Sunday, March 22, 2020

#SERIKULIAHAN

Menulis Seperti Berbicara 

ABDULLAH KHUSAIRI

Begitu banyak kiat-kiat menulis yang tersebar di online ini. Mahasiswa-mahasiswi hari ini sangat beruntung dengan keadaan ini. Sayangnya, terlalu menikmati copy-paste tanpa ingin sedikit berpeluh. Copy-paste tanpa menyebut sumber itu laku buruk. Plagiat. Mencuri. Semua itu akan berakhir buruk dalam dunia kepenulisan. Buruk bersebab tidak ada pengembangan narasi. Niatnya mau jalan pintas, cari dan copy-paste tidak mengembangkan nalar. 

Tulisan ini ditulis langsung tanpa dikonsep lebih dahulu. Ditulis seperti berbicara kepada seorang kawan yang sedang berhadapan. Bedanya, saya berbicara dalam hati lalu mengetiknya dengan cepat. Ini dimungkinkan ketika kemampuan tangan saya yang dilatih untuk bekerja sesuai irama yang saya pikirkan. Berbeda dengan orang yang tidak mampu mengirim pesan kepada jari-jarinya di keyboard, akan sangat lamban merealisasikan apa yang dipikirkan. Ini persoalan teknis yang menyakitkan bagi yang malas belajar sebentar soal mengetik cepat. Padahal semua tinggal googling. 

#SERIKULIAHAN


Pengalaman Menulis 


ABDULLAH KHUSAIRI

Setiap kata perlu dipertanggungjawabkan. Setiap ketukan jari terhadap huruf di keyboard adalah sejarah. Setiap kalimat yang dibangun menunjukkan siapa penulisnya. Setiap tulisan dalam bentuk karya adalah sidik jari penulisnya. Jika masih ada stupid mistake maka sebuah naskah belum layak dihidangkan kepada khalayak. 

"Goblok!" kata Prof. Dr. Azyumardi, MA, CBE suatu ketika di dalam kelas kuliah di Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat. 

Saturday, March 21, 2020

Work from Home

HIKMAH COVID-19 


Inilah hikmahnya sebuah kebijakan pemerintah. Bisa banyak di depan laptop, di rumah. Saya bisa menulis bebas. Blog ini dibuat untuk menumpahkan apa yang dirasakan, dipikirkan, serta hal-hal yang mungki dibagikan ke ruang publik. 

Virus Corona dengan nama kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) mewabah menjadi ketakutan yang berlebihan. Bersebab informasinya tidak terkendali sehingga menyaru banyak kepentingan politik, kepentingan ekonomi, di balik berita-berita yang sebenarnya berawal sangat netral. 

Wednesday, February 19, 2020

curhat

Curhat. tadi kuliah pertama. produksi media komunitas. empat kelas, sejak pagi. di lokal D10. lokal terang benderang dari arah dalam keluar dan sebaliknya. parkir kelihatan. ibu-ibu kebersihan ribut. dangdutan dari kantin seberang jalan. saya usul, agar ada tirai biar tak badmood mengajar. saya kira, kita memang belum banyak berubah. saya sedih. dibanding ruang dekan yang baru saja direnovasi. kontras. indah dan nyaman. salam.

Thursday, February 6, 2020

Cerita Baru Inyiak Canduang dan Buya Hamka

DUA NOVEL TENTANG ULAMA DITERBITKAN

Cerita Baru Inyiak Canduang dan Buya Hamka 

Ini berita baik bagi pencinta buku dan penikmat novel. Kali ini dua sastrawan, Khairul Jasmi dan Akmal Nasery Basral menerbitkan karya terbarunya. Khairul Jasmi menulis tentang jejak rekam kehidupan Syeikh Sulaiman Arrasuly yang dikenal dengan Inyiak Canduang. Sedangkan Akmal Nasery Basral menulis tentang sisi lain Buya Hamka. Dua novel ini diterbitkan oleh Republika Penerbit. 

ABDULLAH KHUSAIRI 

Inyiak Canduang dikenal seorang ulama pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah, yang lahir dan besar di lereng gunung. Belajar mengaji ke Batu Hampar di waktu kecil. Lalu seterusnya belajar hingga ke Mekkah. 

Sulaiman kecil memang disiapkan menjadi orang besar. Menantang zaman, menjemput asa. Begitulah kisah dimulai oleh Khairul Jasmi dalam novel yang diberi judul "Inyiak Sang Pejuang." Kisah-kisah jenaka Sulaiman kecil dipungut dan diceritakan menjadi enak dibaca. 

Melalui riset yang panjang, Khairul Jasmi menulis kisah-kisah kecil Inyiak Canduang dan diterbitkan RepublikaPenerbit di awal tahun ini. Menurut Khairul Jasmi, nama Inyiak Canduang sangat harum di seluruh penjuru negeri ini. 

Saturday, January 4, 2020

Jangan Buang Hajat Sembarangan

BURUKNYA AKSES SANITASI

BABS Bisa Bikin Stunting


Buang Air Besar Sembarangan (BABS) karena buruknya sanitasi rupanya bisa bikin geger. Salah-salah bisa menimbulkan stunting atau kekerdilan kepada manusia. Sedang Sumbar termasuk daerah yang sanitasinya buruk.

Padang --- Jangan pernah berpikir bahwa meski kakus sudah bersih lalu semua yang bertalian dengan pencernaan akan baik-baik saja. Budaya mengabaikan sanitasi akan berakibat buruk pada tubuh, bahkan tak jarang akan berakibat munculnya stunting.

Maka dapat dibayangkan pula bila kakus tak bersih, akses sanitasi buruk, akan melahirkan generasi yang buruk dan tidak sehat. Oleh karenanya, diperlukan upaya besar-besaran dan kerja keras semua pihak khususnya di Sumatera Barat untuk memperbaiki semua ini. Urusan ini tidak hanya urusan yang jadi tanggung jawab Dinas Kesehatan saja melainkan tanggung jawab semua pihak.

Demikian benang merah dari diskusi seputar burunya sanitasi Sumbar yang digelar di Hotel Pangeran Beach kemarin oleh Forum Editor, PKBI, LP2M dan SNV.

Wednesday, January 1, 2020

#SERIJEJAKULAMA


Ki Ja'far Hasan
Jejak Ulama Sarolangun


Buku Jaringan Ulama Nusantara Awal Abad XVII dan XVIII, magnum opus Profesor Azyumardi Azra telah diterbitkan berulang kali untuk memenuhi kebutuhan keilmuan sepanjang masa. Buku ini mengurai secara detail dengan fakta-fakta yang kuat tentang kiprah para ulama di Nusantara. Sayangnya, sejak diterbitkan pertama 1994 hingga edisi revisi berulang kali, belum ada penelitian yang menonjol dan diterbitkan untuk melengkapi jaringan ulama itu ke pelosok-pelosok. Padahal, peran ulama-ulama yang belum tertulis tersebut begitu besar melahirkan generasi baru, para akademisi yang hadir hari ini.

Catatan di atas lahir begitu saja ketika beberapa waktu lalu mendapat kabar dilantiknya Dr. Rafidah, SE, ME sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.

Siapa Dr. Rafidah, SE, ME ini? Dia seorang dosen, doktor bidang ekonomi jebolan Universitas Tri Sakti. Putri Sulung Dr. Rafi'i Nazari (alm.). Siapakah Rafi'i Nazari? Dia jebolan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah tahun 1990/1991. Lahir di Sarolangun, Desember 1942. Wafat Agustus 1990. Rafi'i Nazari pernah pula menjabat Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi tahun 1978 dan  menjadi anggota DPRD Provinsi Jambi tahun 1979-1982.

Tuesday, December 31, 2019

MENULIS RESOLUSI 2020

LAWANG PARK ONE STOP ADVENTURE

Akhir Tahun ke Negeri di Awan


Desau angin di pohon pinus menerabas kesunyian. 
malam beranjak lambat...
#lawangpark

Senin, 30-31 Desember 2019 mendapat kesempatan untuk merasakan denyut kehidupan di Lawang Park One Stop Adventure. Kami sekeluarga pulang beberapa jam sebelum tarikh berubah menjadi 2020. Inilah kesempatan untuk menyusun resolusi tahunan. Menjalankan perenungan perjalanan sepanjang tahun 2019. 

Akhir tahun 2019, hari-hari libur bagi banyak orang. Ada juga yang tidak. Tenggelam dalam rutinitas yang entah kapan berhentinya. Setiap orang punya pilihan. Bebas memaknai dan menjalani hidup ini. 

Seingat saya, sudah beberapa kali tawaran agar ke Lawang Park oleh tokoh pariwisata Sumbar, Moh. Zuhrizul. Saya menolak dengan berbagai alasan kesibukan. Seminggu yang lewat saya terjebak, ketika menanyakan tentang Lawang Park. 

Monday, December 30, 2019

#SERILITERASI

Disrupsi Media Massa

Dr. Abdullah Khusairi, MA

Zaman kemerdekaan sampai tahun 1980’an, pemilik-pemilik media adalah wartawan-pejuang dan pejuang-wartawan, sehingga idealismenya sangat kuat. Hari ini pemilik media kebanyakan tokoh-tokoh bisnis, yang banyak kepentingan dan sangat mudah ditekan oleh kekuasaan. Qua vadis press Indonesia. 


Demikian cuitan dari seorang seorang tokoh lewat akun @RamliRizal. Maksud pernyataan ini dapat diambil maknanya, betapa mudah pers tunduk pada tekanan kekuasaan karena dimiliki bukan dari kalangan wartawan-pejuang dan pejuang-wartawan. Padahal, pers diharapkan dapat menjadi watchdog bagi demokrasi. Penggonggong dari penyelenggara negara. Pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Itu idealnya. 

Kini, setelah pers memasuki wilayah industri informasi telah bergesar dari perjuangan idealisme ke perjuangan komersialis. Lembaga pers memang memiliki dua sisi itu, sebagai lembaga yang didirikan pemiliknya untuk mendapatkan kepercayaan (trust) publik dan hidup di tengah publik karena disokong iklan karena trust. Iklan datang karena trust. Program televisi yang berkualitas akan antri karena iklan. Media yang kritis, mengakomodasi kepentingan dan aspirasi publik akan menjadi tumpuan bagi publik. Tumpuan harapan menekan pihak kekuasaan untuk menjalankan aspirasi mereka. Itulah idealnya.

Friday, December 27, 2019

AKHIR TAHUN 2019

Thanks to Allah. Alhamdulillah. 
Menatap 2020 dengan segenap harapan baru. 
Setelah melalui 2019 dengan kerasnya ombak dan badai. 
Dua tiga harapan telah tergenggam.
Terima kasih kepada 
segenap orang-orang tercinta, tersayang, terhormat, yang telah memberi banyak hal. 
Hidup memang tak bisa sendiri, walau hati kadang ingin menyepi. 
Menjadi elang, terbang tinggi melawan angin. 


Thursday, December 5, 2019

LITERASI MEDIA

LITERASI MEDIA 

Ketika Kebodohan Telah Tiba 


ABDULLAH KHUSAIRI 

"Jurnalis itu tahu banyak hal tapi serba sedikit, sedangkan Akademisi itu tahu banyak hal tapi satu bidang saja." 

Istilah ini lahir berdasarkan fakta-data yang ada pada jurnalis dan akademisi. Lalu menjadi pendapat umum untuk membatasi ruang gerak lahan masing-masing. Terserahlah. 

Namun demikian, pernyataan di atas bisa digugat sepanjang ada data-fakta baru. Misalnya, kadang-kadang di lapangan, ditemukan juga jurnalis tidak tahu banyak hal. Tidak semua jurnalis bisa dianggap profesional, sepanjang belum ada pengakuan dari lembaga penilai sertifikasi atau dikenal dengan kompetensi. 

Di kampus, sebaliknya, ada juga dosen yang tidak mendalam dalam satu hal sesuai dengan bidang secara tertulis mesti dikuasainya. Kemudian, banyak juga dosen belum mendapat pengakuan profesional, sepanjang belum mengikuti mendapatkan sertifikat. 

Saturday, November 9, 2019

MAYA LESTARI GF

Selamat, MAYA LESTARI GF
Juara I Lomba Blog Pendidikan Keluarga



Saya bangga mengikuti perkembangan kiprah kepenulisan ibu tiga anak yang pernah jadi mahasiswi saya ini, di Prodi Jurnalistik & Kehumasan Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN (kini, UIN) Imam Bonjol Padang.

Thursday, November 7, 2019

catatan

Catatan yang Tercecer 


Puncak pendidikan itu bergelar doktor. Dua huruf  yang disematkan di depan nama. Sebuah capaian yang sebenarnya tak pernah terbetik di waktu kecil. Perjalanan telah menggiring langkah ke sana, pergi dari dunia profesi yang sejak awal sudah digandrungi. Berawal dari menekuni dunia tulis menulis lalu menjadi profesi yang mengasyikkan. Entah itu wartawan, sastrawan, budayawan, seniman, menulis dan membaca adalah pokok kerjanya.

Tulisan Wartawan Utama, Khairul Jasmi di Harian Umum Independen Singgalang, Wartawan Senior Wiztian Yoetri di Harian Pagi Padang Ekspres dan tulisan salah seorang guru, Dr. Sheiful Yazan, M.Si, Dt. Mangkudun di Harian Khazanah telah menggugah saya untuk menulis. Saya terharu karena tiga nama di atas orang-orang yang saya hormati. Banyak sekali bantuan dari mereka hingga sampai ke puncak pendidikan yang memang tidak semua orang mau menuju ke sana kecuali atas desakan kewajiban karena sebagai seorang dosen.