Pilkada dan Masa Depan Kita
Oleh: Drs Aswadi Munir
- Perantau Minang Asal Agam
- Pengurus Hipmi Pusat
Tidak lama lagi masyarakat Kota Padang yang punya hak pilih akan berbondong- bondong menuju TPS (Tempat Pemungutan Suara) untuk mencoblos pilihan mereka, siapa calon wako/wawako yang mendapat suara terbanyak, mereka itulah yang akan memimpin kota Padang lima tahun ke depan. Persoalan memilih pemimpin (dari wali nagari sampai presiden) bukanlah pekerjaan yang sederhana, bukan sekedar datang ke TPS kemudian mencoblos calon yang disukai, selesai itu habis perkara. Ketika kita menjatuhkan pilihan, pada saat itu sebenarnya kita sedang menentukan nasib kita lima tahun mendatang. Bila salah menentukan pilihan, maka kita harus konsekwen menerima akibat dari kesalahan tersebut.
Masalahnya adalah sejauhmana kemampuan masyarakat bisa menjatuhkan pilihan pada pilihan yang benar (memilih pemimpin yang bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya)? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi cara masyarakat menentukan pilihan. Pertama, masyarakat kita cenderung primodial, sentimen kedaerahan sangat mempengaruhi mereka dalam menentukan pilihan, kalau lain nan diawak manga mamiliah nan diurang, begitu istilah populernya. Kedua, masyarakat kita cenderung transaksiaonal, mereka akan memilih seseorang yang mampu memberikan sesuatu untuk mereka (entah bantuan natura atau ekonomis). Ketiga, masyarakat kita cenderung emosional, itu sebabnya banyak calon pemimpin yang berlomba-lomba mengiklan diri di berbagai media. Itu pula yang mendorong sebagian besar partai politik merekrut para artis menjadi calon legislatif untuk mendulang suara. Kita tentunya berharap, masyarakat Kota Padang sudah meninggalkan kelemahan tersebut.