Thursday, April 10, 2008

TIM (TIDAK) SUKSES

Ini cerita yang bakal ada diakhir Pilkada Nanti. Cerita Tim Sukses yang kini sedang semangat-semangatnya "menguras" dana kampanye dan mengelu-elukan calon mereka. Yang seakan-akan tidak ingat, yang menang cuma satu pasangan. Empat pasang lainnya tentu saja harus mengakui dan ikhlas dalam pertarungan ini.


Optimisme yang saat ini terbangun tentu harus didorong dan diaplikasikan sedemikian rupa. Disampaikan dalam berbagai rapat, segala terobosan dan jurus jitu. Mulai dari "mengambil" statemen tokoh kharismatik maupun tokoh struktural-fungsional hingga turun ke nagari, jorong. Ya, semuanya menjadi sangat mungkin, semuanya bisa mencapai finish lebih cepat dari yang lain.


Sejauh ini, memang belum ada yang tumbang semangatnya. Belum pula ada laporan kepolisian, ada Tim Sukses yang stress karena Pilkada. Yang ada cuma tidak puas dengan hasil klarifikasi dan ketetapan di KPUD. Tapi biarlah, itu sudah masuk wilayah hukum. Ikuti proses dan hormarti hukum, itulah warga negara yang baik.


Kita tentu tertuju pada lajur lomba, melihat siapa yang sudah masuk arena. Siapa yang mencuri strart, siapa yang memang memiliki kemampuan lebih dari yang lain dalam segi teknik, tenaga dan aura kepemimpinan.


Ya, susah ditebak. Semuanya memang memiliki kekuatan dan kelemahan. Tim Suksesnya pun memiliki jurus-jurus mutakhir untuk memainkan peran. Untung saja, jurus dewa mabuk tak digunakan, karena berbahaya dan terlalu dini. Konon, jurus mabuk itu, selain lawan tidak tahu kemana langkah dan strategi, tentu orang sedang menjalankan jurus tersebut sedang tidak sadar, jurus apa yang dipakai, sebab sedang mabuk.


Lalu, diakhir penghitungan suara, saat detik-detik penetapan siapa yang menang, maka banyaklah yang menepuk kening. Mereka yang hobi taruhan, menang akan tertawa, yang kalah menepuk kening lagi. Setengah percaya-setengah tidak, kenyataan tentu saja harus diterima demi Pilkada Badunsanak.



Ya, paling-paling optimisme selama ini yang dipatahkan dengan kekalahan akan mengawali sadar seorang Tim (Tidak) Sukses nantinya. Tentu banyak alasan dan kekesalan muncul. Seharusnya, jangan pernah mencari alasan. Akui saja kekalahan kepada calon, bahwa kerja Tim Sukses memang sedang tidak sukses. Dana yang terkuras memang benar-benar sudah digunakan dengan baik, rakyat memang belum berkenan. ***
abdullah.khusairi@gmail.com

AYAT-AYAT KEMISKINAN

"Aku tak punya sepatu, maka aku menggerutu, sampai aku menemukan orang yang tak memiliki kaki." [Rosihan Anwar, Menulis Dalam Air, 1983]

Pernyataan 'eyang wartawan Indonesia' itu memiliki makna yang dalam. Jangan cepat menggerutu jika tidak memiliki sesuatu. Lihatlah orang lain, bisa lebih parah kondisinya dari kita tetapi tidak menggerutu sedikitpun. Dan memang, tak selalu harapan sesuai dengan kenyataan.

Pernyataan ini berhubungan khusus dengan masalah kemiskinan. Ukuran rasa kekurangan dengan kelebihan pada seseorang tergantung bagaimana cara berpikirnya. Jika cara berpikir yang sempit, maka ia akan merasa miskin selalu, walau sebenarnya ia memiliki segalanya. Tetapi ada juga yang merasa kaya, tetapi tidak memiliki apa pun. Nah, relatif sekali.

MIMPI TUA

Baginya, membuat pagi menjadi indah cukup cuci muka, kopi dan rokok kretek yang dinyalakan lalu dihisap. Maka merebaklah aroma racikan
tembakau ke seluruh ruangan dihembus gemulai angin pagi bersama aroma kopi hangat. Dan pagi sangat indah sekali terasa...??
Begitulah, aktivitas pagi hari Tuan Leman semenjak masuk masa pensiun beberapa tahun silam. Menikmati embun dan harum melati di beranda
bersama sang istri. Mengenang masa muda yang bergelora, masa jaya yang bergairah. Pagi dengan rindang pepohonan di halaman rumah,
mentari mengintai di balik daun-daun Melinjo. Kuning keemasan sinarnya menerpa kaca jendela yang kusam, lama tak dibersihkan. Keok
ayam dan itik memberikan nada desa yang pasrah.
Kakek enam cucu dari lima anak ini benar-benar sangat menikmati hari- hari setelah pengabdiannya sebagai seorang pejabat. Sisa ketampanan
di raut wajahnya masih tampak tegas. Gaya berbicara yang dulu berapi- api sesekali masih tampak. Kini sudah bertambah pula dengan nyinyir.
Pertanda melewati usia tua.
Sayangnya, selama pensiun, tak lagi ada tempat resmi untuk berbicara di depan khalayak. Hanya sesekali ia mendapat kesempatan bisa
mengekspresikan dirinya secara tidak resmi jika bertemu teman lama atau kedatangan tamu. Satu tempat yang sering menjadi ajang pertemuan
itu adalah tempat mengambil dana pensiun. Bila bulan muda tiba, semangat muda juga datang, maka ia berangkat ke bank itu dengan
segala keceriaan pagi. Di sana ia bertemu teman lama.
Dan, menjelang siang, dia akan bercerita panjang lebar tentang dunia yang pernah di dalam kantong celananya. Di hari-hari biasa, ia lebih
banyak membaca koran, mendengar radio, menonton televisi. Sesekali melagukan dengan sumbang tembang lama yang populer pada masa mudanya.
Begitulah lelaki berkaca mata tebal ini menelan hari demi hari. Tak banyak lagi kesibukan menghukumnya. Dari luar tampak ia menyimpan
kebahagiaan dan ketentraman. ***
Kedamaian Tuan Leman tiba-tiba terusik beberapa hari terakhir. Ia diusik oleh mimpi yang berkelibat setiap tidurnya yang sudah beberapa
kali datang. Mimpi ini membuat Tuan Leman berkeringat dingin sesudah mimpi berlalu. Bagaimana tidak? Tuan Leman didatangi seorang laki-
laki yang menawarkan Tuan Leman menjadi tuhan. Persyaratannya tidak terlalu susah untuk dipenuhi Tuan Leman. Begitu persyaratan dipenuhi,
ia segera menjadi tuhan.



Dipilihnya Tuan Leman karena ia pernah menduduki jabatan strategis di
masa-masa sulit. Ia berhasil membawa masyarakat hidup makmur.
Begitulah lelaki dalam mimpi itu memberi alasan.



"Untuk itu, tak ada alasan, Anda segera menjadi tuhan dan penuhi persyaratannya!" Lelaki itu berlalu dan Tuan Leman terjaga. Tak ada
kesempatan Tuan Leman untuk bertanya lebih lanjut ketika laki-laki itu datang. Bila ia terjaga, keringat dingin mengucur deras dari
tubuhnya yang segera ringkih. Wajahnya pasi.


"Benar-benar konyol. Tak mungkin, itu tak mungkin." Tuan Leman menyatakan keresahannya sambil geleng-geleng kepala.


"Ah, jangan terlalu percaya. Mimpi adalah bunga tidur, kenapa diambil pusing pula," sang istri menyela. Ia mencoba untuk menenangkan suaminya.


Ia tahu suaminya tak bisa begitu saja terpengaruh. Hanya saja, suaminya acap terjebak dengan hal-hal sepele. Itu sering terjadi.


"Tetapi, jika mimpi itu bunga tidur. Bukankah sering terjadi, mimpi juga akan berbuah kenyataan? Nah…," ungkap Leman membantah kenyataan demi kenyataan dan hukum akal yang bermain di kepalanya.



Sang istri yang mengerti luar dalam tentang suaminya mengurut dada. Ia memahami ambisi masa muda sang suami memang belum pudar, walau waktu memakan usia. Ia tahu betul, obsesi, harapan, apa saja atas nama untuk ketenaran dan kekuasaan membuat dada suaminya panas. Keinginan berkuasa Tuan Leman ini memang besar. Ia dengan strategi apa pun akan berusaha untuk mendapatkannya. Termasuk menggunakan seni dan strategi perang ala Sun Tzu. Dalam banyak pidato ia mengutip Sun Tzu: Pertahanan yang baik adalah menyerang. Sadar posisi diri, kawan dan lawan. Naluri yang tajam dan peka terhadap kompetisi politik.
***
Mimpi itu terus-menerus mengganggu Tuan Leman. Sayang sekali, setiap mimpi itu datang, Tuan Leman tak bisa berbicara dan berkomunikasi dengan laki-laki dalam mimpi itu. Lama-lama Tuan Leman jadi ketakutan, keheranan bercampur dalam kebingungan.


Dalam pemikiran sehat yang datang pada Tuan Leman, orang kaya pemilik tanah dan sawah ini memang tak bisa menerima apa pun terhadap mimpi itu. Ia berusaha untuk melupakannya. Tetapi, sejauh ia berusaha untuk melupakannya, sedekat itu pula ingatannya datang terhadap mimpi itu. Diam-diam ia jadi tertarik untuk menjalankan tawarannya itu. Menjadi tuhan? Sesuatu yang sangat tak mungkin, tetapi betapa hebatnya kalau itu bisa terjadi.


"Itu benar-benar bunga tidur. Tidak akan pernah berbuah," tegas Tuan Leman dalam ragu dan mau yang mengganggu. Enggan berkelindan menggerus rayu mendayu. Tuan Leman berjalan di pematang yang kecil ketika padi masih baru ditanam, angin deras seperti segera badai. Ia seperti ayam termakan sepotong rambut. Diam merenungi mimpi yang selalu datang.


Melihat gelagat yang tidak baik akhir-akhir ini suaminya, sang istri resah. Gelisah. Ada keinginan untuk memanggil psikiater untuk suaminya tetapi ia takut suaminya marah. Ingin juga menelepon anak- anak di kota, tapi apakah itu mungkin, Lebaran saja mereka jarang pulang. Karena takut, ia coba memendamkan semua kemauannya demi menjaga hati suaminya yang sedang dihadang gelombang.


Sebenarnya, ia bangga sekali dengan kesuksesan sang suami. Hingga saat ini ia kagum dengan nama besar suami tercintanya itu. Amat banyak pujian untuk suaminya, ia dengar langsung dari orang-orang yang datang kepadanya. Walau tetangga sempat mengungkapkan kalau- kalau suaminya mengidap post power syndrom. Ketika kekuasaan tak ada lagi di tangan, membuatnya sedikit mengalami gangguan kejiwaan.


"Tetapi aneh, kenapa baru sekarang. Ia sudah lama pensiun. Lima tahun lalu," sang istri mencoba mengungkap alasan kepada dirinya sendiri.


Orang mengenal Tuan Leman seorang yang sukses dalam banyak hal. Ia kaya pengalaman baik-buruk, asam-garam dunia. Tetapi yang sangat diingat orang, ketika ia sedang berkuasa, perintah yang datang dari mulut dan telunjuknya harus diselesaikan sesuai dengan maunya. Tak mau mendengar alasan jika ada kegagalan. Sungguh kadang-kadang tidak masuk akal. Satu lagi, ia paling tak suka orang yang membantah. Ia benar-benar sok tahu. Padahal, mungkin saja dalam banyak hal bisa diketahuinya, tetapi dalam satu hal harusnya ia belajar dan bertanya pada ahlinya. Itulah yang tidak berlaku pada Tuan Leman. Tetapi, kelebihannya, ia solider. Kalau ada temannya yang sedang kesusahan, bukan kepalang dia akan menolong. Ia tak perhitungan kalau sudah begitu. Sayangnya, kalau sudah dirayu dan dipuji, ia sering kali lupa diri, maka alamat habislah dana taktis yang harusnya ia manfaatkan untuk hal yang lebih baik. Itulah beberapa hal dari sekian banyak ingatan orang terhadap Tuan Leman yang sukses. Sekali lagi, masa lalunya adalah pahit, manis, dan getir..?


Suatu hari pernah terjatuh akibat sakit kepala yang sangat parah bersamaan dengan naiknya asam urat yang ada di tubuhnya. Ini persis seperti orang besar seperti Napoleon Bonaparte, yang tak takut dengan seribu tentara, tetapi sangat takut dengan surat kabar. Tuan Leman memang tak kuat dikritik, ia jatuh ketika membaca tajuk rencana sebuah surat kabar yang menusuk dadanya.


Orang besar tak selalu berdjiwa besar. Orang pintar seringkali bertingkah seperti kekanak-kanakan. Orang bidjak memang banjak tapi soesah dicari. Karena itu, kekoeasaan itu candoe, ia tak bisa lepas setelah mendapatkannya. Orang-orang jang selalu meminta pengakoean atas kepintarannja. Biasanja adalah orang bodoh. Dan, orang yang selaloe berkoar-koar sok tahoe biasanja dia tidak tahoe apa-apa. Dan, amatlah soesah saat ini, mencari orang yang adil kepada seorang moesoeh, sebuah tindakan terpoeji pada zaman nabi. Wahai bapak pedjabat! Bersikap baik, lebih baik dari pada memboeat diri menderita dan orang lain tertawa. Walau kau bentji pada seseorang, djangan sesekali berboeat tidak adil padanja, karena, doa orang jang dizhalimi sungguh didengar-Nja. Itulah seboeah derita ketika kedjoedjoeran mendjadi djalan hidoep nantinja. Wahai, boeka kaca mata keloearlah dari roeanganmu, pandanglah doenia.



Akibat membaca tulisan itu, Tuan Leman dibawa ke rumah sakit. Ia terbaring selama empat hari. Pulang sebelum benar-benar pulih karena permintaan anak bungsunya yang bongsor. Itulah salah satu episode hidup sang tuan yang waktu itu cukup mengerikan bagi banyak orang.
"Ia cukup tegar," cerita salah seorang temannya. Hanya saja, begitu ia pensiun, satu satu orang-orang terdekat Tuan Leman menghilang bak ditelan bumi. Semua saluran komunikasi putus. Hal ini membuatnya pulang ke kampung halaman dan menghuni rumah tua yang sudah lama ditinggalkan sanak saudaranya dulu. Cucu dan anak-anaknya pun tak banyak memberikan support, hanya sapaan lewat telepon seadanya, jika diperlukan.
*
"Kalau memang benar mimpi itu, saya tunggu nanti malam. Saya bersedia memenuhi persyaratannya," ujar Tuan Leman di tengah kebingungannya.
Istrinya tambah bingung.
"Pak, coba Bapak ke orang pintar dulu," usul istrinya, sambil melirik polos ke sang suami. Sisa kemesraan masa muda yang masih mengilau.



"Untuk apa kalau hanya membuat mereka tertawa. Sekarang saya akan menikmati mimpi itu kalau ia datang. Saya siap lahir batin,"
ungkapnya yakin dan tak goyah sedikit pun. Masih tetap ada nada kebimbangan.


Malam yang gelap. Kelam yang hitam. Entah kenapa mimpi itu tak pernah datang. Tuan Leman menanti-nanti dan mencoba untuk tidur secepatnya, namun percuma mimpi itu tak pernah datang. Hal ini pula yang membuat Tuan Leman bertambah bingung. Ketika kemauannya menjadi tuhan memuncak, justru mimpi itu tak datang-datang. Diam-diam, istrinya lega dengan mimpi yang tak pernah datang lagi ke suaminya.


Bagi Tuan Leman, ini seperti sebuah penghinaan kepada dirinya. Tetapi siapa yang harus dimarahi? Ketika mimpi itu tak datang lagi untuknya.



"Ke mana kau wahai laki-laki dengan wajah kelam?" ujarnya geram, ketika akan tidur. Matanya tak mau terpejam. Diam-diam Tuan Leman
beranjak bangkit dari pembaringan. Ia keluar kamar hati-hati sekali, takut istrinya bangun. Ia ke dapur mencari sesuatu. Malam amat pekat.
Ia meraba-raba dan mendapatkan hulu belati.



"Crassh." Ia menusuk dadanya dengan belati itu. Di gelap malam yang hening, Tuan Leman menggelepar-gelepar di dapur meregang nyawa. Darah mulai berceceran dari ujung hulu belati yang tertancap di dada kirnya. Lantai merah, mengalir, kental. Tuan Leman telentang sesekali ngorok, satu-satu napasnya dapat ditarik. Ia kalah dengan mimpi yang pernah datang kepadanya. Di akhir sekarat Tuan Leman, seperti ada tangis yang tertahan dari tenggorokan sang tuan. Malam menggigil, satu-satu gerakan Tuan Leman, lalu diam selama-selamanya. Kini rohnya benar-benar menuju tuhan. [] Padang, 15 Oktober 2005
Judul Cerpen : Mimpi Tua
Ditulis Oleh : Abdullah Khusairi
Dimuat : Jawapos Minggu 25 Nopember 2007


Sunday, July 29, 2007

MANUSIA BACA

Dr M Quraish Shihab menyatakan di dalam buku Membumikan Al-Quran, falsafah dasar iqra' bukan sekedar membaca tetapi juga diteruskan dengan menelaah, mengkaji dan memahami.


Hal ini dijelaskan dengan kata akram setelah iqra'. Di dalam Al-Quran ada tiga kali pengulangan kata qaraa. Sedangkan dalam berbagai bentuk kalimat kata qaraa---sebagai akar kata--- muncul sebanyak 70 kali. Pada akhir pembahasan falsafah iqra' dikatakan, syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. Inilah perintah paling berharga kepada ummat manusia. Menjadi makhluk membaca.


BUKABUKU

KONFIRMASI

Abdullah Khusairi

Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum. (QS.Al Hujarat; 6).


Maka kalau ada isu beredar, janganlah cepat percaya. Bertanyalah, cari tahu kepastiannya dengan sumber yang benar-benar menguasai persoalan.

Konfirmasi (memastikan) adalah sebuah keharusan. Apalagi jika ingin menyampaikan kepada yang lain. Harus benar-benar terukur kebenaran faktual materi informasi yang disampaikan.

Thursday, May 31, 2007

CERPEN

ENTAH LEHER SIAPA LAGI

Cerpen Abdullah Khusairi




”Tikam saja,” ucap laki-laki yang memikul dendam. Malam sudah memabukkan mereka dalam gulita yang beriringan dengan denting gitar. ”Bakar saja,” jawab yang lain, dengan api yang keluar dari mulutnya. Belasan pemuda yang duduk di tengah remang di persimpangan yang kelam mengelilingi botol-botol menebar bau yang menyengat hidung. Berderik-derik bunyi kulit kacang dibuka. Bayu berhembus. Dingin.



Sunday, February 11, 2007

POLITIK SASTRA, SASTRA POLITIK

Tidak perlu ada politik sastra. Jika ada, sastra akan ternoda oleh kepentingan. Karena, politik pada dasarnya adalah kepentingan, kepentingan kelompok dan kepentingan kekuasaan. Sementara, sastra adalah sebuah ranah seni yang mengedepan keindahan untuk memanusiakan manusia.
Tak perlu ada politik sastra, jika ada, akan membuat para kreator hanya mengebiri karyanya dan menyampingkan kualitas dan idealitas. Sebab politik adalah kepentingan dan perjuangan kelompok-kelompok. Sudikah kiranya dalam ranah sastra yang hidup dari nurani ternyata digerus oleh kepentingan-kepentingan, mazhab-mazhab dan hegemoni?


Monday, January 29, 2007

AJI Gelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis



AJI Gelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis
Padang, Padek---Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Padang akan menggelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis
(Journalist Safety Training), 27-29 Januari 2007 mendatang. Acara ini akan diikuti 26 jurnalis Padang, utusan dari media cetak dan elektronik di Kota Padang.
Acara ini digelar di Carolina Hotel Bungus terselenggara atas kerja sama AJI dengan International Federation Journalist (IFJ). Di samping itu juga didukung oleh Komisi Eropa dan Lotco dan bagian dari program kerja sama Media for Democracy in Indonesia (MFDI).
Koordinator Acara dari AJI Padang, Vera Neldy mengatakan kepada koran ini, kemarin, materi pelatihan seputar keselamatan jurnalis dan pertolongan pertama bagi korban di daerah konflik.
"Seperti mempelajari situasi lapangan, bersiaga dari kemungkinan terburuk, P3K, menangani pata tulang, pendarahan dan luka bakar," ungkap Aver, demikian ia biasa disapa.
Juga akan diberikan materi seputar ranjau dan perangkap,
kekacauan dan stress, hewan berbisa, memahami hubungan militer dan media, kemampuan navigasi, dilengkapi dengan latihan.
Kriteria peserta, jurnalis media cetak, radio, online dan televisi yang masih aktif minimal satu tahun terakhir. Peserta merupakan utusan dari lembaga.
Ketua AJI Padang, Syofiardi Bachyul kepada koran ini, mengatakan, acara ini amat bermanfaat bagi jurnalis yang berada di garis terdepan (front line) dalam setiap peristiwa terjadi.
"Di sinilah keahlian dan mental sang jurnalis ditempa dengan sebenarnya," kata Syofiardi.
Memang situasi berbahaya langsung amat dekat dan akrab bagi jurnalis yang berada di lapangan. Pelatihan ini juga menyiapkan materi kewaspadaan dan keamanan sehari-hari.
Materi pelatihan akan diberikan oleh AKE, sebuah lembaga penyedia jasa Pelatihan Keselamatan Jurnalis yang
sudah dikenal luas di dunia. AKE berpusat di Hereford, Inggris. Trainer AKE merupakan tenaga berpengalaman dalam bertuga di daerah-daerh konflik.
(hry)

MISKIN HATI

Seorang teman memberi apresiasi tulisan saya di sini, dengan penuh semangat melalui short message service (SMS). Saya jawab juga dengan penuh penghormatan atas apresiasinya. Kemudian, teman ini meminta saya untuk menulis tentang gaji dewan yang sedang dibicarakan. Lalu saya katakan, sudah terlalu banyak yang menyoalkannya. Semakin dipersoalkan, semakin tajam menyakitkan rakyat.


Sebab, perihnya hidup makin memperjauh rakyat dengan pemimpinnya. Pemimpin hanya memikirkan sesuatu yang tidak riil. Kemajuan, pembangunan, peningkatan ekonomi, pendapatan negara, dan segala macam hal yang tidak dekat dengan rakyat.


Tuesday, January 23, 2007

RIAU TV








Sebagai pendiri Padang TV yang kini hadir di 33 UHF di Kota Padang. Satu dari 13 anggota yang berangkat sebagai pejuang—serasa terbuang—selama lima hari belajar di Riau TV Januari 2007. Pelatihan ini menghantar saya ke meja Presenter Berita Detak Sumbar, Dialog Malam, dll. Menjadi penyiar sebagai perjalanan, pernah mencoba dan eksis selama sembilan bulan—seperti bayi dalam kandungan ya…— tetapi jabatan sesungguhnya adalah Manager Program & Produksi Padang TV 2007. Bermain visual, berbeda dengan bermain kata, visual acap gagal menyampaikan kata. Kata lebih detail, gambar membutuhkan kata.

KULIT KACANG

Raja Cerpen Rusia, Anton Chekov pernah menyatakan, di zaman ini, orang lebih mudah kehilangan kepercayaan diri daripada sarung tangan tua. Hal ini dikarenakan makin ketatnya persaingan dalam hidup.
“Saya hanya ingin mengatakan yang sejujurnya tentang kita. Betapa busuknya kita.” Begitu kata Chekov.
Melalui cerpen, Chekov menyampaikan pesan moral terhadap cara orang berkehidupan. Ia tak segan-segan menyatakan betapa busuknya pergaulan terbangun. Mujurlah itu pandang Chekov itu merupakan hasil analisanya kehidupan di Rusia sana. Namun demikian apa yang ditulis Chekov dengan gaya yang khas membuat karyanya enak dibaca sampai keluar Rusia. Ada sentuhan kemanusiaan yang memang mendobrak batas wilayah karyanya. Oleh karenanya, karya Chekov juga mengena dimana saja dibaca.
“Kadang-kadang juga dekat dengan persoalan di sekeliling kita.” Kata mania Chekov.
Selain Chekov, Jalaluddin Rumi juga sering mengingatkan hal itu dalam puisi-puisi sufistiknya. Di dalam buku Matsnawi-i-Ma’anawi (Couplets of Inner Meaning), sufi agung ini memberi pesan kemanusiaan. Menanamkan ajarannya dalam sebuah kerangka yang secara efektif menjabarkan makna batiniah sebagaimana sebuah pertunjukan atau pameran. Teknik ini bermanfaat melindungi mereka yang tidak mampu menggunakan materi pada level eksperimen yang lebih tinggi; membiarkan mereka yang menginginkan puisi, untuk memilih puisi; memberi hiburan kepada orang-orang yang menginginkan cerita; mendorong kaum intelektual yang menghargai pengalaman-pengalaman.
Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan-ringannya: ”Yang ada di dalam ada di dalam.” Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu.” Ar-Rumi memiliki kegelisahan sufistik yang luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di zamannya. Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda. Bacalah buku Jalan Sufi (The Way of the Sufi): Reportase Dunia Ma’rifat, ditulis Idries Shah.
Membaca Chekov dan ar-Rummi kita seperti ditertawai oleh keduanya. Kebodohan dan ketololan kadang-kadang secara sadar dilakukan demi kepentingan. Kepentingan pribadi membuat orang tak perlu objektif melihat persoalan. Padahal sudah diingatkan dalam ajaran agama, janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. (QS Almaidah 8). Kenyataannya, dunia tidak akan pernah adil. Kearifan makin susah dicari seiring dengan hilangnya percayaan diri. ”Orang sering jadi kacang, lupa pada kulit. Padahal, tanpa kulit, kacang akan jadi ‘kacangan’. Hidup tidak akan pernah adil. Teruslah berjuang untuk mendapatkan kacang tanpa cara ‘kacangan’.” Ungkapan terakhir ini berdengung setelah merenung, entah dari siapa. [] abdullah_khusairi@yahoo.co.id

Sunday, December 17, 2006

HIPOKRISI dalam POSMODERNISME

Jika masih mengaku modern maka bersiap-siaplah untuk dikatakan ketinggalan zaman. Karena sekarang dunia berada pada puncak posmodernis. Sebentar lagi melompat ke neoposmodernis. Dan seterusnya entah apalagi kodefikasi kemajuan ummat manusia. Yang jelas, lompatan terjadi sangat cepat. Bisa jadi musim 3G (Three Generation) sebuah bentuk neoposmodernis itu.

Sudah berada dimanakah kita? Bisa jadi belum masuk dalam kategori manapun. Atau lazim terjadi, pada banyak sektor kehidupan kita, mencamplok setiap kodefikasi itu serba sedikit. Misalnya, belum matang pada pre modern, sudah masuk ke kehidupan modern, tetapi sangat terpaksa hidup di zaman posmodernis. Dampaknya adalah terperangah dengan segala atraksi zaman. Tak ayal, menjadi penonton di ranah global yang sudah dikuasai kapitalisme dari berbagai sudut kehidupan. Kita dikepungnya. Mulai dari tempat tidur sampai kamar mandi. Misalnya? Apa merk sabun mandi yang kita pakai?

Tulisan ini terekspresi dari laporan Zelfeni Wimra di Padang Ekspres, Minggu (9/12) ditulis atas seminar yang menghadirkan Yasraf Amir Piliang, di Universitas Negeri Padang (UNP).
Ada beberapa yang patut disadari, seperti di atas tadi, dimana ada dan selalu ada hipokrisi zaman baru. Termasuk posmodernisme itu.

Benar apa yang dikatakan Amir, betapa ceroboh ketika padu padan fashion antara jilbab dengan baju ketat senteng ditambah celana jeans. Atau contoh lain, seorang anak muda gondrong dengan kopiah dan baju koko tapi pakai anting-anting sebelah kiri saja.

Ini amatlah sesuai dengan cerita, seekor monyet ingin belajar berjalan dengan gaya kura-kura. Ia belajar dengan seksama tetapi selalu gagal. Setelah sadar, tak mungkin ia bisa sempurna seperti kura-kura. Akhirnya, ingin kembali seperti gaya monyet semula. Sayang, gaya itupun ia tak lagi mampu.
Agaknya, perlu kritis lagi bertanya kepada hati nurani sendiri, ketika spritualitas ternyata dijemput lagi. Sesungguhnya, spritualitas itu adalah hikmah bangsa timur. Pertanyaan berikutnya, bagaimana menjemput jati diri kita yang paling murni itu? Bisakah sesuai dengan keotentikannya dengan masa lalu? Tidak, ia harus mengalami bias zaman yang harus menopanginya.

Agaknya, sekali lagi, hipokrasi tetap akan terjadi dalam posmodernis ini. Dimana sisa modernisme masih menyelip di antara cara pikir hidup sehari-hari. Atau yang paling naif terjadi, mengaku berpikir posmodernis tetapi nyatanya adalah masih modern. Bahkan jauh sebelum itu, tradisional dan ortodok.
Satu hal yang positip, spiritualitas sudah dijemput setelah tuhan dinyatakan mati. Bagaimana? Ya, mengulang kaji dan buka kembali setiap buku-buku dan kitab suci yang dimiliki. Di situlah ada spritualitas. Jika masih menggunakan yang sudah ada, maka spritualitas akan teras garing, formalitas, juga simbol-simbol. Artinya, kita masih berada di zaman modern yang sudah ketinggalan.

Kalau sudah begitu, apakah kita akan bernasib sama dengan kera tadi? Entahlah, semoga ini tak terjadi. Perlu diingat, jika dinamika rasionalitas berkembang pesat dengan bukti laju teknologi dari ilmu pasti yang sudah menjadi produk kapitalis, sejauh manakah laju spiritualitas kita memahami nilai-nilai transeden? Statis atau dinamis? Saya masih banyak percaya pada hal yang pertama. Statis. Buktinya, wilayah spritualitas dianggap tak boleh lagi diotak-atik. Filsafat agama dianggap berbahaya.

Asah otak untuk mendekatkan spritualitas kepada Yang Maha Esa cenderung ditutupi secara tidak langsung. Ia dianjurkan dengan metode ibadah sebanyak-banyaknya tanpa tahu makna sakral dan jalan menuju tuhan. Imbasnya, ibadah menjadi simbol. Padahal, spritualitas harusnya tidak saja didekati dengan hati, tetapi juga dengan akal.

Bukan artian ibadah tidak penting, tetapi wilayah ini tak lagi harus pakai cambuk untuk mengerjakannya. Ia harusnya sudah menjadi gaya hidup yang matang.

Pada zaman pertengahan, memang filsafat ”dikanvas” oleh Al-Ghazali, karena dianggap menyesatkan dan cenderung membuat manusia melompat ke wilayah terlarang, bicara dzat tuhan. Di sinilah lahirnya fundamentalis yang bertahan pada wilayah sakral agama tak boleh digerogoti oleh filsafat. Tetapi beberapa dekade setelah itu, filsafat berkembang baik menjadi “hikmah dari timur.” Ia dicari oleh bangsa Barat. Karena Barat sudah mendapatkan rasionalitas yang berkembang menjadi ilmu pasti. Kalaupun perlu jujur, rasionalitas Barat juga dibawa oleh Averoes (Ibn Rusd) dari timur.
”Averoes sukses di Barat, Al-Ghazali berhikmah di Timur.” Begitulah bahasa yang dapat disederhanakan.

Begitulah akhirnya hari ini masalah rasionalitas dan spritualitas terus menggoncang manusia. Bagaimana menyeimbangnya dalam kehidupan sehari-hari.

Zaman modern kemarin, agama tak penting kalau hanya membawa kemunduran berpikir. Sekarang, agama dijemput untuk keseimbangan. Tetapi, kalau tidak dipelajari lebih dalam dan berdinamika rasional, tidak terkooptasi di wilayah halal- haram, harapan spritualitas dan rasionalitas bisa membuat ummat manusia makin sempurna.

Seperti diungkapkan Adik Hasan Albana—pendiri Ikhwanul Muslimin, Gamal Albanna, umat Islam memahami syariat sebagai ajaran ritual dalam Islam, seperti Shalat, Puasa, Haji dan lain sebagainya. Menurutnya, dengan mengutip pandangan tokoh terkemuka di dunia Islam, Ibnu Qayyim, syariat adalah keadilan, kerahmatan dan kemaslahatan. Apabila sebuah ajaran tak berjalan di atas nilai-nilai universal di atas, itu bukan syariat. Syariat terkait erat dengan pemerintahan dan kemaslahatan masyarakat.

Ironisnya, nilai-nilai universal di atas justru menjadi titik lemah umat Islam secara umum. Berbagai macam aksi kekerasan, ketidakadilan,

Pertanyaan lain, sejauh mana bisa didalami spritualitas? Bagaimana mensejajarkannya antara ummat yang satu, kelompok yang satu, dengan yang lain? Perbedaan sering kali masuk pada klaim paling benar. Di sinilah sesaknya spiritualitas membunuh antara satu yang lain. Kata lainnya adalah, pemahaman yang sempit akan membawa orang berpikir sempit pula. Sebaliknya, pemahaman yang luas akan membawa orang berpikir lapang pula.

Jika seperti ini, apa yang dikomentari oleh Corinne Maier, menjadi tepat. Industri, orang-orang yang terlibat di dalamnya, konsumen yang dijajahnya, harus selalu ereksi setiap hari. Kalau tidak, ia bukan berada di zaman itu.

Paparan ini disimpulkan, hipokrisi akan berjalan dengan bebas di zaman posmodernis ini, kalau tidak dibuat format pemahaman spritualitas yang tak-tis sesuai dengan tingkat rasionalitas terendah masa ini. Tetapi tentulah dimulai dari kekuatan cendikiawan dan ilmuwan sosial dan agama mencari dan mengintervensinya ke wilayah publik. Kalau tidak, hipokrisi atas aliran-aliran yang masih berkeliaran akan tetapi terjadi.

Akankah kita harus hidup berputar pada kain sarung ketololan dan kemunafikan? Tentu saja tidak.***
Dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres Edisi Minggu, 17 Desember 2006

Monday, December 11, 2006

ARISTO MUNANDAR: BUKA AKSES MODAL untuk KELUARGA MISKIN BERBASIS MASJID

Budaya malu bisa menekan angka kemiskinan di tengah masyarakat. Lebih-lebih di Ranahminang masih memiliki adat dan budaya yang masih kental. Bagaimana format agar kemiskinan bisa dihapuskan dengan budaya malu?
"Kita mulai dengan membangkitkan kekerabatan yang sudah ada. Menata dan mengambil data base kemiskinan yang ada di tengah masyarakat. Khusus urang minang, keluarga, suku, jorong, nagari, adalah sesuatu yang penting bagi dirinya. Nah, kita akan lihat suku mana yang miskin itu, jorong mana, nagari mana," ungkap Bupati Kabupaten Agam, Aristo Munandar, ketika koran ini berkunjung ke kediaman Komplek Wisma Lapai Jaya Blok E Padang, (10/12).
Aristo Munandar baru saja pulang dari Rapat Kerja Nasional Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) se-Indonesia di Medan, 7-8 Desember 2006. Di acara tersebut, Aristo mendapatkan penghargaan dari Pinbuk Award 2006 atas usaha Pemkab Agam usahanya dalam Pinbuk dan Baitul Mal at-Tanwil (BMT) di Kabupaten Agam.
"Budaya malu kita sangat tinggi. Jika dikatakan suku, nagari, jorong, apalagi keluarga dekat, termasuk orang miskin. Artinya, kita tidak memperhatikan keluarga kaum kerabat," papar bupati yang menjabat dua periode ini.
Apa saja yang kebijakan bupati untuk mengangkat kaum papa? Ia memaparkan beberapa konsep pelayanan terhadap kaum papa yang memang sangat sedikit tersentuh oleh program pemerintah.
"Mereka tidak dapat akses modal karena prosedur yang berlaku. Oleh karenanya, kita merubah prosedur. Prosedur kekeluargaaan," paparnya.
Prosedur ini berbeda dengan peminjaman yang berdasarkan agunan. Hanya bermodalkan kepercayaan dan kekerabatan yang ada di tengah masyarakat dan jamaah masjid. Dari pengalaman di BMT, ini bisa berjalan dengan baik. Ke depan, tinggal lagi pengembangan dan pembinaan.
"Setelah saya cermati dari apa yang sudah dilakukan, turun ke bawah dan merasakan denyut masyarakat. Hasilnya, ternyata harus ada format baru agar orang miskin bisa diangkat menjadi keluarga pra sejahtera. Caranya, beri obat sesuai dengan penyakit. Data satu persatu. Tanya satu persatu. Tidak bisa digenerasilir," ungkap bupati yang sering mendapat penghargaan nasional ini.
Pemkab Agam memodali pendataan ulang Rp350 juta. "Walau ada bias pada data, tetapi setiap program penanggulangan kemiskinan akan dicek ulang ke bawah. Penajaman data harus dilakukan. Kemudian, program harus disosialisasi dengan matang. Biarlah perencanaannya agak lama yang penting matang dari pada cepat nekad tanpa hasil," tegasnya.
Gerakan yang sudah dilakukan seperti BMT memang mendapat tempat di hati masyarakat. Masjid sebagai basis ternyata berdampak positif terhadap pergerakan ekonomi dan silaturrahmi.
"Inilah modal ke depan. Akan digelar raker agar semua paham bagaimana program pengentasan kemiskinan berbasis surau dan masjid akan mampu berjalan baik. Melibatkan ninik mamak, alim ulama, wali nagari, perantau. Pada gilirannya, rasa malu akan muncul ketika diketahui oleh perantau yang berhasil ternyata masih ada dunsanak mereka, anak kemanakan mereka yang masih butuh perhatian," paparnya semangat.
Masjid dan surau akan menjadi posko penanggulangan dan diisi oleh pembina yang dilatih profesional. Memberi kesempatan bagi rapat suku, jamaah masjid dan perangkat nagari untuk mengumpulkan semua ide untuk mendapatkan celah usaha baru bagi anak kemanakan yang butuh bantuan. Legitimasi pencairan dana tidak perlu dilakukan secara konvensional bank tetapi cukup kepercayaan dan tanggung jawab ninik mamak setempat.
"Implikasi positifnya adalah, adat dan agama akan bergandengan melalui pola ekonomi," jelas Aristo.
Menguatkan hal ini, akan dibuat detail format pengawasan dan pembinaan dan evaluasi kepada Kelompok Usaha Bersama (KUBE). "Kalaulah demikian adanya, pikiran enterpreneushif akan muncul. Misalnya, satu KK, ia bisa apa dan maunya apa. Nah, sebatas itulah ia diberikan dengan kepastian jaminan ninik mamak dan pengawasan. Motivasi dan pembinaan. Nah, dinamika usaha akan hidup," tuturnya.
Program Agam Mandiri, Agam Madani memang sudah dimulai dan memperlihatkan hasil. Penghargaan sebagai pusat pelayanan terbaik dan Pinbuk ini adalah bukti dari keseriusan dan kerja keras pria yang murah senyum ini.
Tahun 2005, Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Agam mencapai 6.13 persen. Tahun 2004, 6,01 persen. Tahun 2003, 5,29 persen.
Pemikiran untuk peningkatan pendapatan masyarakat terus dilakukan. "Untuk produksi saya pikir tidak ada masalah lagi. Kini tinggal peningkatan mutu dan daya saing dengan cara mencari nilai tambah (value added). Beberapa produk unggulan usaha kecil sudah sangat dikenal dari Agam seperti dodol labu, dodol wartel, air tebu sudah mendapat sentuhan packaging yang baik," tuturnya.
Sementara itu, aksi nyata untuk peningkatan ekonomi rakyat yang lain, diserahkan 32 kebijakan bupati ke kecamatan. Hal ini dilakukan demi efesiensi waktu dan memberi ruang kepada camat untuk mendekatkan program dengan kebutuhan masyarakat.
Seperti diberitakan koran ini, Sabtu (9/12), Aristo bersama kepala daerah lain, seperti Bupati Langkat (Sumut), Bupati Tanah Bumbu (Kalsel), Bupati Tanjung Balai (Kepri), Bupati Tebing Tinggi (Sumut), dan Bupati Pekalongan (Jateng) mendapatkan Pinbuk Award 2006.
Sementara di tingkat menteri, penghargaan diberikan kepada Menteri Sosial Bachtiar Chamsah, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadarma Ali, Dirut Bank Muamalat Syaefudin A, dan mantan Guberbur Sumut Alm. T. Rizal Nurdin.
Penghargaan “Pinbuk Award 2006” ini diserahkan oleh Ketua Pinbuk Pusat, Prof.Dr. Ir. M. Amin Aziz, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pinbuk se-Indonesia, di Medan. Dalam Rakernas yang dibuka Deputi Bidang Pengentasan Kemiskinan Menko Kesra DR. Sujana Rohiyat, dan berlangsung tiga hari itu, hadir para kepala daerah se-Indonesia, dan sejumlah pejabat depertemen terkait.
Dikatakan Aristo, bagaimana pun, tugas pemerintah adalah mensejahterakan masyarakat. Tetapi, fenomena yang menyakitkan ketika kenyataan bahwa, dengan digulirkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT), ternyata menjadi titik balik, bahwa angka keluarga miskin membengkak. Kabupaten Agam mengalami hal tersebut, dimana KK miskin tahun 2004 bisa ditekan hingga 10.566 KK waktu ada pendataan untuk BLT, mencapai 23.661 KK. Padahal program untuk mengentas kemiskinan sudah dijalani. "Berangkat dari kenyataan inilah, kita harus tegas dalam aksi nyata. Bagaimana pendekatan kekerabatan yang menjadi modal penting dalam adat budaya kita bisa dilakukan. Saya pikir akan muncul pemikiran baru dan aksi baru dari ide-ide seperti ini. Kini tinggal pemantapan dan pelaksanaan," jelas Aristo.*