Resensiator : Abdullah Khusairi
Tuesday, March 6, 2018
Lonceng Cinta di Sekolah Guru - Khairul Jasmi
Resensiator : Abdullah Khusairi
Tuesday, July 3, 2012
Biografi Prof. Dr. H. Amirsyah, MA
Pendidikan Modern Tak Membangun Teladan
--- Pendidikan modern telah membuktikan tidak membangun teladan. Pendidikan modern hanya mengisi wilayah kognitif, yang mengenyampingkan wilayah apektif dan psikomotorik. Pengaruh kapitalisme dan kebebasan informasi membuat peran pendidikan dalam membangun ummat melemah. Malahan, lebih berbahaya lagi, para pendidiknya juga ada yang hanyut dalam pengaruh zaman. Misalnya, kapitalisme yang menciptakan hasrat korupsi.Thursday, December 1, 2011
Seminar Internasional Dakwah Serumpun
Dakwah Sudah Jadi Entertainment
Abdullah Khusairi --- Padang
PADANG --- Kegiatan Dakwah sudah menjadi kegiatan entertainment. Masuk ke ranah industri media. Sudah ada gejala, kegiatan dakwah sekedar memenuhi kebutuhan hiburan semata, bukan lagi merujuk peran dakwah; mengajak untuk kebaikan dan menegah keburukan.
Inilah yang berkembang dalam Seminar Internasional Dakwah Serumpun yang digelar Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang, di Pangeran Beach Hotel, Sabtu (26/11).
"Di tengah arus informasi yang kian hebat ini. Kita melihat kecenderungan kegiatan dakwah tak lagi memperlihatkan taji. Ketika dakwah sudah tak lagi sakral, sekedar hiburan, harapan terjadinya perubahan atas dasar dakwah sulit terjadi,” ungkap Direktur Pendidikan Tinggi Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA ketika menjadi keynote speaker dalam seminar yang dihadiri dari empat negara tersebut.
Wednesday, July 20, 2011
Nyanyian Sumbang dari Temasek
Nyanyian Politisi Partai Demokrat, Nazaruddin dari negeri jiran, Singapura mengguncang aras politik negeri ini. Akibatnya, banyak yang tak enak makan dan tidur dibuatnya. Kampanye anti korupsi dari Partai Demokrat seperti boomerang untuk partai. Sementara, nyanyian itu terus menyatakan nama-nama yang terlibat. Senyatanya, Nazaruddin tidak ingin sendiri. Apalagi dikorbankan!
Suara Nazaruddin boleh jadi dianggap sumbang oleh Partai Demokrat. "Murtad" dari komitmen sebagai kader partai. Membuat murka Ketua Dewan Pembina. Namun di balik itu, sangat merdu bagi partai lain, apalagi bagi media. Agaknya, tak heran bila ada yang terus berkomentar: Teruslah bernyanyi, Nazaruddin! Biar makin jelas siapa sedang memainkan apa. Apa dimainkan siapa. Akhirnya, bagaimana dan seterusnya.
Saturday, July 16, 2011
Asosiasi Persma Sumbar Dideklarasikan
Aktivis Pers Mahasiswa (Persma), Jumat (25/3) di Kampus IAIN Imam Bonjol Padang, mendeklarasikan Asosiasi Persma Sumatera Barat. Asosiasi ini gabungan sembilan Persma yang ada di kampus-kampus perguruan tinggi di Sumatera Barat. Kehadirannya diharapkan menjadi media alternatif di tengah tumbuh kembangnya media mainstreem.
“Ini memungkinkan, Persma pernah melakukannya,” kata Syofiardi Bachyul JB, mantan pengelola Wawasan Proklamator UBH, kini bekerja di The Jakarta Post.
Pers mahasiswa adalah entitas penerbitan mahasiswa yang ada di kampus perguruan tinggi yang dikelola oleh mahasiswa. Pers mahasiswa di Indonesia sangat penting peranannya dalam gerakan sosial dan gerakan demokrasi.
Tuesday, April 26, 2011
DRS H AMRUL WAHDI MM
KABIRO AUAK IAIN IMAM BONJOL PADANG,
DRS. H. AMRUL WAHDI, MM
Pulang Ke Padang Membawa Perubahan
Pulang ke ranah sendiri bagi sebagian orang sebuah keputusan berat. Mengingat, rantau telah membuatnya besar dan eksis. Namun bagi Drs. H. Amrul Wahdi MM, pulang ke Padang dengan misi perubahan menjadi tekad yang kuat. “Tak hanya menghapus kerinduan tapi juga membawa sesuatu untuk sebuah perubahan,” ungkap Rang Luhak Limo Puluh ini. Apa saja tekad tersebut? Apa saja yang telah diperbuat selama setahun lebih di lembaga yang ia pimpin? Berikut wawancara khusus Abdullah Khusairi S.Ag M.A., dan Muhammad Nasir, S.S, M.A., beberapa waktu lalu.
Apa yang membawa bapak bisa kembali ke kampung halaman?
Jawabnya, kerinduan! Tapi lebih dari itu, ada tekad untuk lebih dekat dengan kampung halaman. Walau keluarga sudah di Jakarta semua. Jujur saja, setiap orang selalu merindukan masa lalunya. Masa lalu yang tak bisa dijemput kembali kecuali dalam ingatan saja.
Sunday, April 10, 2011
Apa Kabar Rektor?
Apa Kabar Rektor?
Oleh: Firdaus Diezo*
Sepertinya kualitas perguruan tingginya adalah pekerjaan rumah yang harus disegarakan, kalau tidak tentu makin menumpuk juga pengangguran. Harapan tentang perguruan tinggi yang berkualitas, kelihatannya bukanlah sebuah permintaan yang berlebihan, karena dari segi anggaran secara nasional mencapai 20 persen. Wacana-wacana serupa jurus-jurus mematikan dibeberapa seminar dari para pakar, hampir tidak ada yang mangkus. Tetap saja ada yang mengais dilahan basah itu, peserta didik adalah tumbalnya. Salah satunya di perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang.
Saya bukan ingin mencabik baju didada, tapi IAIN Imam Bonjol sebagai salah satu kampus besar di Sumbar harus mampu bebenah, harus dipimpin atau di urus oleh orang-orang yang serius. Kalau tidak IAIN Imam Bonjol akan kehilangan mahasiwa, serupa Kota Sawahlunto, Sumbar yang mendadak menjadi kota hantu, sekitar 7000 lebih penduduknya hijrah seketika sebab hasil tambang negeri itu sudaha habis dikuras. Sekarang kota tersebut, harus memulainya dari nol lagi, berharap bisa menjadi kota wisata tambang demi kelangsungan hidup anak cucu dikemudian hari.
Wednesday, March 23, 2011
Dr Muhammad Rahmad di Fakultas Adab
Agar Sukses, Mahasiswa Harus Aktif
"Ini menyangkut kemauan keras. Reformasi pemikiran sedari awal menjadi semangat kuat untuk maju. Tidak menerima keadaan apa adanya. Bergeraklah untuk merobah diri," ungkap Dr. Muhammad Rahmad, di hadapan ratusan mahasiswa Fakultas Adab dalam Studium General dengan Tema Membangun Masa Depan Mahasiswa IAIN dengan Berkarya di Berbagai Bidang, di aula Fakultas Adab, Kampus Lubuk Lintah, Rabu (23/3).
Monday, March 21, 2011
Bla Bla

Thursday, March 17, 2011
Dr. Riri Fitria, M.Ag, Menggugat Prof.Dr.H.Quraish Shihab
Batas aurat muslimah ketika sudah mengalami haid dalam pandangan para ulama bisa berbeda-beda, sesuai dengan landasan dan alasan masing-masing. Paling tidak, terdapat tiga pandangan para ulama soal aurat muslimah. Semuanya dipakai di berbagai belahan dunia.
Abdullah Khusairi ---- Padang
Pertama, ulama yang menyatakan seluruh tubuh muslimah itu aurat yang harus ditutupi, termasuk menutup wajah (dengan menampakkan mata) yang biasa disebut cadar. Kedua, ulama yang berpendapat bahwa aurat muslimah adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Ketiga, ulama yang berpendapat bahwa batas aurat muslimah diserahkan kepada budaya dan tradisi daerah masing-masing.
Tuesday, February 1, 2011
Senjata dari Rakyat Jangan Tembak ke Rakyat
“Kita menyelesali peristiwa ini. Kini, kita serahkan kepada aparat hukum untuk membuktikan. Siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa ini. Yang paling penting, jangan sampai terjadi lagi,” ungkap Calon Bupati Kabupaten Sarolangun, Drs. As’ad Isma, M,Ag ketika diminta komentarnya, seputar penembakan oleh aparat terhadap petani di Mandiangin beberapa waktu lalu.
As’ad menyatakan, peristiwa ini merupakan puncak konflik dari investor dengan rakyat. Ini membuktikan, lemahnya posisi masyarakat dalam perjanjian dan kesewenang-wenangan terjadi. Pada posisi ini, boleh jadi investor lalai dalam melihat persoalan.
“Kuncinya, komunikasi dari kedua belah pihak harus tetap dilanjutkan. Bukan hanya pada masa perundingan penanaman sawit saja. Hari-hari selanjutnya, adalah komunikasi intens atas itikad baik untuk kesejahteraan dan kebersamaan. Bukan hanya mengeruk untung sepihak semata,” tegas As’ad.
Monday, January 31, 2011
M. Fadlan Arafiqi Bin M. Zaki Jafar
Talenta Politiknya Dididik Alam
Abdullah Khusairi - Sarolangun
Lahir di Sarolangun, 23 Maret 1975. Kini jadi tokoh muda yang melesat. Itulah M Fadlan Arafiqi, Anggota DPRD Kabupaten Sarolangun Periode 2009-2014. Pendidikan dihabiskan di Sarolangun hingga Sekolah Menengah Tingkat Atas (SLTA). Setelah itu, ia melanglang buana. Jambi. Padang. Pekanbaru. Batam. Tanjung Pinang. Daerah terakhir ia mendapatkan isteri yang kini memberikannya dua putri.
Sosok muda yang memiliki pergaulan luas di Kabupaten Sarolangun ini, kini menjabat Ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor. Sebuah sayap organisasi dari Nahdatul Ulama (NU). Lewat itu pula ia masuk ke lingkaran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kini telah pula menyelesaikan gelar sarjana, yang kabarnya segera melanjutkan ke jenjang magister.
Friday, January 28, 2011
Kritik adalah Vitamin
PADANG --- Kritik yang baik adalah vitamin bagi kebaikan hidup. Bila kritik itu tak memiliki vitamin, apalagi ada virus fitnah maka tak perlu diambil. Virus harus dibuang. Oleh karenanya, di alam demokrasi ini, siapa saja boleh mengkritik, asalkan dengan cara yang elegan.
“Siapapun orangnya, jika diberi kritikan setajam apa pun, ia akan siap jika kritik tersebut memiliki kualitas dan beserta dengan solusi-solusi yang cerdas,” ungkap Deputi Direktur Eksekutif Sumber Daya Manusia (SDM) DPP Partai Demokrat, Muhammad Rahmad ketika berbincang dengan beberapa wartawan di Padang, Jumat (28/1).
Putra Kabupaten 50 Kota ini pulang kampung dalam rangka konsolidasi Partai Demokrat menghadapi Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sumatera Barat yang akan digelar beberapa waktu lagi.
“Jadi, tak ada alasan untuk menolak setiap kritikan, jika kita ingin maju. Lebih baik digunakan kritik itu sebagai bahan untuk memperbaiki diri dan kinerja,” jelas mantan diplomat di KBRI Singapura ini.
Sunday, January 16, 2011
Sejenak Bersama Cerpenis Damhuri Muhammad
Proses kreatif dalam dunia kepengarangan sangat ditentukan militansi seseorang dalam berjuang untuk eksis. Banyak orang yang tumbang, kalah karena cepat menyerah. Padahal, proses kreatif seni, baik sastra maupun seni lainnya, membutuhkan energi yang berlipat ganda.
“Saya merasakan bagaimana berjuang dalam proses kreatif, hingga berdarah-darah dan bernanah-nanah,” ungkap Penulis dan Editor, Damhuri Muhammad ketika berbincang-bincang dengan mahasiswa dan para penulis di Aula Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang, Sabtu (8/1).
Damhuri memaparkan proses kreatif yang dilalui dengan jalan berliku. Lain orang lain pula jalan yang ditempuh. Tergantung daya juang seseorang untuk melawan kekalahan.
“Saya merasakan, sebelas tahun lebih baru dapat sedikit kebebasan dan diberi ruang karena ada pengakuan sebagai penulis. Dan itu masih terasa relatif pula. Yang diperlukan adalah tetap eksis dan memiliki militansi untuk berjuang di ranah proses kreatif sastra,” ungkap Alumi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab 1993-1997 ini.
Menurutnya, sukses seorang penulis di negeri ini memang kadang-kadang dibawa pula oleh peruntungan. Tetapi yang paling penting adalah, menulis menjadi prinsip dan perjuangan.
Saturday, November 27, 2010
141 Ribu Rumah Segera Dibantu
PADANG - SINGGALANG Pada penghujung 2010 ini sebanyak 141.000 rumah ketegori rusak berat dan sedang harus sudah mendapat bantuan rehab rekon. Sebelumnya sudah selesai 7.634 unit. Pada 2011, sebanyak 33.361 unit mendapat bantuan serupa.
Bantuan rehab rekon pascagempa untuk rumah rusak berat Rp15 juta dan rusak sedang Rp10 juta. Pengelolaan dan penyaluran dana ini dilakukan pemerintah lewat kelompok masyarakat (pokmas).
Pada 2010, penyaluran dana dibagi atas tiga tahap. Tahap I untuk 7.634 unit rumah. Tahap IIa 22 ribu dan IIb 120 ribu unit. Rumah tersebut tersebar di berbagai kabupaten kota, terbanyak di Padang Pariaman.
Kepala Dinas Prasjal dan Tarkim Sumbar Dody Ruswandi dan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Rehab dan Rekonstruksi I, Fachruddin kepada Singgalang, Kamis (14/10) menyatakan kerusakan rumah memang terbanyak terdapat di Padang Pariaman, yaitu 74.222 unit. Rinciannya berat 57.931 unit dan rusak sedang 16.291 unit. Di posisi kedua Kota Padang dengan 69.413 unit, dengan rincian 33.597 unit rusak berat dan 35.816 rusak sedang.
Wednesday, November 3, 2010
Mellyarti Syarif
Ujian Promovendus Dr. Mellyarti Syarif, M.Pd.
Layanan Rumah Sakit Bagian dari Obat untuk Sehat
Friday, October 29, 2010
Mahasiswa dan Dosen AMIK-STMIK Jayanusa Belajar Jurnalistik
Dosen jurnalistik di IAIN Imam Bonjol Padang itu tampil atraktif dan interaktif dalam mengupas tuntas teori dan praktik jurnalistik. Dasar-dasar jurnalistik, penulisan sebuah berita, teknik menulis kreatif dan kode etik jurnalistik serta cara kerja seorang jurnalis.
"Dalam menjalankan tugasnya, jurnalis harus jeli dan peka melihat berbagai persoalan atau kejadian yang ada di sekitarnya," katanya.
Pada kesempatan itu, dia mendorong para mahasiswa dan dosen untuk aktif menulis, meskipun mereka bernaung dalam lingkup pendidikan komputer.
"Menulis apa saja, yang bermanfaat bagi kemaslatahan ummat" kata mantan Wakil Pemimpin Redaksi Posemtero Padang dan Redaktur Pelaksana Padang Ekspres itu.
Untuk tahap awal, sambung mantan Pemimpin Redaksi News Portal www.padang-today.com itu, karya tulis seperti berita, artikel, puisi, dan cerpen bisa diseleksi untuk dimuat di penerbitan kampus "Info Clik" yang ada di AMIK-STMIK Jayanusa.
"Setelah itu, baru beranikan diri mengirimkan karya tulisnya ke media-media lokal maupun nasional."
Ketua Yayasan AMIK-STMIK Jayanusa Irwan Kinun menyebutkan, workshop jurnalistik ini sengaja diadakan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa dan dosen tentang dunia jurnalistik hingga bagaimana menghasilkan suatu karya jurnalistik yang baik.
"Selain menambah pengetahuan bagi mahasiswa dan dosen, di kampus ini kita juga punya media kampus "Info Click" yang bisa dijadikan wadah bagi mereka untuk menyalurkan minat dan bakat di bidang kepenulisan. Setelah eksis nanti, diharapkan mereka bisa menulis di media massa luar kampus," kata Irwan Kinun didampingi Ketua Pelaksana Workshop Isnardi S.Kom.[] sumber: www.padang-today.com
Monday, October 18, 2010
Launching Buku Perempuan Bawang & Lelaki Kayu
Ulasan terhadap Perempuan Bawang & Lelaki Kayu karya Ragdi F. Daye
Oleh: Abdullah Khusairi, M.A.
Suatu hari, entah kapan, seorang mahasiswa menghampiri meja kerja saya di Harian Pagi Padang Ekspres. Dia kelak akhirnya jadi penulis! Ia datang bersahaja dan banyak bertanya. Lalu menyodorkan karyanya. Seterusnya, saya sering menelepon, untuk sekedar menyapa dan bertanya soal karya terbaru untuk halaman sastra yang saya asuh waktu itu.
Itulah Ragdi F. Daye, yang kita kenal hari ini, penulis Perempuan Bawang & Lelaki Kayu, yang kita bicarakan proses kreatifnya. Cerpen-cerpen di dalam buku ini, telah menempatkan Ragdi F. Daye bagian dari penulis yang lahir dari Ranahminang.
Sering sekali kami terlibat dalam diskusi tentang proses kreatif dan mengikuti banyak ajang lomba. Salah satu yang membuat salut kepada penulis satu ini, ia konsisten berjuang untuk eksis melalui seluruh kekuatan akses. Ia berhasil dan bisa menerbitkan buku ini. Selamat!
*
Membaca satu per satu cerpen yang terhimpun dalam Perempuan Bawang & Laki-Laki Kayu, ada beberapa catatan untuk kita diskusikan bersama. Catatan ini tak mengacu kepada teori kritik sastra. Selain tidak punya kompetensi, juga saya juga telah membaca epilog dari Bramantio yang sudah lengkap menelaah dari banyak sisi.
Sungguhpun begitu, bukan tidak ada celah yang dapat untuk diberi telisik dengan sasaran, menggali lebih jauh sisi lain kepenulisan dan tentu saja mendorong penulis buku ini, kita semua untuk terus menggali dan menggali hingga lebih “dalam” setiap tema kehidupan untuk mendapatkan “ma’rifat” dari kepengarangan.
Membicarakan karya sastra, biasanya tidak lepas dari tema, teknik, konflik, dan ending. Perempuan Bawang & Laki-Laki Kayu juga bisa dilihat di sisi ini. Saya selalu melihat hal ini sebelum memuat karya sastra. Antara satu penulis dengan penulis lain, selalu punya kelebihan tersendiri. Ragdi F. Daye, bagi saya, memiliki keragaman tema.
Pertanyaan awalnya, kenapa lahir sebuah karya? Inilah wilayah paling filosofis penulis melaksanakan kegiatannya. Dan jawaban paling mungkin tersebut adalah: Penyampaian Pesan! Pesan tersebut biasanya, keresahan, kritik sosial, sedihan, juga cita-cita. Alam idealitas seperti inilah yang kuat mendorong seseorang untuk menulis. Dari pengalaman kehidupan yang dimaknai dengan ketajaman naluriah maka lahirlah pesan dalam bentuk proses kreatif. Pelajaran yang dapat diambil dari buku Perempuan Bawang & Laki-Laki Kayu, betapa penulisnya memiliki banyak pesan yang ingin disampaikan. Namun jika diikat dalam sebuah kalimat pendek saja, perenungan panjang penulis tentang pengalaman hidup telah ditanak menjadi deretan cerita yang matang.
Tema-tema yang diangkat seputar kehidupan yang dimiliki memang enak dijalin jadi cerita. Minim sekali kesan, Ragdi F Daye bercerita hanya untuk cerita. Selalu ada “Sesuatu yang ingin dikatakannya.” Boleh jadi bentuknya pemberontakan, kritik social, perasaan penulis, dari apa yang telah diamatinya selama ini.
Teknik-teknik penceritaan yang kuat dengan narasi yang dibangun, telah membawa kita ke wilayah imajinasi sebuah tempat, perasaan, juga sikap dari tokoh terhadap suatu hal. Ini pula membuat kita tergelitik. Pada posisi ini, bagi sebagian orang teknik penceritaan tidak lagi penting.
Begitulah, termasuk dalam hal konflik. Perempuan Bawang & Laki-Laki Kayu bagi saya menawarkan konflik-konflik yang kadang tak lazim. Perdebatan dan kejutan yang diberikan, menunjukkan sikap penulis untuk menerangkan sesuatu. Di sini, segenap informasi tentang sesuatu itu dijelaskan secara mendalam. Baik melalui tokoh maupun melalui narasi bagi pengarang. Pengarang buku ini juga berhasil di sini menyelipkan kalimat-kalimat sastrawi. Memang terkesan minim, tetapi kalimat-kalimat yang dibangun sebagai narasi yang minim tetapi kuat.
Dan ini memang pernah kami bicarakan dalam sebuah diskusi di redaksi, Ragdi bertanya soal persiapan lomba untuk Creative Writing Institute (CWI-Kemenpora) 2006. Kebetulan setahun sebelumnya, saya ikut pelatihan CWI 2005 atas karya saya, Lima Puluh Ribu Rupiah yang Jatuh ke Ember Merah (La Runduma, 2005). Saya menjelaskan soal suspense dalam konflik. Juga kejutan demi kejutan yang harus dibangun dalam dramatisasi cerita. Kapan perlu di setiap paragraph. Ini ditangkap Ragdi dan Iggoy El Fitra waktu itu. Akhirnya Punggung karya Ragdi masuk nominasi dan termaktub dalam Loktong (CWI, 2006)
Pesan-pesan dalam buku ini sangat banyak dapat disimak. Bahkan, beberapa cerita mengisyaratkan "kenakalan" penulis memasuki wilayah pemahaman spiritualitas. Ironi pada "Mungkin Malaikat Asyik Berzapin" sangat jelas konstruksi masyarakat miskin kota dengan pemahaman agama yang sangat jauh dari harapan meraih kesalehan sosial. Dimana, keluarga terbengkalai hanya karena 'itikaf. Ini sebuah otokritik aliran-aliran dalam Islam. Saya salut kepada penulis mencari celah masuk yang menusuk terhadap pemahaman agama yang menelantarkan keluarga kecil Soka.
Cerpen Perempuan Bawang bagi saya, punya komentar, penulis ingin menuliskan ironi kemiskinan. Hidup berada adalah mimpi semua orang. Sementara garis nasib di ujung takdir tak bisa serta merta dialihkan. Sebab kekuasaan atas pasar tak bisa dimiliki oleh pedagang kecil. Sebentuk protes pada keadaan memang menjadi “material” cerita yang patut bagi penulis.
Cerpen Kubah. Sebuah realitas yang ditangkap penulis menjadi cerita dengan ketegangan yang cukup tinggi dan cepat. Dan saya ingat Dan Brown yang menulis Angels and Demons. Kepentingan ekonomi menyaru dalam masalah agama memang kadang-kadang membuat pengarang tertarik untuk mempertanyakannya; kenapa masih ada orang yang beragama tetapi tidak taat. Wilayah agama yang sudah terinstitusi juga kadang-kadang membuat birokrasi yang membuat kita harus memberontak karenanya.
Cerpen Jarak. Soal Solok-Padang memang banyak sekali ada dalam kumpulan cerpen ini. Tapi Jarak bagi saya adalah bentuk Malin Kundang versi abad ini. Tapi yakinlah, bahwa kerinduan atas akar asal selalu menjadi masalah bagi siapapun yang telah jauh melangkah. Ini terjadi baik di wilayah rohani maupun jasmani.
Ragdi F. Daye bagi saya dalam Perempuan Bawang, Kubah, Jarak, Lelaki Kayu, Di Solok Aku akan Mati Perlahan, Bibir Pak Gur Bengkok, Nostalgia, Seorang Lelaki dan Boneka, Seekor Anjing Yang Menangis, Rumah Lumut, Lekuk Teluk, Empat Meter dari Pangkal, Lereng, Mungkin Jibril Asyik Berzapin dan Rumah yang Menggigil, seorang penulis yang menganyam pengalaman dan pengetahuannya jadi cerita. Beberapa memang ada dari imajinasi liar dan kenakalannya bertanya. Misalnya, Seorang Lelaki dan Boneka.
Terakhir, kita mesti menunggu karya-karya dari penulis berkacamata ini. Saya sangat yakin, selepas ia menuntaskan masa lajangnya beberapa tahun lalu, dan telah punya keturunan, ada corak cerita baru yang ditawarkannya. Sebab, proses kreatif tidak bisa lepas dari suasana dari penulisnya. Terima kasih. []
Abdullah Khusairi, lahir di Sarolangun, 16 April 1977. Menye¬lesaikan pendidikan Srata 1 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang (Tamat 2000). Aktif di pers mahasiswa, Suara Kampus. Melanjutkan Strata2 Filsafat Islam Program Pascasarjana (PPs) di lembaga yang sama (Tamat 2008). Sejak tahun 2000 bergabung ke Harian Pagi Padang Ekspres, Padang TV (2007), Posmetro Padang (2008), Padang-Today.com (2009).
Tahun 2010 memasuki ke wilayah akademis. Jadi dosen. Di sela-sela kesibukan, menyempatkan diri menulis fiksi. Aktif di Majelis Sinergi Agama dan Tradisi (Magistra) Indonesia. Cerpen dan esai tercecer di La Runduma (CWI-Kepmenpora; 2005), Opera Zaman (Grafindo; Jogja 2006), The Regala 204 B (Grapuraja; Jogja 2006), Kumpulan Cerpen Khas Ranesi, (Grasindo, 2007), Taufik Ismail di Mata Mahasiswa (Horison, 2008), Sayap Bidadari, Memorilibia Gempa 7,9 SR Sumbar, (Fahima, 2010). Juara I Journalist Writing Competitions Tentang Terumbu Karang Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Sumbar 2009. Hingga kini intens menulis. Blog, www.ruangkita.com, email, abdullahkhusairi@yahoo.com.
Saturday, October 2, 2010
Gempa Sumbar
Kunci Pintu Sekali Putar, Apatisme yang Mekar
Monday, September 27, 2010
BERITA
Jum'at, 09 Oktober 2009 , 22:16:00
Wako Padang Minta Jawa Pos Group Jadi "PR"
JAKARTA - Wali Kota (Wako) Padang H Fauzi Bahar, meminta Jawa Pos Group berkenan jadi "Public Relations" terdepan dalam penanggulangan bencana gempa bumi berkekuatan 7.6 pada skala richter di Sumatera Barat, akhir September lalu. Dengan jaringan yang dimiliki Jawa Pos Grouo, diharapkan penyebarluasan informasi tentang rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana bisa dilakukan hingga seluruh pelosok tanah airm tempat para perantau Minang bermukim.
"Dengan jaringan koran terbesar di Indonesia, Jawa Pos Group tentu punya kapasitas untuk menyampaikan bencana dan rencana penanggulangannya kepada seluruh masyarakat di semua kabupaten/kota di Indonesia," pinta Fauzi Bahar saat menerima Direktur/penanggung jawab Jawa Pos Nani Wijaya dan rombongan di rumah dinas wali kota, di Padang, Jumat (9/10).
"Pemko Padang telah memilih perbaikan bangunan sekolah yang segera dilakukan. Dalam keadaan apapun, anak-anak harus tetap sekolah. Termasuk saat bencana ini, pendidikan tidak boleh berhenti," kata Wako Padang, kepada Nani Wijaya yang didampingi Pimpinan Umum Posmetro Padang H Wiztian Yoetri, Pimred Posmetro Sukri Umar, Pimpred Padang Today Abdullah Khusairi, Wapimpred Padang Ekspres Sulaiman Tanjung dan GM Padang TV Rita Gusveniza.
Terkait dengan kepentingan rekonstruksi pendidikan itu, media di bawah Jawa Pos Group bisa menyampaikan informasi kepada perantau Minang, bahwa di Kota Padang setidaknya sekitar 1.108 ruang kelas rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Dimana kerusakan paling dominan terjadi di sekolah dasar dengan jumlah yang hampir mencapai 673 ruang kelas.
Dijelaskan Fauzi Bahar, untuk membangun 673 ruang kelas baru, dibutuhkan dana US$ 14 ribu. Asumsinya, satu ruang kelas dengan luas 73 meter persegi menghabiskan dana sebesar Rp144 juta. "Jumlah tersebut sesungguhnya tidak terlalu signifikan, jika partisipasi dan bantuan diarahkan untuk sektor rekonstruksi pendidikan itu. Bagi donatur, silakan pasang logo perusahaan atau nama pribadi di sekolah yang dibangunnya," ujar Fauzi.
Guna memperlihatkan kesungguhannya untuk memprioritaskan rekonstruksi ruang pendidikan tersebut, Fauzi Bahar menjelaskan bahwa saat ini sudah ada tawaran dari Westerfield Sdn BhD, Malaysia untuk pembangunan sekolah. "Perusahaan mampu membangun 1.108 ruang kelas baru dalam lima hari saja dengan bahan dan material bangunan ringan, tahan gempa," kata Fauzi Bahar.
Sementara Eksekutif Direktur Westerfield Sdn BhD, Ahmad Effendi Abdullah, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut menjelaskan, biaya pembangunan ruang kelas baru yang akan dibangunnya lebih rendah 30 persen dibanding bahan biasa. "Kami menggunakan bahan composit sebagai material bangunan. Material ini merupakan bahan daur ulang yang berisi sabut kelapa, jerami padi dan bahan alam lainnya. Produk terbaru ini dibuat oleh insinyur Australia. Materialnya anti-rayap, gempa dan air. Kalau tsunami datang, bahan ini bisa menjadi pelampung," ujarnya.
Sedangkan Nani Wijaya pada kesempatan itu menyebutkan, bantuan Jawa Pos berbentuk makanan disalurkan ke daerah Pariaman yang menjadi daerah terparah akibat gempa. Sedang untuk Kota Padang, Jawa Pos berpartisipasi dalam bentuk tim medis yang ditempatkan di rumah sakit terapung di Pelabuhan Taluak Bayua. Sedang terkait permintaan Fauzi Bahar menjadikan media di bawah Jawa Pos Group sebagai penyampai informasi bantuan, disambut positif Nani Wijaya. (har/fas/JPNN) sumber: http://www.jpnn.com/berita.detail-51083

