februari 2009. Akan menjadi pusat perhatian sebagai kegiatan wisata dan budaya," ungkap Ketua Umum HTT, Ferryanto Gani (Gan Hok Liong) didampingi Tim Pelaksana Teddy Anthoni (The Tie An), Wakil Ketua Albert (Lim Thian Hin, SE), Sekretaris Indra Sofyan (Sho Tek Hin), Bendahara Ivandi Algamar (Chong Tek Ie), Humas K. Tanto (Drs Tan Eng Tie, Akt), kepada Padang Today, Sabtu (24/1), siang.

Thursday, January 22, 2009

BERITA FOTO

MOGOK-SITEBA-PADANGMOGOK—Sopir Angkot Siteba-Pasarraya Padang mogok menambang, Kamis (22/1) . Mereka memprotes turunnya tarif angkutan oleh Dinas Perhubungan Padang. Siang hingga sore, banyak penumpan terlantar dan menggunakan jasa ojek. Jalan-jalan pada jalur angkot ini pun terlihat sepi. Naik salah turun salah. Salah siapa siapa salah. [abdullah khusairi]

Tuesday, January 20, 2009

BERSAMA FRANKY S

FRANKY-SBUKAN SULTAN BAND—Juga tidak optimis bisa jadi band kalau formasi ini. Sama seperti formasi sebelumnya. Tapi kalau bang Franky S (baju merah kotak-kotak—sayang tak pakai topi cowboy), jelas dia sudah dicatat di negeri ini, seorang penyanyi balada yang sulit dicari tandingannya. “Spesies yang langka,” begitu ia mengaku. Tapi kalau [ki-ka] Ifwandi, paling jago di bulu tangkis, Sukri Umar play maker di FC Padeks Metro, Firdaus keeper handal di bawah mistar gawang. Nah kalau Montosori, juga begitu, sering jadi kapten kesebelasan pula.

TERBAIK-TERBAIK

RIAU-POS-GROUPSMenerima penghargaan dari Riau Pos Groups dalam Annual Meeting di Grand Elite Hotel, 17 Januari 2008. Penghargaan untuk www.padang-today.com atas kinerja selama kehadirannya. Ini penghargaan untuk tim yang sudah bekerja keras untuk eksistensi. Ayo kawan! maju terus…..

Monday, January 19, 2009

BERITA FOTO-KIPP

KIPP-ABDULLAH-KHUSAIRI

KUALITAS PEMILU: (Ki-Ka) Ketua Panwaslu Sumbar, Adi Wibowo SH MH, KIPP Nasional, Ketua Majelis Anggota KIPP Nasional Standarkiaa, Moderator Khairul Fahmi, Ketua KPU Sumbar Mazrul Veri, Akademisi Eka Vidya Putra SSos, MSi. Mereka tampil dalam Launcing dan Diskusi Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sumbar di Gedung Genta Budaya Jl. Diponegoro Padang, Senin siang (19/1). Persoalan kualitas Pemilu 2009 menjadi isu utama dalam diskusi ini. [abdullah khusairi]

Sunday, January 18, 2009

BUKA BUKU PADANG EKSPRES MINGGU

Dendam


Empat tahun lalu dirilis Behind The Sun (2004). Sebuah film dengan setting tahun 1910 di Brazil. Dua keluarga terkunci dalam perseteruan mematikan dari generasi ke generasi. Logika tradisi berbau dendam. Mempertahankan harta dan marwah. Tonio -tokoh muda dalam film itu- hidup antara tugas dari ayah dan sisa hidup dari intaian peluru dendam keluarga sendiri. Film ini mengantarkan pelajaran penuh makna. Logika dendam memang bersarang di dada manusia. Ada yang mampu memadamkannya, ada pula yang tidak. Namun jika sudah menjadi tradisi, sulit sekali harus meredamnya.
Demikianlah, ketika baju bermandi darah bekas tembakan itu telah mengering, berarti genjatan senjata telah usai. Maka musim dendampun datang. Keluarga korban akan membalas kematian anak muda dari pihak mereka. Hanya melunas dendam, kepada orang yang telah membunuh. Tak lain. Tak boleh membunuh yang lain, karena itu juga saudara mereka juga.
Dan dendam itu terhenti oleh seorang anak muda. Disadari oleh cinta. Begitulah, penulis skenario film ini mengajak orang untuk memahami kedamaian.

Friday, January 16, 2009

BULU MATA SUSU

RESENSI-BULUMATA-SUSUMemecah Nalar Kata



Judul : Bulu Mata Susu
Penulis : Ramon Damora
Penerbit: Yayasan Sagang, 2008
Cetak : Oktober 2008
Tebal : 74 Halaman


Kata penyair Sitok Srengenge, setiap puisi pada buku ini merupakan kelebatan-kelebatan imaji yang menantang logika kita. Sementara Penyair Hasan Aspahani menyatakan, penulis buku ini memiliki kosa kata yang berlebih dalam kepalanya.
Demikianlah dua penyair menjadi sepasang pengantar dalam buku berisi 48 puisi penyair generasi baru ini.
Memang, membaca puisi demi puisi, kita akan bertemu seorang penyair yang nakal memainkan nalarnya. Melalui alat bernama kata, ia seperti membuat jalinan khayal tak bisa ditangkap dengan tangan.

Tuesday, January 13, 2009

BERITA OLAHRAGA

Amril Amras-Asep ketika menundukkan Oyon-Jimi dalam partai kedua pertandingan 1Th PBKP, Minggu (11/1) malam. (foto/abdullah khusairi)



PB Padek Metro
Hajar
Simpati Balaibaru


PB Padek Metro unggul 3-2 atas Simpati Balaibaru, dalam pertandingan Kejuaraan 1Th Persatuan Bulutangkis Komplek Polda Balaibaru (PBKP), Minggu (11/1) malam.
Awalnya, pada partai pertama, PB Padek Metro sempat ketar-ketir menahan serangan Simpati Balaibaru. Pasangan Iyal-Sardi harus tunduk 23-30 atas Cun -Acik. Pertandingan partai pertama ini sangat sengit dalam perebutan angka.
Tapi pada partai kedua, PB Padek Metro yang menurunkan Amril Amras (Kabag Pemasaran Posmetro Padang)-Asep, langsung melaju meraih angka 30-11 dari pasangan Oyon-Jimi.

Saturday, January 10, 2009

SANTAI SEJENAK

FORMASI

MUNGKIN FORMASI METRO BAND

Jika ada yang menyebutkan ini formasi sebuah band, maka pendapat itu keliru besar! Kalau itu memungkin juga, nah yang dari paling kiri, Al Gapuak (mungkin bisa di Drum), Man BR (bisa dibass) Bung Boim (bagusnya di keyboar), lalu Abdullah Khusairi (maunya di vokal—bisa tidak ya?) Heru Dahnur (bisa jadi di gitar), lalu Bang Pedo (juga gitar).



Tapi kalau itu benar-benar terjadi, adakah yang bisa memberi nama band ini? Nama yang paling tepat? Saya cuma ada satu pikiran saja, Metro Band. Halah! Pasti banyak yang protes, karena Al Gapuak, tidak punya ciri pada gebukan drum seperti Bimbim Slank, Wonk Aksan, atau sebagainya. Toh, dia seorang yang handal dalam bidang periklanan. Sedangkan Man BR, apalagi! Dia seorang fotografer. Berharap dia bisa main bass layaknya seorang basis, sudah dapat dipastikan kekecewaan yang didapat. Sulit didengarkan ada dentum bass yang manis. Karena dia seorang yang nyaring untuk mencari memotret moment—apalagi kalo memotret seorang model. Bung Boim gimana? Sedikit bisa diharapkan, jika ia benar-benar jadi seorang keyboard. Karena ia mahir main di keyboard komputer. Lebih-lebih kalau sedang main game balapan satu server. Tapi soal nada, tidak dapat dipastikan, karena jarang melihat anggota KPU Kota Padang ini mengalunkan nada, kecuali mengalunkan pertanyaan kepada nara sumber.

Wednesday, January 7, 2009

FOTO KENANGAN

SELALU ASYIK UNTUK DIKENANG


DJML


Ikut pelatihan ke media kampus yang lain, adalah program yang mengasyikkan juga waktu mahasiswa. Seperti beberapa tahun lalu, 1998, ikut Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Lanjut (DJML) se-Indonesia, UKPKM Teknokra Universitas Lampung. [Kika duduk] Masrial, Abdullah Khusairi, Muhammad Taufik, Elfiyon Yulinit. Sedangkan yang berdiri, sebelah kanan, Roni Rahmata. Sebelahnya, tak ingat lagi namanya, yang jelas bukan dari Suara Kampus.


SUARA-KAMPUS-98-99Apa lagi yang ini! Saat jadi pengurus bersama Muhammad Nasir. Wah wah, foto-foto ini mengingat masa lalu sangat indah sekali.

WAWANCARA

^^^ Calon DPD RI, Wendra Yunaldi SH MH ^^^


’’Masyarakat Telah Cerdas Memilih’’



WENDRA-YUNALDIProses pemilihan di berbagai tingkat, telah mendidik masyarakat. Kecewaan demi kecewaan membuat pilihan mereka mau mendengar janji. Kini saatnya, suara masyarakat didengarkan.



Abdullah Khusairi---Padang



Anda turun ke lapangan menjemput aspirasi, menggalang kekuatan, apa pengalaman menarik?


Seseorang datang kepada saya. Saya jadi pendengar yang baik. Begini katanya, kami tak mengharapkan apa-apa. Selain kejujuran. Kami tak mau janji, kami hanya mau wakil kami, orang-orang yang sudah dipilih tidak lupa diri. Melupakan janji. Jauh dan tak mau lagi mendekati kami.



Apa hikmah dari itu?


Saya terenyuh. Jadi berpikir, terpilih atau tidak adalah soal garis tangan dan suratan nasib. Tapi terjun ke politik, dekat dengan masyarakat adalah pilihan paling tepat. Membangun dan menciptakan kegiatan progresif. Memiliki daya untuk maju. Bangkit bersama masyarakat. Keberadaan kita menjadi spirit. Bersama dengan masyarakat memikirkan, berbuat untuk kemajuan.



Monday, January 5, 2009

Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

Akademisi Budaya Islam dan Minangkabau

Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo

Membuhul Agama, Negara, dan Nagari


Apa jadinya, bila tidak ada tali yang menghubungkan, membuhul, dan merangkai kekuatan agama, adat, dan negara? Jawabannya pernah tersirat dalam sebuah karangan yang berkisah tentang seorang anak yang baik. Ceritanya begini. Kala itu, musim hujan. Jam pelajaran Bahasa Indonesia sudah habis. Tapi, hujan masih lebat. Anak-anak tidak bisa pulang. Daniar, ibu guru Bahasa Indonesia, berinisiatif mengisi waktu kosong itu dengan mengajak murid-muridnya membuat karangan bebas.

Salah satu karangan yang ditulis murid bu guru Daniar berjudul: "Anak yang Baik". Karangan ini bercerita tentang seorang anak taat beragama, cinta pada adat, dan negaranya. Namun, ia selalu dijahati temannya. Setiap kali bermain atau sedang berdua di jalan pulang, teman jahatnya itu selalu ingin mengalahkannya dengan berjalan di depan. Kalau ada genangan lumpur, si jahat menendang air berlumpur itu ke hadapan si baik. Tapi, malang bagi si jahat, ia terjatuh ke dalam banda (sungai kecil) ketika mengusili si baik dan tak bisa keluar lagi. Si anak baik, tidak menaruh dendam. Ia justru iba melihat temannya itu terjerembab di dalam banda dan memmbantunya untuk keluar.

Ibu guru Daniar tak mampu menahan tawa ketika membaca akhir karangan itu: Lalu, nya ambilnya seutas tali. Nya masukkan ke dalam lubang. Nya ulurkannya ke temannya itu. Nya tarik nafasnya dalam-dalam. Nya tariknya temannya itu keluar dari banda. Dan ibu guru Daniar pun tentu tak akan kuasa menyembunyikan bangga, ketika berpuluh tahun kemudian, ia tahu, muridnya, Yulizal Yunus, sang pengarang "Anak yang Baik" itu telah menjadi "orang". Si anak baik itu barangkali dirinya, yang ternyata sangat gemar mencatat saripati pengalaman empiris dan pertumbuhan intelektualnya sebagai anak bangsa, tokoh adat dan agama.

BUKABUKU-PADEKMINGGU

Pipi Kaki Lima


Enam jam menjelang tahun 2009, seorang ibu duduk di sebuah gerobak di atas trotoar. Tak ada pembeli. Sepi. Ia menatap kosong. Menunggu dan menunggu. Membiarkan detik itu berlalu dengan angkuh. Sementara di sampingnya ada penjual terompet beraneka warna, besar dan kecil. Orang-orang membeli. Roda dua, roda empat, berhenti dan memilihnya. Tawar menawar, meniupkan. Lalu lengkingnya menyayat hati. Ini entah tahun ke berapa, kejadian yang sama di tempat yang sama dan tahun saja berbeda.


Ia mengerti tentang tahun baru. Tentang pergantian waktu selalu disambut sorak sorai menjelang pagi. Ada pentas musik. Jalanan macet. Pesta kembang api. Acara musik di televisi. Dan beragam pesta pora untuk itu. Ia tahu, betapa bahagia orang-orang menyambut pergantian tahun.


Namun, ingatannya tertuju seputar penggusuran. Berapa kali kali ia digusur tahun 2008. Berapa kali harus berurusan dengan aparat. Berapa kali harus ke kantor seram. Digertak dan hentak!