Saturday, April 12, 2008

AWALNYA CUMA SECANGKIR KOPI

COVER-STARBUCKS



Judul : The Starbucks Experience
Penulis : Joseph A. Michelli
Penerbit : Esensi Erlangga
Cetak : Juni 2007
Tebal : 225 Halaman
Resensiator : Abdullah Khusairi



Ini persoalan yang teramat sepele. Soal menjual secangkir kopi kepada pelanggan. Karena teramat sepele, ia dikemas menjadi tidak sepele. Maka ia menjadi sesuatu yang membawa banyak karyawan, pembuat kopi, petani kopi dan orang, lembaga, yang terkait dengan kopi menjadi amat berharga.
Ya, inilah fenomena Starbucks, yang mengubah secangkir kopi menjadi fenomena bisnis yang mendunia. Penulis buku ini mengungkapkan lima prinsip kepemimpinan di Starbucks yang mengubah gagasan biasa menjadi sebuah pengalaman yang amat luar biasa. Prinsip tersebut adalah, lakukan dengan cara anda, semua penting, surprise and delight, terbuka terhadap kritik dan leave your mark.


Friday, April 11, 2008

NASIB PUAK MELAYU PASCA PEMILU

FUAD



Oleh: Fuad Mahbub Siraj
Mahasiswa ISTAC Malaysia


Pemilihan raya tahun 2008 telah selesai dilaksanakan. Pemilihan yang seharusnya diadakan bukan pada bulan Maret ini berakhir dengan kemenangan Barisan Nasional. Barisan nasional adalah salah satu dari tiga partai besar yang ada di Malaysia yang merupakan gabungan dari beberapa partai lain yang ada, kemudian diikuti oleh partai PAS yang merupakan partai Islam Malaysia sekaligus sebagai oposisi terkuat bagi pemerintah dan diikuti oleh Partai Keadilan Rakyat (PKR). Bagi pihak Barisan Nasional sendiri, kemenangan pada pemilihan raya kali ini merupakan kemenangan terburuk sepanjang 12 kali pemilihan raya. Gabungan dua partai, yakni antara PAS dan PKR membuat pemilihan raya kali ini semakin menarik dan mampu membuat barisan nasional “sesak nafas”, alhasil di beberapa bagian Malaysia Barisan Nasional mengalami kekalahan, tetapi hasil akhir tetap memperlihatkan bahwa Barisan Nasional masih tetap mendominasi pemilihan raya di Malaysia. Dengan kemenangan barisan nasional ini, Perdana Mentri Abdullah Badawi mengatakan, bahwa ia tidak akan mundur dari jabatannya sebagai perdana mentri.


SECANGKIR ISU, SEGANTANG BUMBU

Beredar isu beberapa orang pejabat sedang menikmati shabu-shabu di sebuah hotel berbintang ditangkap aparat.
Pesan Pendek (Sandek) bersileweran melalui Short Messege Service (SMS) seputar isu ini, beberapa hari belakangan.
Wartawan yang sehari-hari mengendus, mengintip, mendengar, setiap peristiwa dan isu, panas dibuatnya. Karena ketika diminta keterangan dari sumber resmi, tak satupun yang membenarkan.


Pamong Senior Drs. Rusdi Lubis

Lakukan Evaluasi Pemekaran dan Otonomi Daerah


Sinyal evaluasi pemekaran daerah oleh pemerintah pusat beberapa hari lalu perlu disikapi secara positif. Karena otonomi daerah belum mampu memperlihatkan hasil yang maksimal terhadap pembangunan.
Wawancara, Abdullah Khusairi, Padang


Komentar anda tentang evaluasi pemekaran daerah dan Otonomi Daerah?
Saya pikir ini perlu dan penting. Karena penyelenggaraan pemerintahan di daerah pemekaran memperlihatkan kecenderungan euforia. Tidak bertitik tolak pada semangat otonomi daerah, yaitu meningkatkan pelayanan dan percepatan pembangunan. Justru yang lebih menonjol adalah seteru politik dalam pilkada. Ini tidak baik. Dampak yang buruk. Dan yang lebih naif, penilaian dari Kejagung, yang menilai pelaksanaan otonomi daerah justru semakin membuat korupsi kian marak. Pasalnya, banyak pejabat di daerah yang tidak paham dengan tata cara penggunaan anggaran secara benar.


ZIKIR PIKIR

Suatu hari beberapa puluh abad silam, di Semenanjung Asia Kecil, sekelompok warga Kota Athena mengemukakan pertanyaan. Mengapa alam semesta ini begitu teratur? Berubah dalam keteraturan pula. Sejak kapan alam ini ada?
Pertanyaan ini beranak pinak menuju puncak tanya yang paling tinggi dari waktu ke waktu meminta jawaban.


Jangan Nodai Demokratisasi

PADANG, METRO
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) diharapkan berjalan damai. Tidak terjadi chaos seperti di daerah-daerah lain, karena merugikan masyarakat dan menodai demokratisasi. Lebih parah lagi, akan membuat stagnasi roda ekonomi masyarakat.

Thursday, April 10, 2008

Seputar UU Pemilu


Padang, Padek---Hasil pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Politik membuat partai baru tetap optimis mereka akan lolos verifikasi di Depkum HAM.
"Tapi kita menyayangkan, lobi pada pembahasan RUU Politik di DPRI mengindikasi affair yang tidak mencerdaskan bangsa. Buktinya, partai yang tidak lolos electoral treshold (ET) 3 tetapi punya wakil tak perlu verifikasi, itu namanya memikirkan diri dan lembaga sendiri," ujar Wakil Ketua Pemenangan Pemilu, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Sumbar, Marlis kepada koran ini, ketika diminta komentarnya, Kamis (28/2).
Marlis menyatakan, Hanura menunggu hasil verifikasi di Depkum HAM dan optimis akan lolos karena sudah memenuhi persyaratan. Sebagai partai baru, Hanura bagian dari 47 partai yang telah mendaftar. Kini mesti menunggu hasil verifikasi.
"Tetapi dengan berita kemarin, tentang kesempatan partai yang tidak lulus tak perlu verifikasi asalkan ada wakil di legislatif membuat kita makin memperlihatkan, kekuasaan adalah segalanya. Mengorbankan pendewasaan politik bangsa ini," tegas Marlis.
Sementara itu, Ketua DPW PBB Sumbar, Jonimar Boer bersama pengurus lain, Syahrul R Tanjung dan Zaldi menyatakan syukurnya atas lolos bersama 16 partai lain untuk ikut pemilu 2009.
"Kita memang sudah bersiap-siap atas apa yang akan dilakukan untuk menghadapi pemilu 2009. Dengan hasil dari pembahasan peralihan tersebut, artinya PBB akan membicarakan secara interen langkah apa akan bisa membuat Pemilu 2009 mendapatkan prestasi baik bagi PBB," ujar Jonimar Boer.
Sebelumnya DPP PBB telah mendaftar ke Depkum HAM dengan menformulasi nama menjadi Partai Bintang Bulan dengan akronim masih PBB. Seiring dengan itu juga dilakukan oleh partai lain, seperti Partai Bintang Reformasi, menjadi Partai Persatuan Bintang Reformasi.
Tampaknya partai-partai ini tak perlu lalu merubah nama dan mendaftar ulang ikut verifikasi seperti Hanura, yang benar-benar partai baru.
Senada dengan itu, Syahrul R. Tanjung DPW PBB Sumbar akan tetap berbenah untuk persiapan menghadapi Pemilu 2009 nanti. "Karena, partai sebagai lembaga politik mesti melihat fenomena di tengah masyarakat di mana ia ada. Jika tidak, berarti ia tidak dekat dengan masyarakat," ujar Syahrul via telepon.
Tiga kader DPW PBB Sumbar ini sedang berada di Jakarta dalam rangka koordinasi kepartaian secara nasional.
Di antara 16 partai yang langsung lolos adalah Partai Golkar, PDIP, PKB, PPP, Partai Demokrat, PKS, PAN. Partai-partai ini yang menembus ET. Sedangkan mendapat free pass adalah PBR, PBB, PDK, PDS, PKPB, PPDI, Partai Pelopor dan Partai Nasional Indonesia Marhaenisme. (hry)

Catatan dari Pelatihan Penulisan KNPI Payakumbuh

Guruku Rindu Menggali Ilmu


Pelatihan-pelatihan teknik dan akademik untuk guru sekolah mestinya digalakkan di setiap daerah. Buktinya, ternyata mereka merindukan untuk jadi "murid" kembali.


Abdullah Khusairi---Payakumbuh


BESAR KEPALA

Sirikit Syah di dalam buku Media Massa di Bawah Kapitalisme (Pustaka Pelajar, 1999) menyatakan, seorang reporter akan frustasi bila "hasil belanja" (data gathering) di lapangan sering tidak terpakai. Setiap hari belanja, hanya 30 persen yang dimasak, 70 persen mengendap di benaknya. Sementara itu, informasi baru terus masuk ke kepalanya.
Informasi mengalami sendimentasi pula dengan pemahaman dan analisa. Akhirnya, seorang wartawan menjadi wajib menulis dalam bentuk opini. Kalau tidak, informasi tersebut akan mempengaruhi informasi baru dan cara pandang hidupnya.


PEREMPUAN PERKASA

WOMEN


Judul : Cool Women, Hot Jobs
Penulis : Tina Schwagner & M. Schuerger
Penerbit: Esensi Erlangga Groups
Cetakan : Pertama, Februari 2008
Tebal : 340 Halaman
Resensi : Abdullah Khusairi

"...untuk sebuah acara berdurasii setengah jam, kami mungkin harus merekam potongan-potongan film selama 65 jam, dan proses penyuntingannya sendiri memakan waktu tiga minggu. Kadang-kadang kami harus bekerja 15 jam sehari untuk tiga minggu. Untuk segmen berduarasi tiga menint kami akan mengambil gambar sepanjang empat sampai sampai enam jam dan menghabiskan waktu selama sepuluh sampai empat belas jam di ruang editing film..." [Janice C. Molnari hal. 203]

MENTAL ORANG TERKEPUNG

Dr H Duski Samad MAg*



Perilaku seseorang sangat banyak ditentukan oleh sikap mentalnya. Sikap mental yang sehat akan akan melahir prilaku yang baik dan bernilai guna. Prilaku menyimpang biasanya berawal dari sikap mental menyimpang. Satu diantara sikap mental menyimpang adalah sikap mental bagaikan orang terkepung. Sikap mental orang terkepung adalah satu bentuk pola jiwa yang berawal dari ketidaksiapan individu atau satu komunitas dalam menghadapi perubahan dan realitas sosial yang ada disekitarnya. Istilah sikap mental orang terkepung dipakaikan untuk mengambarkan fenomena jiwa yang ditampilkan oleh individu atau masyarakat dalam meresponi keadaan diluar diri atau diluar kelompoknya.
Sikap mental bagaikan orang terkepung sebagai bentuk dari kelemahan individu ataupun satu kelompok hampir menghingapi berbagai tingkat dan strata, usia, pendidikan manusia. Sikap, perbuatan dan reaksi yang dimuculkan oleh orang-orang yang mengidap kelainan mental (mental terkepung) ditandai dengan kecurigaan yang berlebihan, selalu gusar, kecewa, sinis cemas yang over dosis, sangat mudah menyalahkan orang lain atau kelompok lain, memberikan reaksi yang kejam,begis dan kadang-kadang tidak mengindahkan norma-nomar hukum, sosial, agama dan kemanusiaan.


PADANG K5

Oleh: Ahmad Gazali )*


Dengan modal usaha yang tidak begitu besar merangkak ke ibu kota provinsi, kabupaten/kota di seluruh Indonesia bahkan ada yang ke luar negeri, kita temui pedagang kakilima (K5) asal penganut budaya Minangkabau. Bermentalkan baja, semangat besi pantang menyerah menggunakan akal (mengantisipasi logika dan nurani) sehat untuk memperoleh rezeki yang halal.


Hukum dagang menyediakan untung, rugi, balik pokok. Rugipun secara materi, K5 memperoleh pengalaman yang banyak, jatuh dan bangun dalam berdagang membentuk budaya tahan uji pada segala cuaca. Ditambah berdagang diwarisi dari pedagang Arab dalam menyiarkan Islam di negeri ini. Ada pendapat yang mengatakan : berdagang adalah budaya Islam.


KEARIFAN POLITIK LOKAL

Oleh Wendra Yunaldi, SH, MH

Dalam wacana internasional, salah satu masalah utama dari politik berdimensi demokrasi baru (yang timbul di tengah gelombang transisi dari kekuasaan otoriter di Eropa Selatan dan Amerika Latin pada akhir tahun 1970an dan 1998an) adalah bahwa para aktor dominan nyata-nyata mengabaikan atau menolak perangkat-perangkat demokrasi. Latar belakangnya adalah selama masa transisi tersebut para elite politik menekankan pada pembuatan pakta-pakta dan lembaga-lembaga.
Gagasan fundamentalnya adalah tekanan internasional akan membantu memfasilitasi sebuah langkah kompromi dimana kekuatan rakyat akan dikendalikan, sementara para kapitalis otoriter, para birokrat dan para pejabat akan dapat mempertahankan aset-aset mereka --- berdasarkan asumsi bahwa mereka menerima pembentukan lembaga-lembaga yang mendukung HAM, tata pemerintahan yang baik (good governance), pemilu yang bebas dan jujur, dan sebuah masyarakat sipil yang mandiri. Lembaga-lembaga tersebut nantinya akan membentuk demokrasi liberal.
Maka dari itu, argumentasi kritis yang semakin umum adalah bahwa ketika para aktor politik dan ekonomi yang sebelumnya dominan (seperti para elite papan atas Orde Baru di Indonesia) telah menyerahkan posisi-posisi politik formal mereka dan menyetujui pemilu yang bebas dan jujur dan beberapa hak liberal, mereka tetap menguasai aset-aset perangkat-perangkat baru demokrasi. Banyak keputusan-keputusan penting justru dibuat didalam ekonomi yang semakin diwarnai privatisasi dan terglobalisasi serta dalam berbagai lembaga publik yang semakin menjadi informal; misalnya, dalam dewan direksi perusahaan, IMF, di The Rotary Club, keamanan swasta, sistem penanganan kesehatan yang telah disubkontrak-kan, atau melalui kegiatan berjaringan dan lobby. Apalagi proses revisi UU No. 22-25 Tentang otonomi Daerah menjadi UU Otda No. 32 sekarang yang masih menimbulkan pro kontra, multi tafsir atas dasar kepentingan politik dengan argumentasi proses sentralisasi dan desentralisasi kekuasaan.
Untuk memperoleh sejauhmana tentang demokrasi telah terkonsolidasi, adalah relevan untuk mengimplementasikan ‘pengujian’ Linz dan Stepan (1996) yang mempertanyakan apakah demokrasi benar-benar telah menjadi ‘aturan main utama’ (the only game in town). Benar bahwa sebagian besar informan mengatakan politik secara keseluruhan tidak terbebas dari kekuatan-kekuatan asing, termasuk bisnis internasional dan Dana Monoter Internasional (IMF), dan masalah tersebut semakin bertambah.
Hal ini jangan sampai diabaikan. Dapat dikatakan bahwa sebagian dari terbatasnya kinerja dan cakupan hak-hak dan lembaga-lembaga berhubungan dengan adanya subordinasi ini. Tapi, apapun jalan yang ditempuh para aktor, dan apapun anggapan para informan mengenai para aktor dan kontak-kontak internasional sebagai aktor politik dominan, kenyataannya sebagian besar tetap menggunakan permainan politik yang lazim dan para aparat negara.
Dalam konteks itu, untuk mereduksi upaya hegemoni-monopoli dan transformasi politik liberalis baik dalam tataran pemerintahan pusat maupun lokal harus diantisipasi secara intelektual dan progresif. Sebagai upaya untuk menemukan solusi serta tawaran-tawaran kritis, argumentatif, intelektual maka diperlukan format baru untuk membangun serta mengembangkan wacana tentang pentingnya reinternalisasi kearifan politik berdimensi lokal. Politik dengan kearifan lokal tentu tidak dipisahkan dari tradisi dan budaya-budaya bangsa.
Dengan konsep politik kearifan dan kebijaksanaan lokal, maka upaya untuk membongkar hubungan antara pemain politik sesuai aturan konstitusional dan yang menelikung serta menyalahgunakan aturan, kita harus tahu bagaimana proses terciptanya hubungan tersebut. Maka sebuah kesimpulan sementara bisa dipastikan bahwa sejalan dengan argumentasi umum mengenai dinamika monopolisasi demokrasi yang berakar pada simbiosis antara kapitalisme maju dan akumulasi modal primitif biasanya melalui negara dan politik.
Berkaca pada eksperimen-eksperimen internasional --- yang terkini adalah negara-negara Amerika Latin seperti Brazil --- satu-satunya gagasan realistis dan bermanfaat merujuk pada de-monopolisasi dan regulasi demokrasi, diluar neo-liberalisme dan statisme. Gagasannya adalah pakta-pakta yang difasilitasi secara demokratis pada tingkat pusat dan lokal antara bisnis berorientasi pertumbuhan, kelas menengah berorientasi profesional di sektor dan informal, dan masyarakat buruh terorganisasi di sektor formal dan informal, pada gilirannya akan mendapatkan hak-hak dan kebutuhan dasar. Oleh karena itu, aktor dominan tidak ada dan hancur, dengan partai-partai yang berorientasi pada kekuasaan dan mesin-mesin politik yang dapat mengalahkan pemilihan yang berorientasi pada kultus indufidu.
Dalam konteks itu, konsep paradigma berorientasi pada penguatan wacana dan mengembangkan kearifan politik lokal menjadi suatu keharusan setiap aktor-aktor politik anak bangsa baik ditingkat lokal maupun pusat. Kearifan politik lokal yang dimaksudkan adalah membangun etika politik yang berdimensi pada agama dan budaya-budaya bangsa. Budaya bangsa yang tetap pada komitmen moral. Perspektif ke depan untuk membangun kearifan politik lokal akan menjadi agenda besar bangsa Indonesia.
Dalam kontes masyarakat Minagkabau (Sumbar) kearifan lokal sebenarnya telah melembaga dan tersistematis dalam falsafah adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah yang dinaungi dengan faham keilmuan “alam takambang jadi guru”. Jika dilakukan perenungan secara mendalam maka secara konseptual dan kontenstual paham demokrasi yang dilandasi kearifan lokal yang ada di ranah Minang, sudah jauh lebih dulu dan lebih maju dari konsep-konsep politik modren yang ada saat ini.
Sayangnya terkadang kearifan lokal yang dibingkai nilai-nilai luhur budaya minang terlupakan atau mungkin dilupakan oleh ‘orang minang” sendiri. Hal ini mengakibatkan secara goepolitik baik nasional maupun lokal sulit mencari sosok tokoh yang membumi dan mengakar yang lahir dari rahim ‘bundo kanduang’. Tokoh yang lahir muncul secara instan dan tergantung moment tertentu, lahir dan kemudian redum seiring perputaran roda kehidupan. Jika ada pertanyaan “kemana dan kenapa tidak ada tokoh minang dalam kancah politik nasional?” mungkin salah satu jawabannya adalah karena kita sudah mulai “durhaka” dan menjadi “malin kundang” corak baru terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang diwaris oleh Dt. Parpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumangguangan.

* Putra Payakumbuh dan Pengajar Hukum Tata Negara di beberapa PTS.