Thursday, April 10, 2008

PADANG K5

Oleh: Ahmad Gazali )*


Dengan modal usaha yang tidak begitu besar merangkak ke ibu kota provinsi, kabupaten/kota di seluruh Indonesia bahkan ada yang ke luar negeri, kita temui pedagang kakilima (K5) asal penganut budaya Minangkabau. Bermentalkan baja, semangat besi pantang menyerah menggunakan akal (mengantisipasi logika dan nurani) sehat untuk memperoleh rezeki yang halal.


Hukum dagang menyediakan untung, rugi, balik pokok. Rugipun secara materi, K5 memperoleh pengalaman yang banyak, jatuh dan bangun dalam berdagang membentuk budaya tahan uji pada segala cuaca. Ditambah berdagang diwarisi dari pedagang Arab dalam menyiarkan Islam di negeri ini. Ada pendapat yang mengatakan : berdagang adalah budaya Islam.


KEARIFAN POLITIK LOKAL

Oleh Wendra Yunaldi, SH, MH

Dalam wacana internasional, salah satu masalah utama dari politik berdimensi demokrasi baru (yang timbul di tengah gelombang transisi dari kekuasaan otoriter di Eropa Selatan dan Amerika Latin pada akhir tahun 1970an dan 1998an) adalah bahwa para aktor dominan nyata-nyata mengabaikan atau menolak perangkat-perangkat demokrasi. Latar belakangnya adalah selama masa transisi tersebut para elite politik menekankan pada pembuatan pakta-pakta dan lembaga-lembaga.
Gagasan fundamentalnya adalah tekanan internasional akan membantu memfasilitasi sebuah langkah kompromi dimana kekuatan rakyat akan dikendalikan, sementara para kapitalis otoriter, para birokrat dan para pejabat akan dapat mempertahankan aset-aset mereka --- berdasarkan asumsi bahwa mereka menerima pembentukan lembaga-lembaga yang mendukung HAM, tata pemerintahan yang baik (good governance), pemilu yang bebas dan jujur, dan sebuah masyarakat sipil yang mandiri. Lembaga-lembaga tersebut nantinya akan membentuk demokrasi liberal.
Maka dari itu, argumentasi kritis yang semakin umum adalah bahwa ketika para aktor politik dan ekonomi yang sebelumnya dominan (seperti para elite papan atas Orde Baru di Indonesia) telah menyerahkan posisi-posisi politik formal mereka dan menyetujui pemilu yang bebas dan jujur dan beberapa hak liberal, mereka tetap menguasai aset-aset perangkat-perangkat baru demokrasi. Banyak keputusan-keputusan penting justru dibuat didalam ekonomi yang semakin diwarnai privatisasi dan terglobalisasi serta dalam berbagai lembaga publik yang semakin menjadi informal; misalnya, dalam dewan direksi perusahaan, IMF, di The Rotary Club, keamanan swasta, sistem penanganan kesehatan yang telah disubkontrak-kan, atau melalui kegiatan berjaringan dan lobby. Apalagi proses revisi UU No. 22-25 Tentang otonomi Daerah menjadi UU Otda No. 32 sekarang yang masih menimbulkan pro kontra, multi tafsir atas dasar kepentingan politik dengan argumentasi proses sentralisasi dan desentralisasi kekuasaan.
Untuk memperoleh sejauhmana tentang demokrasi telah terkonsolidasi, adalah relevan untuk mengimplementasikan ‘pengujian’ Linz dan Stepan (1996) yang mempertanyakan apakah demokrasi benar-benar telah menjadi ‘aturan main utama’ (the only game in town). Benar bahwa sebagian besar informan mengatakan politik secara keseluruhan tidak terbebas dari kekuatan-kekuatan asing, termasuk bisnis internasional dan Dana Monoter Internasional (IMF), dan masalah tersebut semakin bertambah.
Hal ini jangan sampai diabaikan. Dapat dikatakan bahwa sebagian dari terbatasnya kinerja dan cakupan hak-hak dan lembaga-lembaga berhubungan dengan adanya subordinasi ini. Tapi, apapun jalan yang ditempuh para aktor, dan apapun anggapan para informan mengenai para aktor dan kontak-kontak internasional sebagai aktor politik dominan, kenyataannya sebagian besar tetap menggunakan permainan politik yang lazim dan para aparat negara.
Dalam konteks itu, untuk mereduksi upaya hegemoni-monopoli dan transformasi politik liberalis baik dalam tataran pemerintahan pusat maupun lokal harus diantisipasi secara intelektual dan progresif. Sebagai upaya untuk menemukan solusi serta tawaran-tawaran kritis, argumentatif, intelektual maka diperlukan format baru untuk membangun serta mengembangkan wacana tentang pentingnya reinternalisasi kearifan politik berdimensi lokal. Politik dengan kearifan lokal tentu tidak dipisahkan dari tradisi dan budaya-budaya bangsa.
Dengan konsep politik kearifan dan kebijaksanaan lokal, maka upaya untuk membongkar hubungan antara pemain politik sesuai aturan konstitusional dan yang menelikung serta menyalahgunakan aturan, kita harus tahu bagaimana proses terciptanya hubungan tersebut. Maka sebuah kesimpulan sementara bisa dipastikan bahwa sejalan dengan argumentasi umum mengenai dinamika monopolisasi demokrasi yang berakar pada simbiosis antara kapitalisme maju dan akumulasi modal primitif biasanya melalui negara dan politik.
Berkaca pada eksperimen-eksperimen internasional --- yang terkini adalah negara-negara Amerika Latin seperti Brazil --- satu-satunya gagasan realistis dan bermanfaat merujuk pada de-monopolisasi dan regulasi demokrasi, diluar neo-liberalisme dan statisme. Gagasannya adalah pakta-pakta yang difasilitasi secara demokratis pada tingkat pusat dan lokal antara bisnis berorientasi pertumbuhan, kelas menengah berorientasi profesional di sektor dan informal, dan masyarakat buruh terorganisasi di sektor formal dan informal, pada gilirannya akan mendapatkan hak-hak dan kebutuhan dasar. Oleh karena itu, aktor dominan tidak ada dan hancur, dengan partai-partai yang berorientasi pada kekuasaan dan mesin-mesin politik yang dapat mengalahkan pemilihan yang berorientasi pada kultus indufidu.
Dalam konteks itu, konsep paradigma berorientasi pada penguatan wacana dan mengembangkan kearifan politik lokal menjadi suatu keharusan setiap aktor-aktor politik anak bangsa baik ditingkat lokal maupun pusat. Kearifan politik lokal yang dimaksudkan adalah membangun etika politik yang berdimensi pada agama dan budaya-budaya bangsa. Budaya bangsa yang tetap pada komitmen moral. Perspektif ke depan untuk membangun kearifan politik lokal akan menjadi agenda besar bangsa Indonesia.
Dalam kontes masyarakat Minagkabau (Sumbar) kearifan lokal sebenarnya telah melembaga dan tersistematis dalam falsafah adat basandi syarak dan syarak basandi kitabullah yang dinaungi dengan faham keilmuan “alam takambang jadi guru”. Jika dilakukan perenungan secara mendalam maka secara konseptual dan kontenstual paham demokrasi yang dilandasi kearifan lokal yang ada di ranah Minang, sudah jauh lebih dulu dan lebih maju dari konsep-konsep politik modren yang ada saat ini.
Sayangnya terkadang kearifan lokal yang dibingkai nilai-nilai luhur budaya minang terlupakan atau mungkin dilupakan oleh ‘orang minang” sendiri. Hal ini mengakibatkan secara goepolitik baik nasional maupun lokal sulit mencari sosok tokoh yang membumi dan mengakar yang lahir dari rahim ‘bundo kanduang’. Tokoh yang lahir muncul secara instan dan tergantung moment tertentu, lahir dan kemudian redum seiring perputaran roda kehidupan. Jika ada pertanyaan “kemana dan kenapa tidak ada tokoh minang dalam kancah politik nasional?” mungkin salah satu jawabannya adalah karena kita sudah mulai “durhaka” dan menjadi “malin kundang” corak baru terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang diwaris oleh Dt. Parpatiah Nan Sabatang dan Dt. Katumangguangan.

* Putra Payakumbuh dan Pengajar Hukum Tata Negara di beberapa PTS.

TIM (TIDAK) SUKSES

Ini cerita yang bakal ada diakhir Pilkada Nanti. Cerita Tim Sukses yang kini sedang semangat-semangatnya "menguras" dana kampanye dan mengelu-elukan calon mereka. Yang seakan-akan tidak ingat, yang menang cuma satu pasangan. Empat pasang lainnya tentu saja harus mengakui dan ikhlas dalam pertarungan ini.


Optimisme yang saat ini terbangun tentu harus didorong dan diaplikasikan sedemikian rupa. Disampaikan dalam berbagai rapat, segala terobosan dan jurus jitu. Mulai dari "mengambil" statemen tokoh kharismatik maupun tokoh struktural-fungsional hingga turun ke nagari, jorong. Ya, semuanya menjadi sangat mungkin, semuanya bisa mencapai finish lebih cepat dari yang lain.


Sejauh ini, memang belum ada yang tumbang semangatnya. Belum pula ada laporan kepolisian, ada Tim Sukses yang stress karena Pilkada. Yang ada cuma tidak puas dengan hasil klarifikasi dan ketetapan di KPUD. Tapi biarlah, itu sudah masuk wilayah hukum. Ikuti proses dan hormarti hukum, itulah warga negara yang baik.


Kita tentu tertuju pada lajur lomba, melihat siapa yang sudah masuk arena. Siapa yang mencuri strart, siapa yang memang memiliki kemampuan lebih dari yang lain dalam segi teknik, tenaga dan aura kepemimpinan.


Ya, susah ditebak. Semuanya memang memiliki kekuatan dan kelemahan. Tim Suksesnya pun memiliki jurus-jurus mutakhir untuk memainkan peran. Untung saja, jurus dewa mabuk tak digunakan, karena berbahaya dan terlalu dini. Konon, jurus mabuk itu, selain lawan tidak tahu kemana langkah dan strategi, tentu orang sedang menjalankan jurus tersebut sedang tidak sadar, jurus apa yang dipakai, sebab sedang mabuk.


Lalu, diakhir penghitungan suara, saat detik-detik penetapan siapa yang menang, maka banyaklah yang menepuk kening. Mereka yang hobi taruhan, menang akan tertawa, yang kalah menepuk kening lagi. Setengah percaya-setengah tidak, kenyataan tentu saja harus diterima demi Pilkada Badunsanak.



Ya, paling-paling optimisme selama ini yang dipatahkan dengan kekalahan akan mengawali sadar seorang Tim (Tidak) Sukses nantinya. Tentu banyak alasan dan kekesalan muncul. Seharusnya, jangan pernah mencari alasan. Akui saja kekalahan kepada calon, bahwa kerja Tim Sukses memang sedang tidak sukses. Dana yang terkuras memang benar-benar sudah digunakan dengan baik, rakyat memang belum berkenan. ***
abdullah.khusairi@gmail.com

AYAT-AYAT KEMISKINAN

"Aku tak punya sepatu, maka aku menggerutu, sampai aku menemukan orang yang tak memiliki kaki." [Rosihan Anwar, Menulis Dalam Air, 1983]

Pernyataan 'eyang wartawan Indonesia' itu memiliki makna yang dalam. Jangan cepat menggerutu jika tidak memiliki sesuatu. Lihatlah orang lain, bisa lebih parah kondisinya dari kita tetapi tidak menggerutu sedikitpun. Dan memang, tak selalu harapan sesuai dengan kenyataan.

Pernyataan ini berhubungan khusus dengan masalah kemiskinan. Ukuran rasa kekurangan dengan kelebihan pada seseorang tergantung bagaimana cara berpikirnya. Jika cara berpikir yang sempit, maka ia akan merasa miskin selalu, walau sebenarnya ia memiliki segalanya. Tetapi ada juga yang merasa kaya, tetapi tidak memiliki apa pun. Nah, relatif sekali.

MIMPI TUA

Baginya, membuat pagi menjadi indah cukup cuci muka, kopi dan rokok kretek yang dinyalakan lalu dihisap. Maka merebaklah aroma racikan
tembakau ke seluruh ruangan dihembus gemulai angin pagi bersama aroma kopi hangat. Dan pagi sangat indah sekali terasa...??
Begitulah, aktivitas pagi hari Tuan Leman semenjak masuk masa pensiun beberapa tahun silam. Menikmati embun dan harum melati di beranda
bersama sang istri. Mengenang masa muda yang bergelora, masa jaya yang bergairah. Pagi dengan rindang pepohonan di halaman rumah,
mentari mengintai di balik daun-daun Melinjo. Kuning keemasan sinarnya menerpa kaca jendela yang kusam, lama tak dibersihkan. Keok
ayam dan itik memberikan nada desa yang pasrah.
Kakek enam cucu dari lima anak ini benar-benar sangat menikmati hari- hari setelah pengabdiannya sebagai seorang pejabat. Sisa ketampanan
di raut wajahnya masih tampak tegas. Gaya berbicara yang dulu berapi- api sesekali masih tampak. Kini sudah bertambah pula dengan nyinyir.
Pertanda melewati usia tua.
Sayangnya, selama pensiun, tak lagi ada tempat resmi untuk berbicara di depan khalayak. Hanya sesekali ia mendapat kesempatan bisa
mengekspresikan dirinya secara tidak resmi jika bertemu teman lama atau kedatangan tamu. Satu tempat yang sering menjadi ajang pertemuan
itu adalah tempat mengambil dana pensiun. Bila bulan muda tiba, semangat muda juga datang, maka ia berangkat ke bank itu dengan
segala keceriaan pagi. Di sana ia bertemu teman lama.
Dan, menjelang siang, dia akan bercerita panjang lebar tentang dunia yang pernah di dalam kantong celananya. Di hari-hari biasa, ia lebih
banyak membaca koran, mendengar radio, menonton televisi. Sesekali melagukan dengan sumbang tembang lama yang populer pada masa mudanya.
Begitulah lelaki berkaca mata tebal ini menelan hari demi hari. Tak banyak lagi kesibukan menghukumnya. Dari luar tampak ia menyimpan
kebahagiaan dan ketentraman. ***
Kedamaian Tuan Leman tiba-tiba terusik beberapa hari terakhir. Ia diusik oleh mimpi yang berkelibat setiap tidurnya yang sudah beberapa
kali datang. Mimpi ini membuat Tuan Leman berkeringat dingin sesudah mimpi berlalu. Bagaimana tidak? Tuan Leman didatangi seorang laki-
laki yang menawarkan Tuan Leman menjadi tuhan. Persyaratannya tidak terlalu susah untuk dipenuhi Tuan Leman. Begitu persyaratan dipenuhi,
ia segera menjadi tuhan.



Dipilihnya Tuan Leman karena ia pernah menduduki jabatan strategis di
masa-masa sulit. Ia berhasil membawa masyarakat hidup makmur.
Begitulah lelaki dalam mimpi itu memberi alasan.



"Untuk itu, tak ada alasan, Anda segera menjadi tuhan dan penuhi persyaratannya!" Lelaki itu berlalu dan Tuan Leman terjaga. Tak ada
kesempatan Tuan Leman untuk bertanya lebih lanjut ketika laki-laki itu datang. Bila ia terjaga, keringat dingin mengucur deras dari
tubuhnya yang segera ringkih. Wajahnya pasi.


"Benar-benar konyol. Tak mungkin, itu tak mungkin." Tuan Leman menyatakan keresahannya sambil geleng-geleng kepala.


"Ah, jangan terlalu percaya. Mimpi adalah bunga tidur, kenapa diambil pusing pula," sang istri menyela. Ia mencoba untuk menenangkan suaminya.


Ia tahu suaminya tak bisa begitu saja terpengaruh. Hanya saja, suaminya acap terjebak dengan hal-hal sepele. Itu sering terjadi.


"Tetapi, jika mimpi itu bunga tidur. Bukankah sering terjadi, mimpi juga akan berbuah kenyataan? Nah…," ungkap Leman membantah kenyataan demi kenyataan dan hukum akal yang bermain di kepalanya.



Sang istri yang mengerti luar dalam tentang suaminya mengurut dada. Ia memahami ambisi masa muda sang suami memang belum pudar, walau waktu memakan usia. Ia tahu betul, obsesi, harapan, apa saja atas nama untuk ketenaran dan kekuasaan membuat dada suaminya panas. Keinginan berkuasa Tuan Leman ini memang besar. Ia dengan strategi apa pun akan berusaha untuk mendapatkannya. Termasuk menggunakan seni dan strategi perang ala Sun Tzu. Dalam banyak pidato ia mengutip Sun Tzu: Pertahanan yang baik adalah menyerang. Sadar posisi diri, kawan dan lawan. Naluri yang tajam dan peka terhadap kompetisi politik.
***
Mimpi itu terus-menerus mengganggu Tuan Leman. Sayang sekali, setiap mimpi itu datang, Tuan Leman tak bisa berbicara dan berkomunikasi dengan laki-laki dalam mimpi itu. Lama-lama Tuan Leman jadi ketakutan, keheranan bercampur dalam kebingungan.


Dalam pemikiran sehat yang datang pada Tuan Leman, orang kaya pemilik tanah dan sawah ini memang tak bisa menerima apa pun terhadap mimpi itu. Ia berusaha untuk melupakannya. Tetapi, sejauh ia berusaha untuk melupakannya, sedekat itu pula ingatannya datang terhadap mimpi itu. Diam-diam ia jadi tertarik untuk menjalankan tawarannya itu. Menjadi tuhan? Sesuatu yang sangat tak mungkin, tetapi betapa hebatnya kalau itu bisa terjadi.


"Itu benar-benar bunga tidur. Tidak akan pernah berbuah," tegas Tuan Leman dalam ragu dan mau yang mengganggu. Enggan berkelindan menggerus rayu mendayu. Tuan Leman berjalan di pematang yang kecil ketika padi masih baru ditanam, angin deras seperti segera badai. Ia seperti ayam termakan sepotong rambut. Diam merenungi mimpi yang selalu datang.


Melihat gelagat yang tidak baik akhir-akhir ini suaminya, sang istri resah. Gelisah. Ada keinginan untuk memanggil psikiater untuk suaminya tetapi ia takut suaminya marah. Ingin juga menelepon anak- anak di kota, tapi apakah itu mungkin, Lebaran saja mereka jarang pulang. Karena takut, ia coba memendamkan semua kemauannya demi menjaga hati suaminya yang sedang dihadang gelombang.


Sebenarnya, ia bangga sekali dengan kesuksesan sang suami. Hingga saat ini ia kagum dengan nama besar suami tercintanya itu. Amat banyak pujian untuk suaminya, ia dengar langsung dari orang-orang yang datang kepadanya. Walau tetangga sempat mengungkapkan kalau- kalau suaminya mengidap post power syndrom. Ketika kekuasaan tak ada lagi di tangan, membuatnya sedikit mengalami gangguan kejiwaan.


"Tetapi aneh, kenapa baru sekarang. Ia sudah lama pensiun. Lima tahun lalu," sang istri mencoba mengungkap alasan kepada dirinya sendiri.


Orang mengenal Tuan Leman seorang yang sukses dalam banyak hal. Ia kaya pengalaman baik-buruk, asam-garam dunia. Tetapi yang sangat diingat orang, ketika ia sedang berkuasa, perintah yang datang dari mulut dan telunjuknya harus diselesaikan sesuai dengan maunya. Tak mau mendengar alasan jika ada kegagalan. Sungguh kadang-kadang tidak masuk akal. Satu lagi, ia paling tak suka orang yang membantah. Ia benar-benar sok tahu. Padahal, mungkin saja dalam banyak hal bisa diketahuinya, tetapi dalam satu hal harusnya ia belajar dan bertanya pada ahlinya. Itulah yang tidak berlaku pada Tuan Leman. Tetapi, kelebihannya, ia solider. Kalau ada temannya yang sedang kesusahan, bukan kepalang dia akan menolong. Ia tak perhitungan kalau sudah begitu. Sayangnya, kalau sudah dirayu dan dipuji, ia sering kali lupa diri, maka alamat habislah dana taktis yang harusnya ia manfaatkan untuk hal yang lebih baik. Itulah beberapa hal dari sekian banyak ingatan orang terhadap Tuan Leman yang sukses. Sekali lagi, masa lalunya adalah pahit, manis, dan getir..?


Suatu hari pernah terjatuh akibat sakit kepala yang sangat parah bersamaan dengan naiknya asam urat yang ada di tubuhnya. Ini persis seperti orang besar seperti Napoleon Bonaparte, yang tak takut dengan seribu tentara, tetapi sangat takut dengan surat kabar. Tuan Leman memang tak kuat dikritik, ia jatuh ketika membaca tajuk rencana sebuah surat kabar yang menusuk dadanya.


Orang besar tak selalu berdjiwa besar. Orang pintar seringkali bertingkah seperti kekanak-kanakan. Orang bidjak memang banjak tapi soesah dicari. Karena itu, kekoeasaan itu candoe, ia tak bisa lepas setelah mendapatkannya. Orang-orang jang selalu meminta pengakoean atas kepintarannja. Biasanja adalah orang bodoh. Dan, orang yang selaloe berkoar-koar sok tahoe biasanja dia tidak tahoe apa-apa. Dan, amatlah soesah saat ini, mencari orang yang adil kepada seorang moesoeh, sebuah tindakan terpoeji pada zaman nabi. Wahai bapak pedjabat! Bersikap baik, lebih baik dari pada memboeat diri menderita dan orang lain tertawa. Walau kau bentji pada seseorang, djangan sesekali berboeat tidak adil padanja, karena, doa orang jang dizhalimi sungguh didengar-Nja. Itulah seboeah derita ketika kedjoedjoeran mendjadi djalan hidoep nantinja. Wahai, boeka kaca mata keloearlah dari roeanganmu, pandanglah doenia.



Akibat membaca tulisan itu, Tuan Leman dibawa ke rumah sakit. Ia terbaring selama empat hari. Pulang sebelum benar-benar pulih karena permintaan anak bungsunya yang bongsor. Itulah salah satu episode hidup sang tuan yang waktu itu cukup mengerikan bagi banyak orang.
"Ia cukup tegar," cerita salah seorang temannya. Hanya saja, begitu ia pensiun, satu satu orang-orang terdekat Tuan Leman menghilang bak ditelan bumi. Semua saluran komunikasi putus. Hal ini membuatnya pulang ke kampung halaman dan menghuni rumah tua yang sudah lama ditinggalkan sanak saudaranya dulu. Cucu dan anak-anaknya pun tak banyak memberikan support, hanya sapaan lewat telepon seadanya, jika diperlukan.
*
"Kalau memang benar mimpi itu, saya tunggu nanti malam. Saya bersedia memenuhi persyaratannya," ujar Tuan Leman di tengah kebingungannya.
Istrinya tambah bingung.
"Pak, coba Bapak ke orang pintar dulu," usul istrinya, sambil melirik polos ke sang suami. Sisa kemesraan masa muda yang masih mengilau.



"Untuk apa kalau hanya membuat mereka tertawa. Sekarang saya akan menikmati mimpi itu kalau ia datang. Saya siap lahir batin,"
ungkapnya yakin dan tak goyah sedikit pun. Masih tetap ada nada kebimbangan.


Malam yang gelap. Kelam yang hitam. Entah kenapa mimpi itu tak pernah datang. Tuan Leman menanti-nanti dan mencoba untuk tidur secepatnya, namun percuma mimpi itu tak pernah datang. Hal ini pula yang membuat Tuan Leman bertambah bingung. Ketika kemauannya menjadi tuhan memuncak, justru mimpi itu tak datang-datang. Diam-diam, istrinya lega dengan mimpi yang tak pernah datang lagi ke suaminya.


Bagi Tuan Leman, ini seperti sebuah penghinaan kepada dirinya. Tetapi siapa yang harus dimarahi? Ketika mimpi itu tak datang lagi untuknya.



"Ke mana kau wahai laki-laki dengan wajah kelam?" ujarnya geram, ketika akan tidur. Matanya tak mau terpejam. Diam-diam Tuan Leman
beranjak bangkit dari pembaringan. Ia keluar kamar hati-hati sekali, takut istrinya bangun. Ia ke dapur mencari sesuatu. Malam amat pekat.
Ia meraba-raba dan mendapatkan hulu belati.



"Crassh." Ia menusuk dadanya dengan belati itu. Di gelap malam yang hening, Tuan Leman menggelepar-gelepar di dapur meregang nyawa. Darah mulai berceceran dari ujung hulu belati yang tertancap di dada kirnya. Lantai merah, mengalir, kental. Tuan Leman telentang sesekali ngorok, satu-satu napasnya dapat ditarik. Ia kalah dengan mimpi yang pernah datang kepadanya. Di akhir sekarat Tuan Leman, seperti ada tangis yang tertahan dari tenggorokan sang tuan. Malam menggigil, satu-satu gerakan Tuan Leman, lalu diam selama-selamanya. Kini rohnya benar-benar menuju tuhan. [] Padang, 15 Oktober 2005
Judul Cerpen : Mimpi Tua
Ditulis Oleh : Abdullah Khusairi
Dimuat : Jawapos Minggu 25 Nopember 2007


Sunday, July 29, 2007

MANUSIA BACA

Dr M Quraish Shihab menyatakan di dalam buku Membumikan Al-Quran, falsafah dasar iqra' bukan sekedar membaca tetapi juga diteruskan dengan menelaah, mengkaji dan memahami.


Hal ini dijelaskan dengan kata akram setelah iqra'. Di dalam Al-Quran ada tiga kali pengulangan kata qaraa. Sedangkan dalam berbagai bentuk kalimat kata qaraa---sebagai akar kata--- muncul sebanyak 70 kali. Pada akhir pembahasan falsafah iqra' dikatakan, syarat pertama dan utama bagi keberhasilan manusia. Inilah perintah paling berharga kepada ummat manusia. Menjadi makhluk membaca.


BUKABUKU

KONFIRMASI

Abdullah Khusairi

Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum. (QS.Al Hujarat; 6).


Maka kalau ada isu beredar, janganlah cepat percaya. Bertanyalah, cari tahu kepastiannya dengan sumber yang benar-benar menguasai persoalan.

Konfirmasi (memastikan) adalah sebuah keharusan. Apalagi jika ingin menyampaikan kepada yang lain. Harus benar-benar terukur kebenaran faktual materi informasi yang disampaikan.

Thursday, May 31, 2007

CERPEN

ENTAH LEHER SIAPA LAGI

Cerpen Abdullah Khusairi




”Tikam saja,” ucap laki-laki yang memikul dendam. Malam sudah memabukkan mereka dalam gulita yang beriringan dengan denting gitar. ”Bakar saja,” jawab yang lain, dengan api yang keluar dari mulutnya. Belasan pemuda yang duduk di tengah remang di persimpangan yang kelam mengelilingi botol-botol menebar bau yang menyengat hidung. Berderik-derik bunyi kulit kacang dibuka. Bayu berhembus. Dingin.



Sunday, February 11, 2007

POLITIK SASTRA, SASTRA POLITIK

Tidak perlu ada politik sastra. Jika ada, sastra akan ternoda oleh kepentingan. Karena, politik pada dasarnya adalah kepentingan, kepentingan kelompok dan kepentingan kekuasaan. Sementara, sastra adalah sebuah ranah seni yang mengedepan keindahan untuk memanusiakan manusia.
Tak perlu ada politik sastra, jika ada, akan membuat para kreator hanya mengebiri karyanya dan menyampingkan kualitas dan idealitas. Sebab politik adalah kepentingan dan perjuangan kelompok-kelompok. Sudikah kiranya dalam ranah sastra yang hidup dari nurani ternyata digerus oleh kepentingan-kepentingan, mazhab-mazhab dan hegemoni?


Monday, January 29, 2007

AJI Gelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis



AJI Gelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis
Padang, Padek---Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Padang akan menggelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis
(Journalist Safety Training), 27-29 Januari 2007 mendatang. Acara ini akan diikuti 26 jurnalis Padang, utusan dari media cetak dan elektronik di Kota Padang.
Acara ini digelar di Carolina Hotel Bungus terselenggara atas kerja sama AJI dengan International Federation Journalist (IFJ). Di samping itu juga didukung oleh Komisi Eropa dan Lotco dan bagian dari program kerja sama Media for Democracy in Indonesia (MFDI).
Koordinator Acara dari AJI Padang, Vera Neldy mengatakan kepada koran ini, kemarin, materi pelatihan seputar keselamatan jurnalis dan pertolongan pertama bagi korban di daerah konflik.
"Seperti mempelajari situasi lapangan, bersiaga dari kemungkinan terburuk, P3K, menangani pata tulang, pendarahan dan luka bakar," ungkap Aver, demikian ia biasa disapa.
Juga akan diberikan materi seputar ranjau dan perangkap,
kekacauan dan stress, hewan berbisa, memahami hubungan militer dan media, kemampuan navigasi, dilengkapi dengan latihan.
Kriteria peserta, jurnalis media cetak, radio, online dan televisi yang masih aktif minimal satu tahun terakhir. Peserta merupakan utusan dari lembaga.
Ketua AJI Padang, Syofiardi Bachyul kepada koran ini, mengatakan, acara ini amat bermanfaat bagi jurnalis yang berada di garis terdepan (front line) dalam setiap peristiwa terjadi.
"Di sinilah keahlian dan mental sang jurnalis ditempa dengan sebenarnya," kata Syofiardi.
Memang situasi berbahaya langsung amat dekat dan akrab bagi jurnalis yang berada di lapangan. Pelatihan ini juga menyiapkan materi kewaspadaan dan keamanan sehari-hari.
Materi pelatihan akan diberikan oleh AKE, sebuah lembaga penyedia jasa Pelatihan Keselamatan Jurnalis yang
sudah dikenal luas di dunia. AKE berpusat di Hereford, Inggris. Trainer AKE merupakan tenaga berpengalaman dalam bertuga di daerah-daerh konflik.
(hry)

MISKIN HATI

Seorang teman memberi apresiasi tulisan saya di sini, dengan penuh semangat melalui short message service (SMS). Saya jawab juga dengan penuh penghormatan atas apresiasinya. Kemudian, teman ini meminta saya untuk menulis tentang gaji dewan yang sedang dibicarakan. Lalu saya katakan, sudah terlalu banyak yang menyoalkannya. Semakin dipersoalkan, semakin tajam menyakitkan rakyat.


Sebab, perihnya hidup makin memperjauh rakyat dengan pemimpinnya. Pemimpin hanya memikirkan sesuatu yang tidak riil. Kemajuan, pembangunan, peningkatan ekonomi, pendapatan negara, dan segala macam hal yang tidak dekat dengan rakyat.


Tuesday, January 23, 2007

RIAU TV








Sebagai pendiri Padang TV yang kini hadir di 33 UHF di Kota Padang. Satu dari 13 anggota yang berangkat sebagai pejuang—serasa terbuang—selama lima hari belajar di Riau TV Januari 2007. Pelatihan ini menghantar saya ke meja Presenter Berita Detak Sumbar, Dialog Malam, dll. Menjadi penyiar sebagai perjalanan, pernah mencoba dan eksis selama sembilan bulan—seperti bayi dalam kandungan ya…— tetapi jabatan sesungguhnya adalah Manager Program & Produksi Padang TV 2007. Bermain visual, berbeda dengan bermain kata, visual acap gagal menyampaikan kata. Kata lebih detail, gambar membutuhkan kata.

KULIT KACANG

Raja Cerpen Rusia, Anton Chekov pernah menyatakan, di zaman ini, orang lebih mudah kehilangan kepercayaan diri daripada sarung tangan tua. Hal ini dikarenakan makin ketatnya persaingan dalam hidup.
“Saya hanya ingin mengatakan yang sejujurnya tentang kita. Betapa busuknya kita.” Begitu kata Chekov.
Melalui cerpen, Chekov menyampaikan pesan moral terhadap cara orang berkehidupan. Ia tak segan-segan menyatakan betapa busuknya pergaulan terbangun. Mujurlah itu pandang Chekov itu merupakan hasil analisanya kehidupan di Rusia sana. Namun demikian apa yang ditulis Chekov dengan gaya yang khas membuat karyanya enak dibaca sampai keluar Rusia. Ada sentuhan kemanusiaan yang memang mendobrak batas wilayah karyanya. Oleh karenanya, karya Chekov juga mengena dimana saja dibaca.
“Kadang-kadang juga dekat dengan persoalan di sekeliling kita.” Kata mania Chekov.
Selain Chekov, Jalaluddin Rumi juga sering mengingatkan hal itu dalam puisi-puisi sufistiknya. Di dalam buku Matsnawi-i-Ma’anawi (Couplets of Inner Meaning), sufi agung ini memberi pesan kemanusiaan. Menanamkan ajarannya dalam sebuah kerangka yang secara efektif menjabarkan makna batiniah sebagaimana sebuah pertunjukan atau pameran. Teknik ini bermanfaat melindungi mereka yang tidak mampu menggunakan materi pada level eksperimen yang lebih tinggi; membiarkan mereka yang menginginkan puisi, untuk memilih puisi; memberi hiburan kepada orang-orang yang menginginkan cerita; mendorong kaum intelektual yang menghargai pengalaman-pengalaman.
Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan-ringannya: ”Yang ada di dalam ada di dalam.” Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu.” Ar-Rumi memiliki kegelisahan sufistik yang luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di zamannya. Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda. Bacalah buku Jalan Sufi (The Way of the Sufi): Reportase Dunia Ma’rifat, ditulis Idries Shah.
Membaca Chekov dan ar-Rummi kita seperti ditertawai oleh keduanya. Kebodohan dan ketololan kadang-kadang secara sadar dilakukan demi kepentingan. Kepentingan pribadi membuat orang tak perlu objektif melihat persoalan. Padahal sudah diingatkan dalam ajaran agama, janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. (QS Almaidah 8). Kenyataannya, dunia tidak akan pernah adil. Kearifan makin susah dicari seiring dengan hilangnya percayaan diri. ”Orang sering jadi kacang, lupa pada kulit. Padahal, tanpa kulit, kacang akan jadi ‘kacangan’. Hidup tidak akan pernah adil. Teruslah berjuang untuk mendapatkan kacang tanpa cara ‘kacangan’.” Ungkapan terakhir ini berdengung setelah merenung, entah dari siapa. [] abdullah_khusairi@yahoo.co.id