Habis Tahap I, Terbitlah Tahap II
Padang --- Hingga pertengahan Agustus 2010, progres kegiatan rehab rekon tahap I sudah menyerap dana sebesar 51 persen. Sedangkan progres fisik mencapai 66.67 persen.
Empat sektor penyerapan dana Rp313,9 Miliar tersebut, sektor perumahan, sektor infrastruktur, gedung pemerintah dan lintas sektor, sektor sosial, sektor ekonomi produktif.
Sektor perumahan, tahap I sebagai percontohan untuk 7000 unit rumah telah 60 persen dana terserap. Dengan realisasi fisik 84 persen. Rinciannya, Kota Padang dengan 86 Kelompok Masyarakat (Pokmas), 96 persen selesai.
Kabupaten Padangpariaman sudah mencapai 91 persen dengan 139 Pokmas. Sedangkan Kota Pariaman, 86 persen, dengan 15 Pokmas.
Sementara itu, Kabupaten Agam sudah 67 persen dari 26 Pokmas. Sedangkan Kabupaten Pesisir Selatan 87 persen. Kabupaten Solok, 96 persen dan Pasaman Barat 68 persen. Artinya, dana Rp144 miliar yang dicanangkan untuk sektor perumahan pada tahap I sebagai percontohan akan habis.
Sektor Infrastruktur, Gedung-Gedung Pemerintahan, juga telah memperlihatkan angka penyelesaian yang signifikan. Sub Sektor Jalan dan Jembatan dengan alokasi Rp49 Miliar, realisasi fisik mencapai 45,30 persen dan realisasi keuangan Rp39,7 persen.
Rehabilitasi jalan ini, meliputi Wilayah I, Kabupaten Padangpariaman dan Pesisir. Wilayah II meliputi Pasaman, Pasaman Barat, Kabupaten Agam.
Wilayah III, Tanahdatar, Kabupaten Solok dan Sijunjung. Jembatan di wilayah-wilayah ini juga menjadi bagian yang direkonstruksi.
Untuk sub rekon, Air Minum Rp7 Miliar di Kota Padang, Kota Padang, Kab. Padang Pariaman, Kab. Agam dan Kab. Pesisir Selatan, telah sampai pada titik 40,3 persen. Irigasi Rp36 Miliar telah sampai 48,93 persen.
Sedangkan untuk gedung pemerintahan, sudah dirancang Design Engineering Detail (DED) untuk 15 gedung. DED menghabiskan dana Rp15,6 Miliar, terealisasi 23,50 persen.
Sektor kesehatan dengan kegiatan Peningkatan Kesehatan Masyarakat, Penanggulangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, telah mencapai 72 persen realisasi fisik kegiatan dari Rp22, 7 miliar dana rehab rekon.
Realisasi di Sektor Ekonomi Produktif, dari anggaran Rp225 Miliar, sudah terealisasi 100 persen fisik, dan keuangan 57 persen. Sektor ini melingkupi, peralatan Kesehatan Hewan, Obat Hewan, Peralatan Inseminasi BuatanPadang dan Bantuan Kandang Ternak.
Menanggapi kegiatan yang telah dilaksanakan hingga Agustus 2010 ini, Koordinator TPT Rehab Rekon Sumbar Dr. Sugimin Pranoto mengaku cukup puas.
"Memasuki tahap II, memang banyak yang menilai lamban. Namun perlu dipahami, rehab rekon dimulai Januari akhir, Februari baru memulai koordinasi. Jadi, tidak bisa dinilai satu tahun full kerja," ujar Sugimin.
Sugimin optimis, pada kegiatan Rehab Rekon Sumbar Tahap II akan mengalami percepatan karena mekanisme sudah berubah dan fokus kerjanya cuma dua sektor saja. Perumahan dan Gedung Pemerintahan. [] sumber: Singgalang, Sabtu, 21 Agustus 2010
Saturday, August 21, 2010
Thursday, August 19, 2010
Dana Gempa Cair
"Tahap II Rehab Rekon dengan dana Rp1,65 Triliun, juga telah masuk ke Satuan Anggaran Kerja dan disetujui oleh Menteri Keuangan. Sekarang sedang proses penyusunan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) oleh Dirjen Perbendaharaan," ungkap Sugimin di ruang kerjanya, Rabu (18/8).
PPK Rehab Rekon Sumbar adalah Kepala Dinas Prasarana Jalan dan Tarkim (Prasjal Tarkim), Ir. Dodi Ruswandi, MSC, yang selama ini terlibat aktif dalam penanganan rehab rekon sumbar, dalam bidang perumahan dan infrastruktur.
Penjelasan Sugimin ini, menjawab pernyataan Gubernur Sumbar di Singgalang, Rabu (18/8) seputar dana gempa yang belum jelas. Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno menyatakan, kendala pencairan dana bantuan gempa di pusat.
Dikatakan Sugimin, dana bantuan gempa tetap mengikuti mekanisme keuangan negara. Setelah diusulkan, baru disetuju, lalu diturunkan melalui proses yang ditetapkan peraturan yang berlaku. Beberapa waktu lalu, dana bantuan korban gempa memang telah disetujui oleh DPR RI.
"Tidak ada kendala yang berarti. Mekanismenya memang harus diikuti," ujar Sugimin.
Dana tahap II ini lebih banyak dialokasikan ke perumahan masyarakat. Jika Tahap I rehab rekon hanya bisa membantu sektor perumahan Rp114 miliar, untuk 7000 rumah, sedangkan tahap II, setidaknya Rp118 rumah akan mendapat bantuan. Selain untuk sektor perumahan, dana juga dialokasikan untuk sektor infrastruktur gedung pemerintahan.
“Sembari tahap I diselesaikan, tahap II kita masuki secepatnya,” ujar Sugimin Optimis.
Realisasi tahap I dari Rp313 miliar untuk Sektor Perumahan, Infrastruktur, Kesehatan, Ekonomi Produktif dan Sosial, telah mememasuki tahap akhir monitoring dan evaluasi. [] Sumber, Singgalang. Kamis 19 Agustus 2010
Thursday, August 5, 2010
HBA: Dari Sarolangun Memimpin Jambi
HBA: Dari Sarolangun Memimpin Jambi
Ditulis oleh Alpadli Monas/Roz, Jambi
Akhiri Masa Jabatan, Proyek ZN Disorot Mahasiswa
JAMBI - Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi berharap partai politik (parpol) tidak mengintervensi Hasan Basri Agus-Fachrori Umar (HBA-FU) selama memimpin Jambi. Pernyataan itu digaungkan Gamawan dalam sambutannya saat melantik HBA-FU sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi 2010-2015 di DPRD Provinsi Jambi, kemarin (3/8). Sejak dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi, kata Gamawan, HBA dan FU bukan lagi milik siapa-siapa, termasuk partai politik. HBA-FU, tegasnya, kini resmi menjadi milik rakyat Jambi. Karena itu, dia berharap setiap kebijakan HBA-FU nantinya tidak diintervensi parpol pengusung. “Pembangunan daerah harus benar-benar tanpa campur tangan parpol,” tegas mantan Gubernur Sumbar dan Bupati Solok ini.
HBA sendiri dalam sambutannya menerangkan visi-misi dalam membangun Jambi ke depan. Dia berharap, program-programnya mendapat dukungan masyarakat. “Mudah-mudahan, Jambi Emas bisa terwujud,” ujarnya, disambut tepuk tangan undangan yang hadir.
Jambi Emas adalah kependekan dari Ekonomi Maju, Aman, Adil dan Sejahtera, slogan visi dan misi HBA-FU. “Saya tidak bisa bekerja sendiri, sama-sama kita membangun Jambi,” begitu HBA menutup pidatonya.
Prosesi pelantikan dimulai sekitar pukul 10.20, dihadiri Ketua DPRD Provinsi Jambi Effendi Hatta sebagai pemimpin sidang istimewa di ruang rapat utama DPRD. Zulkifli Nurdin, Gubernur Jambi periode 2005-2010, ikut menghadiri acara tersebut untuk menyerahkan jabatannya kepada HBA.
Selama acara berlangsung, di deretan kursi pimpinan sidang, ZN terlihat banyak termenung. Matanya sesekali menerawang. Meski begitu, gubernur yang telah memimpin Jambi selama 10 tahun itu berusaha tampak santai.
Sesekali, dia meladeni bisik-bisik Gamawan Fauzi yang duduk di sebelahnya, sambil memiringkan tubuh. Sementara, HBA-FU tak banyak senyum. Kedua tokoh itu hanya bersender di kursi masing-masing sambil memperhatikan jalannya acara sesi per sesi.
Pelantikan HBA-FU ditandai pengambilan sumpah jabatan lalu diikuti penandatanganan serahterima jabatan (sertijab) dari Gubernur Jambi periode 2005-2010 Zulkifli Nurdin kepada Gubernur Jambi periode 2010-2015 Hasan Basri Agus. Gamawan Fauzi bertindak sebagai saksi.
Usai sertijab, ZN memeluk HBA. HBA menyambut tak kalah hangat. Untuk beberapa saat, kedua orang penting di Jambi itu tampak berbisik-bisik sambil tertawa kecil. Selanjutnya giliran FU mendapat pelukan ZN, tapi hanya sepintas tak selama ZN memeluk HBA.
Pelantikan berlangsung meriah. Masyarakat dan pendukung HBA-FU, tumpah ruah memenuhi gedung DPRD Provinsi Jambi mulai pelataran parkir sampai ruang sidang utama.
Bahkan, ketika akan memasuki ruang sidang, wartawan pun kesulitan. Petugas Satpol PP yang berjaga berusaha menutup pintu. Alasannya, undangan yang memenuhi ruang sidang utama sudah melampau kapasitas. “Nanti, nanti...,” tegas petugas Satpol PP sambil mendorong massa yang bergerak masuk.
Di dalam, para tamu memenuhi hampir di setiap sudut ruangan. Kebanyakan berdiri di jalan utama dan di belakang ruang itu. Kursi yang sudah disediakan panitia, rata-rata sudah ditempati. Tak ada lagi sisa.
Sementara di jalan, puluhan mahasiswa IAIN Sultan Thaha Syarifudin dan Universitas Jambi yang tergabung Aliansi Tombak (Tonggak Melawan Birokrasi Anti Kerakyatan) berunjuk rasa menuju Kantor Gubernur, dimulai sekitar pukul 10.00. Mereka menyorot beberapa proyek di masa pemerintahan ZN.
Di antaranya, mega proyek pembangunan Jembatan Batanghari II yang menghabiskan dana sebesar Rp 161, 3 miliar. Sedangkan nilai kontraknya, menurut mereka, hanya Rp 94 miliar dan harusnya selesai dalam tiga tahun.
“Dananya dari uang rakyat, pembangunannya memakan waktu tujuh tahun, tapi sampai saat ini belum ada kejelasan terkait mega proyek tersebut,” ujar salah seorang orator.
Proyek patin jambal dan peremajaan (replanting) karet yang tidak terealisasi dengan baik juga menjadi sorotan mereka. Mereka menilai, dua proyek tersebut telah menyebabkan pemborosan APBD.
Tarik ulur relokasi Pasar Angsoduo antara Wali Kota Jambi dan DPRD Provinsi yang perencanaan relokasinya akan menghabiskan dana Rp 119 miliar juga menjadi perhatian. Mereka meminta ini diselesaikan untuk ekonomi rakyat.
Kepada HBA, mahasiswa menuntut agar memperbaiki infrastruktur penunjang perekonomian rakyat, menolak konversi minyak tanah ke gas, menolak kenaikan tarif dasar listrik, dan menjaga stabilitas harga sembako.
Ramadan dan Lebaran Jadi Perhatian
Begitu resmi menjabat Gubernur Jambi periode 2010-2015, HBA tak banyak menyiapkan gebrakan. Dalam pidato pelantikan kemarin (3/8), mantan Bupati Sarolangun ini mengatakan bahwa pada tahun pertama, dia akan memprioritaskan peningkatan kualitas jalan dan jembatan.
Menurutnya, tidak bisa tercapai ekonomi kerakyatan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Nah, dengan baiknya kondisi jalan, maka pengangkutan hasil-hasil pertanian dari sentra pertanian, perkebunan dan perikanan, bisa berjalan lancar. “Ini harus tuntas dalam lima tahun ke depan,” jelasnya.
Di luar ruangan usai pelantikan, HBA menjelaskan bahwa dia tidak akan menyiapkan program 100 hari. Sebab, dalam undang-undang tidak ada aturan soal program tersebut.
Ditemui di kediamannya pada Senin (2/8) lalu, HBA mengatakan bahwa semua program yang dirintis oleh gubernur yang lama, Zulkifli Nurdin, untuk tahun anggaran 2010 akan diinventarisir dan dievaluasi. “Saya juga akan mengamati dan mengevaluasi seluruh SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang ada,” katanya.
“Nanti akan kita bentuk tim untuk mengevaluasi itu, dan mengkaji permasalahan yang ada. Mana yang bisa kita selesaikan, termasuk ranah hukum yang ada, tahun 2011 baru kita mulai program yang baru,” terangnya.
HBA menggarisbawahi, karena ia dilantik menjelang Ramadan dan Idul Fitri, maka dua momentum besar itu menjadi perhatiannya dalam waktu dekat ini. Menurutnya, memasuki Ramadan dan jelang Idul Fitri, akan muncul gejolak harga sembako.
Yang mengkhawatirkan, kata dia, bila terjadi kenaikan drastis. “Tentu ini perlu antisipasi, akan kita kaji agar masyarakat tidak repot,” sebutnya. Arus mudik lebaran, lanjutnya, juga memerlukan perhatian khusus, terutama terkait masalah kondisi jalan.
“Kita berharap, jangan sampai pemudik berlebaran di jalan. Itulah program dalam menghabisi tahun anggaran 2010. Dan itu bukanlah program 100 hari,” terangnya.
Secara tegas, HBA mengatakan tidak menyukai pejabat yang cenderung memberikan laporan “Asal Bapak Senang” atau ABS. Dia berharap para pejabat melaporkan apa adanya. Dia pun akan bekerja apa adanya. “Jika lima tahun ini saya tidak mampu, masyarakat jangan memilih saya (lagi),” sambungnya.(*/roz) sumber, www.jambi-independen.co.id
Ditulis oleh Alpadli Monas/Roz, Jambi
Akhiri Masa Jabatan, Proyek ZN Disorot Mahasiswa
Jambi Emas adalah kependekan dari Ekonomi Maju, Aman, Adil dan Sejahtera, slogan visi dan misi HBA-FU. “Saya tidak bisa bekerja sendiri, sama-sama kita membangun Jambi,” begitu HBA menutup pidatonya.
Prosesi pelantikan dimulai sekitar pukul 10.20, dihadiri Ketua DPRD Provinsi Jambi Effendi Hatta sebagai pemimpin sidang istimewa di ruang rapat utama DPRD. Zulkifli Nurdin, Gubernur Jambi periode 2005-2010, ikut menghadiri acara tersebut untuk menyerahkan jabatannya kepada HBA.
Selama acara berlangsung, di deretan kursi pimpinan sidang, ZN terlihat banyak termenung. Matanya sesekali menerawang. Meski begitu, gubernur yang telah memimpin Jambi selama 10 tahun itu berusaha tampak santai.
Sesekali, dia meladeni bisik-bisik Gamawan Fauzi yang duduk di sebelahnya, sambil memiringkan tubuh. Sementara, HBA-FU tak banyak senyum. Kedua tokoh itu hanya bersender di kursi masing-masing sambil memperhatikan jalannya acara sesi per sesi.
Pelantikan HBA-FU ditandai pengambilan sumpah jabatan lalu diikuti penandatanganan serahterima jabatan (sertijab) dari Gubernur Jambi periode 2005-2010 Zulkifli Nurdin kepada Gubernur Jambi periode 2010-2015 Hasan Basri Agus. Gamawan Fauzi bertindak sebagai saksi.
Usai sertijab, ZN memeluk HBA. HBA menyambut tak kalah hangat. Untuk beberapa saat, kedua orang penting di Jambi itu tampak berbisik-bisik sambil tertawa kecil. Selanjutnya giliran FU mendapat pelukan ZN, tapi hanya sepintas tak selama ZN memeluk HBA.
Pelantikan berlangsung meriah. Masyarakat dan pendukung HBA-FU, tumpah ruah memenuhi gedung DPRD Provinsi Jambi mulai pelataran parkir sampai ruang sidang utama.
Bahkan, ketika akan memasuki ruang sidang, wartawan pun kesulitan. Petugas Satpol PP yang berjaga berusaha menutup pintu. Alasannya, undangan yang memenuhi ruang sidang utama sudah melampau kapasitas. “Nanti, nanti...,” tegas petugas Satpol PP sambil mendorong massa yang bergerak masuk.
Di dalam, para tamu memenuhi hampir di setiap sudut ruangan. Kebanyakan berdiri di jalan utama dan di belakang ruang itu. Kursi yang sudah disediakan panitia, rata-rata sudah ditempati. Tak ada lagi sisa.
Sementara di jalan, puluhan mahasiswa IAIN Sultan Thaha Syarifudin dan Universitas Jambi yang tergabung Aliansi Tombak (Tonggak Melawan Birokrasi Anti Kerakyatan) berunjuk rasa menuju Kantor Gubernur, dimulai sekitar pukul 10.00. Mereka menyorot beberapa proyek di masa pemerintahan ZN.
Di antaranya, mega proyek pembangunan Jembatan Batanghari II yang menghabiskan dana sebesar Rp 161, 3 miliar. Sedangkan nilai kontraknya, menurut mereka, hanya Rp 94 miliar dan harusnya selesai dalam tiga tahun.
“Dananya dari uang rakyat, pembangunannya memakan waktu tujuh tahun, tapi sampai saat ini belum ada kejelasan terkait mega proyek tersebut,” ujar salah seorang orator.
Proyek patin jambal dan peremajaan (replanting) karet yang tidak terealisasi dengan baik juga menjadi sorotan mereka. Mereka menilai, dua proyek tersebut telah menyebabkan pemborosan APBD.
Tarik ulur relokasi Pasar Angsoduo antara Wali Kota Jambi dan DPRD Provinsi yang perencanaan relokasinya akan menghabiskan dana Rp 119 miliar juga menjadi perhatian. Mereka meminta ini diselesaikan untuk ekonomi rakyat.
Kepada HBA, mahasiswa menuntut agar memperbaiki infrastruktur penunjang perekonomian rakyat, menolak konversi minyak tanah ke gas, menolak kenaikan tarif dasar listrik, dan menjaga stabilitas harga sembako.
Ramadan dan Lebaran Jadi Perhatian
Begitu resmi menjabat Gubernur Jambi periode 2010-2015, HBA tak banyak menyiapkan gebrakan. Dalam pidato pelantikan kemarin (3/8), mantan Bupati Sarolangun ini mengatakan bahwa pada tahun pertama, dia akan memprioritaskan peningkatan kualitas jalan dan jembatan.
Menurutnya, tidak bisa tercapai ekonomi kerakyatan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Nah, dengan baiknya kondisi jalan, maka pengangkutan hasil-hasil pertanian dari sentra pertanian, perkebunan dan perikanan, bisa berjalan lancar. “Ini harus tuntas dalam lima tahun ke depan,” jelasnya.
Di luar ruangan usai pelantikan, HBA menjelaskan bahwa dia tidak akan menyiapkan program 100 hari. Sebab, dalam undang-undang tidak ada aturan soal program tersebut.
Ditemui di kediamannya pada Senin (2/8) lalu, HBA mengatakan bahwa semua program yang dirintis oleh gubernur yang lama, Zulkifli Nurdin, untuk tahun anggaran 2010 akan diinventarisir dan dievaluasi. “Saya juga akan mengamati dan mengevaluasi seluruh SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang ada,” katanya.
“Nanti akan kita bentuk tim untuk mengevaluasi itu, dan mengkaji permasalahan yang ada. Mana yang bisa kita selesaikan, termasuk ranah hukum yang ada, tahun 2011 baru kita mulai program yang baru,” terangnya.
HBA menggarisbawahi, karena ia dilantik menjelang Ramadan dan Idul Fitri, maka dua momentum besar itu menjadi perhatiannya dalam waktu dekat ini. Menurutnya, memasuki Ramadan dan jelang Idul Fitri, akan muncul gejolak harga sembako.
Yang mengkhawatirkan, kata dia, bila terjadi kenaikan drastis. “Tentu ini perlu antisipasi, akan kita kaji agar masyarakat tidak repot,” sebutnya. Arus mudik lebaran, lanjutnya, juga memerlukan perhatian khusus, terutama terkait masalah kondisi jalan.
“Kita berharap, jangan sampai pemudik berlebaran di jalan. Itulah program dalam menghabisi tahun anggaran 2010. Dan itu bukanlah program 100 hari,” terangnya.
Secara tegas, HBA mengatakan tidak menyukai pejabat yang cenderung memberikan laporan “Asal Bapak Senang” atau ABS. Dia berharap para pejabat melaporkan apa adanya. Dia pun akan bekerja apa adanya. “Jika lima tahun ini saya tidak mampu, masyarakat jangan memilih saya (lagi),” sambungnya.(*/roz) sumber, www.jambi-independen.co.id
Pasien Cepat Sehat Tak Hanya Karena Obat Mahal
Dr.Mellyarti Syarif, M.Pd Dikukuhkan
PADANG--- Penyembuhan pasien tidak hanya diperoleh dari obat-obatan mahal saja. Pasien juga butuh bimbingan konseling dari penyuluh agama. Cara ini akan membuat pasien menjadi lebih sabar dalam menghadapi penyakit yang sedang diidapnya.
“Warga rumah sakit merasakan manfaat atas keberadaaan penyuluh agama. Warga yang mendapatkan pelayanan konseling secara mendalam memperoleh kenyamanan dengan motivasi kesabaran atas apa yang dialaminya dari pembimbing rohani.”
Pernyataan tersebut merupakan hasil Disertasi Mellyarti syarif, dosen Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang yang akan meraih gelar doktor pada promosi doktornya di Aula Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang hari ini, Kamis (05/08) pukul 19.30 WIB.
Dalam sidang senat terbuka IAIN Imam Bonjol Padang ini, perempuan yang juga Pembantu Dekan III Bidang kemahasiswaan ini akan mempertahankan disertasinya dengan judul “Pelayanan Bimbingan Penyuluhan Islam Terhadap Pasien (Studi Kasus di Rumah Sakit Umum Pusat DR. M Jamil dan Rumah sakit Islam Ibnu Sina YARSI Padang).
Mellyarti tercatat juga doktor keempat yang dikeluarkan pasca IAIN Imam Bonjol, namun bukan dari lingkungan IAIN Imam Bonjol Padang. Dan gelar doktor pertama yang dikeluarkan pasca untuk lembaga yang sama.
Sebelum melangsungkan promosi doktor ini, Mellyarti telah melewati ujian tertutup yang diuji oleh 7 orang doktor. Diantaranya, Prof DR H Amri Yusuf, M.Pd. Prof DR H Syafruddin Nurdin, M.Pd, Prof DR H Salmadanis, M.Ag, Prof DR H. Asnawir, Prof Hj Hayati Nizar (Alm), Prof DR Yahya Jaya, M.A dan Prof DR H Makmur Syarif, Sh, M.Ag yang bertindak sebagai pemimpin sidang.
Disertasi dosen fakultas dakwah yang mengambil S3 konsentrasi pendidikan islam ini meneliti tentang idealnya penyuluh islam di rumah sakit. Sedangkan fokes penelitiannya yaitu implikasi pelayanan bimbingan dan penyuluh terhadap pasien di rumah sakit terhadap kesabaran, peningkatan ibadah, percepatan penyembuhan dan upaya pengembangan bimbdi rumah sakit.ingan penyuluhan islam Ia mengambil sampel di dua rumah sakit di kota Padang yaitu rumah sakit DR M Jamil Padang dan rumah sakit YARSI Ibnu Sina Padang.
Kesehariannya, Ketua Persatuan Majelis Taklim (PMT) ini memang mengajar mata kuliah konseling dan penyuluhan islam di Fakultas Dakwah, IAIN Imam Bonjol Padang. Selain Aktif di berbagai organisasi, ibu dari 4 orang anak ini juga telah menulis sebanyak 11 karya tulis. Ia berharap promosi gelar doktor yang dilangsungkannya malam ini dapat berjalan dengan sukses. “Saya berharap promosi nanti malam berjalan sukses karena juga akan menjadi dosen pertama yang meraih gelar doktor lulusan Pasca IAIN,” ujarnya mengakhiri. [] RELIS PANITIA / Singgalang, Padang Ekspres, Kamis, 5 Agustus 2010
“Warga rumah sakit merasakan manfaat atas keberadaaan penyuluh agama. Warga yang mendapatkan pelayanan konseling secara mendalam memperoleh kenyamanan dengan motivasi kesabaran atas apa yang dialaminya dari pembimbing rohani.”
Pernyataan tersebut merupakan hasil Disertasi Mellyarti syarif, dosen Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang yang akan meraih gelar doktor pada promosi doktornya di Aula Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang hari ini, Kamis (05/08) pukul 19.30 WIB.
Dalam sidang senat terbuka IAIN Imam Bonjol Padang ini, perempuan yang juga Pembantu Dekan III Bidang kemahasiswaan ini akan mempertahankan disertasinya dengan judul “Pelayanan Bimbingan Penyuluhan Islam Terhadap Pasien (Studi Kasus di Rumah Sakit Umum Pusat DR. M Jamil dan Rumah sakit Islam Ibnu Sina YARSI Padang).
Mellyarti tercatat juga doktor keempat yang dikeluarkan pasca IAIN Imam Bonjol, namun bukan dari lingkungan IAIN Imam Bonjol Padang. Dan gelar doktor pertama yang dikeluarkan pasca untuk lembaga yang sama.
Sebelum melangsungkan promosi doktor ini, Mellyarti telah melewati ujian tertutup yang diuji oleh 7 orang doktor. Diantaranya, Prof DR H Amri Yusuf, M.Pd. Prof DR H Syafruddin Nurdin, M.Pd, Prof DR H Salmadanis, M.Ag, Prof DR H. Asnawir, Prof Hj Hayati Nizar (Alm), Prof DR Yahya Jaya, M.A dan Prof DR H Makmur Syarif, Sh, M.Ag yang bertindak sebagai pemimpin sidang.
Disertasi dosen fakultas dakwah yang mengambil S3 konsentrasi pendidikan islam ini meneliti tentang idealnya penyuluh islam di rumah sakit. Sedangkan fokes penelitiannya yaitu implikasi pelayanan bimbingan dan penyuluh terhadap pasien di rumah sakit terhadap kesabaran, peningkatan ibadah, percepatan penyembuhan dan upaya pengembangan bimbdi rumah sakit.ingan penyuluhan islam Ia mengambil sampel di dua rumah sakit di kota Padang yaitu rumah sakit DR M Jamil Padang dan rumah sakit YARSI Ibnu Sina Padang.
Kesehariannya, Ketua Persatuan Majelis Taklim (PMT) ini memang mengajar mata kuliah konseling dan penyuluhan islam di Fakultas Dakwah, IAIN Imam Bonjol Padang. Selain Aktif di berbagai organisasi, ibu dari 4 orang anak ini juga telah menulis sebanyak 11 karya tulis. Ia berharap promosi gelar doktor yang dilangsungkannya malam ini dapat berjalan dengan sukses. “Saya berharap promosi nanti malam berjalan sukses karena juga akan menjadi dosen pertama yang meraih gelar doktor lulusan Pasca IAIN,” ujarnya mengakhiri. [] RELIS PANITIA / Singgalang, Padang Ekspres, Kamis, 5 Agustus 2010
Monday, July 26, 2010
Menunggu Gubernur Baru
Oleh: Abdullah Khusairi
Pesta Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) telah usai. Sebuah perhelatan dengan menghabiskan dana miliaran rupiah dari pasangan calon yang ikut dalam suksesi dan dana negara. Rakyat diberi suguhan sebentuk pesta. Namanya, pesta demokrasi. Beberapa minggu terakhir saja, kita tak lagi melihat baliho-baliho kampanye di setiap sudut kota.
Pesta telah usai. Gubernur terpilih telah ditetapkan, menunggu pelantikan dan menyimak hasil gugatan di Mahmah Konstitusi (MK). Pasangan terpilih bak sepasang pengantin yang baru saja akad nikah, menunggu pesta perkawinan saja. Dan tentu, menunggu malam pertama dengan getar yang tak tertahan.
Pasangan Irwan Prayitno-Muslim Kasim terpilih sekali putaran saja (32,63 persen). Inilah pilihan rakyat. Hasil pesta demokrasi yang harus dihormati, walau dengan tingkat partisipasi yang masih dipertanyakan. Namun demikian, kerja keras pelaksanaan Pemilukada di tengah penanggulangan bencana dan sepenungguan bantuan bencana, adalah hal yang patut diapresiasikan.
Harapan masyarakat, begitu besar atas terpilihnya pemimpin baru. Harapan itu, kadang terasa naif, kadang terasa realistis. Lebih-lebih ketika dihubungkaitkan dengan masalah kebencanaan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kepastian-kepastian peningkatan kapasitas pelayanan birokrasi kepada masyarakat.
Perubahan untuk Sumbar Lebih Baik. Inilah jargon yang diusung oleh pasangan Nomor 3 Irwan-MK. Sebuah jargon yang di dalamnya berisi janji. Janji untuk lebih baik. Janji adalah utang. Harus dibayar. Apakah bisa lebih baik, atau tidak? Tentu di ujung waktu dari pasangan ini dapat dilihat. Lima tahun lagi.
Sumatera Barat, dari dulu, begitu-begitu saja. Ratusan kali pejabat menyatakan, kemajuan di sana-sini, tetapi secara substansi, dapat dilihat dengan kasat mata. Masih banyak kantong-kantong kemiskinan, masih begitu banyak pembangunan yang timpang. Baik antar kabupaten dan kota, maupun antar bidang kehidupan.
Oleh karenanya, janji dalam visi dan misi pasangan calon gubernur terpilih, adalah harapan besar kita semua. Lebih-lebih mengingat jargon yang telah disuarakan kemana-mana, terbaca di setiap sudut kota. Pertanyaannya? Apakah mampu atau tidak? Harapan kita tentu saja bisa direalisasi, dengan catatan, bisa didukung seluruh elemen. Menghormati seluruh kebijakan dari pemimpin baru kita dan memberi dorongan agar kerja keras dan cerdas di seluruh lini aparat pemerintah daerah.
Retorika politik bisa saja berubah-ubah. Namun janji tetaplah janji. Harus ditepati. Dan tidaklah arif, jika nanti mencari dalih, bahwa tugas gubernur dan wakil gubernur hanya termaktub dalam surat keputusan dan perundang-undangan, berlindung di balik angka-angka nisbi, kegagalan dilapis dengan pencitraan.
Pemimpin yang berhasil dan diakui, dikenang sepanjang hayatnya, adalah pemimpin yang bekerja keras dan cerdas. Di hati masyarakat punya monumen kepemimpinan yang selalu diingat. Hati rakyat sudah terbiasa luka, berdarah, kecewa, tapi mereka tak kan pernah bisa didustai dua kali. Kita tunggu kiprah pemimpin baru.
Apa yang paling penting bagi rakyat masyarakat Sumatera Barat? Salah satu yang paling krusial adalah rasa aman. Dalam Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Rasa aman ini, menduduki peringkat kedua, setelah sandang pangan.
Menjawab kebutuhan rasa aman itu, pemerintah dan legislatif membuat UU No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Undang-Undang ini, juga mengamanatkan agar setiap daerah membuat badan penanggulangan bencana beserta perangkatnya.
Sumbar sudah memiliki itu, namun masih baru. Baru dibuat setelah bencana gempa mengguncang beberapa kali. Kita butuh manajemen kebencanaan yang profesional. Ini harus menjadi prioritas di atas yang lain. Sebab, negeri ini sangat rawan bencana. Seperti rawannya kebakaran, oleh karenanya, manajemen kebencanaan dengan segala persiapannya, tidak bisa lagi diremehkan. Kehadiran sebuah badan penanggulangan bencana seharusnya adalah menjawab dari rasa takut dan melahirkan rasa aman.
Jika sudah dengan persiapan yang matang, paling tidak, kerugian dari bencana alam, baik banjir, galodo, gempa, badai, dapat diminimalisir. Bencana memang tidak diduga, tapi alam akan tidak bersahabat jika manusia lupa.
Pola kepemimpinan daerah yang memiliki isu selama ini soal penghargaan dari pemerintahan pusat agaknya mesti dirubah, bahwa pemimpin yang berhasil itu haruslah diberi penghargaan oleh rakyat sendiri.
Kiprah gubernur baru merupakan harapan besar, apalagi mengingat jargon, Perubahan Untuk Sumbar Lebih Baik. Semoga janji itu ditepati dan nyata. Tidak semu dan bisu. Kita tunggu! [] Sumber www.hariansinggalang.co.id
Pesta Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) telah usai. Sebuah perhelatan dengan menghabiskan dana miliaran rupiah dari pasangan calon yang ikut dalam suksesi dan dana negara. Rakyat diberi suguhan sebentuk pesta. Namanya, pesta demokrasi. Beberapa minggu terakhir saja, kita tak lagi melihat baliho-baliho kampanye di setiap sudut kota.
Pesta telah usai. Gubernur terpilih telah ditetapkan, menunggu pelantikan dan menyimak hasil gugatan di Mahmah Konstitusi (MK). Pasangan terpilih bak sepasang pengantin yang baru saja akad nikah, menunggu pesta perkawinan saja. Dan tentu, menunggu malam pertama dengan getar yang tak tertahan.
Pasangan Irwan Prayitno-Muslim Kasim terpilih sekali putaran saja (32,63 persen). Inilah pilihan rakyat. Hasil pesta demokrasi yang harus dihormati, walau dengan tingkat partisipasi yang masih dipertanyakan. Namun demikian, kerja keras pelaksanaan Pemilukada di tengah penanggulangan bencana dan sepenungguan bantuan bencana, adalah hal yang patut diapresiasikan.
Harapan masyarakat, begitu besar atas terpilihnya pemimpin baru. Harapan itu, kadang terasa naif, kadang terasa realistis. Lebih-lebih ketika dihubungkaitkan dengan masalah kebencanaan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kepastian-kepastian peningkatan kapasitas pelayanan birokrasi kepada masyarakat.
Perubahan untuk Sumbar Lebih Baik. Inilah jargon yang diusung oleh pasangan Nomor 3 Irwan-MK. Sebuah jargon yang di dalamnya berisi janji. Janji untuk lebih baik. Janji adalah utang. Harus dibayar. Apakah bisa lebih baik, atau tidak? Tentu di ujung waktu dari pasangan ini dapat dilihat. Lima tahun lagi.
Sumatera Barat, dari dulu, begitu-begitu saja. Ratusan kali pejabat menyatakan, kemajuan di sana-sini, tetapi secara substansi, dapat dilihat dengan kasat mata. Masih banyak kantong-kantong kemiskinan, masih begitu banyak pembangunan yang timpang. Baik antar kabupaten dan kota, maupun antar bidang kehidupan.
Oleh karenanya, janji dalam visi dan misi pasangan calon gubernur terpilih, adalah harapan besar kita semua. Lebih-lebih mengingat jargon yang telah disuarakan kemana-mana, terbaca di setiap sudut kota. Pertanyaannya? Apakah mampu atau tidak? Harapan kita tentu saja bisa direalisasi, dengan catatan, bisa didukung seluruh elemen. Menghormati seluruh kebijakan dari pemimpin baru kita dan memberi dorongan agar kerja keras dan cerdas di seluruh lini aparat pemerintah daerah.
Retorika politik bisa saja berubah-ubah. Namun janji tetaplah janji. Harus ditepati. Dan tidaklah arif, jika nanti mencari dalih, bahwa tugas gubernur dan wakil gubernur hanya termaktub dalam surat keputusan dan perundang-undangan, berlindung di balik angka-angka nisbi, kegagalan dilapis dengan pencitraan.
Pemimpin yang berhasil dan diakui, dikenang sepanjang hayatnya, adalah pemimpin yang bekerja keras dan cerdas. Di hati masyarakat punya monumen kepemimpinan yang selalu diingat. Hati rakyat sudah terbiasa luka, berdarah, kecewa, tapi mereka tak kan pernah bisa didustai dua kali. Kita tunggu kiprah pemimpin baru.
Apa yang paling penting bagi rakyat masyarakat Sumatera Barat? Salah satu yang paling krusial adalah rasa aman. Dalam Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Rasa aman ini, menduduki peringkat kedua, setelah sandang pangan.
Menjawab kebutuhan rasa aman itu, pemerintah dan legislatif membuat UU No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Undang-Undang ini, juga mengamanatkan agar setiap daerah membuat badan penanggulangan bencana beserta perangkatnya.
Sumbar sudah memiliki itu, namun masih baru. Baru dibuat setelah bencana gempa mengguncang beberapa kali. Kita butuh manajemen kebencanaan yang profesional. Ini harus menjadi prioritas di atas yang lain. Sebab, negeri ini sangat rawan bencana. Seperti rawannya kebakaran, oleh karenanya, manajemen kebencanaan dengan segala persiapannya, tidak bisa lagi diremehkan. Kehadiran sebuah badan penanggulangan bencana seharusnya adalah menjawab dari rasa takut dan melahirkan rasa aman.
Jika sudah dengan persiapan yang matang, paling tidak, kerugian dari bencana alam, baik banjir, galodo, gempa, badai, dapat diminimalisir. Bencana memang tidak diduga, tapi alam akan tidak bersahabat jika manusia lupa.
Pola kepemimpinan daerah yang memiliki isu selama ini soal penghargaan dari pemerintahan pusat agaknya mesti dirubah, bahwa pemimpin yang berhasil itu haruslah diberi penghargaan oleh rakyat sendiri.
Kiprah gubernur baru merupakan harapan besar, apalagi mengingat jargon, Perubahan Untuk Sumbar Lebih Baik. Semoga janji itu ditepati dan nyata. Tidak semu dan bisu. Kita tunggu! [] Sumber www.hariansinggalang.co.id
Thursday, July 22, 2010
Pilkada Usai, Bola Selesai
Malam itu, dunia terjaga. Kesebelasan Spanyol Vs Belanda berlaga final dalam ajang bergengsi, Piala Dunia. Hiruk pikuk perhelatan si kulit bundar ini, menyita dunia. Begitu juga kita di sini, di Ranahminang. Melupakan sejenak tentang bencana, menyimak prediksi si Paul, si gurita hebat di Jerman sana. Dan kita terpesona gemerlap benua hitam, Afrika.
Dan masih dalam bulan yang sama, kita melupakan sejenak bencana karena Pemilukada 2010 untuk 14 Kota Kabupaten plus Provinsi. Hasilnya, kita punya pemimpin baru terpilih. Siapa pun dia, kita harap punya kepedulian yang dahsyat dalam penanggulangan bencana.
Tugas kemanusiaan, penanggulangan bencana tidak bisa dilupakan begitu saja. Sebab bencana selalu mengintai, masyarakat harus tetap diberi mitigasi dan pemahaman yang matang atas geografi yang disebut supermarket bencana ini.
Begitulah, setiap edisi, bulletin ini hadir melaporkan kepada pembaca, seluruh bentuk kegiatan penanggulangan bencana dan rehab rekon yang dicanangkan. Edisi kali ini, hadir dengan segenap "menu", mulai dari rapat koordinasi, perkembangan terbaru pencairan dana, kehadiran Kepala BNPB Dr. Syamsul Maarif dan pelatihan fasilitator.
Bencana datang tak diduga, tak bisa diprediksi si Paul, gurita terkenal itu. Hanya kewaspadaan dan pengetahuanlah, kita bisa selamat. Selamat membaca! [] DAPUR REDAKSI R&R EDISI V JULI 2010
Dan masih dalam bulan yang sama, kita melupakan sejenak bencana karena Pemilukada 2010 untuk 14 Kota Kabupaten plus Provinsi. Hasilnya, kita punya pemimpin baru terpilih. Siapa pun dia, kita harap punya kepedulian yang dahsyat dalam penanggulangan bencana.
Tugas kemanusiaan, penanggulangan bencana tidak bisa dilupakan begitu saja. Sebab bencana selalu mengintai, masyarakat harus tetap diberi mitigasi dan pemahaman yang matang atas geografi yang disebut supermarket bencana ini.
Begitulah, setiap edisi, bulletin ini hadir melaporkan kepada pembaca, seluruh bentuk kegiatan penanggulangan bencana dan rehab rekon yang dicanangkan. Edisi kali ini, hadir dengan segenap "menu", mulai dari rapat koordinasi, perkembangan terbaru pencairan dana, kehadiran Kepala BNPB Dr. Syamsul Maarif dan pelatihan fasilitator.
Bencana datang tak diduga, tak bisa diprediksi si Paul, gurita terkenal itu. Hanya kewaspadaan dan pengetahuanlah, kita bisa selamat. Selamat membaca! [] DAPUR REDAKSI R&R EDISI V JULI 2010
Saturday, July 10, 2010
Mencari Bakat, Menggali Minat
Mendapat kepercayaan dari Plant Indonesia menjadi "guru" dalam Workshop Menulis untuk anak-anak korban bencana, meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Ternyata, bakat dan minat kadang tak perlu hadir bersamaan. Kalau tak berbakat, tapi punya minat besar, maka kemahiran sebuah keterampilan segera bisa diraih. Apalagi bila berbakat sejak awal. Sebaliknya, jika punya bakat tapi tak berminat, maka yang terjadi adalah kesia-siaan!
Di negeri ini, masalah "menulis", bagi banyak orang adalah "masalah besar". Hal ini berawal dari masalah "membaca". Dimana budaya "baca" memang tidak begitu besar. Meminjam istilah Seno Gumira Adjidarma, "membaca" bagi masyarakat kita adalah, hanyalah membaca seberapa besar discount di pusat belanja. Tidak banyak yang lebih dari itu.
Tetapi sebenarnya, bakat selalu terpendam. Jauh dari pusat keramaian dan glamour kehidupan di kota-kota besar, di sebuah daerah yang baru saja dihantam bencana, terdapat talenta-talenta menulis yang luar biasa hebatnya. Kedengarannya memang berlebihan. Tetapi, saya tidak sekali ini menjadi tutor penulisan singkat. Banyak tempat dan kesempatan, bahkan di kampus. Hasilnya, tidaklah sedemikian rupa apresiasi saya terhadap 'anak didik' yang cepat mendapatkan keterampilan khusus menulis ini diberikan. Persoalan klasiknya adalah; banyak orang, sudah ketakutan lebih dahulu sebelum mencoba!
Saya membaca setiap karya dari sekitar 30 orang anak-anak terpilih, dari siswa sekolah dasar, hingga sekolah menengah ke atas. Mereka umumnya, mengaku awalnya tidak menyukai dunia tulis menulis. Namun setelah diperkenalkan, mereka mencoba, dan ternyata bisa. Setelah "dipapah" selama lima kali pertemuan, hasilnya, dua news letter dan satu buku kumpulan tulisan bisa dilahirkan. Tak terbayangkan, bila gerakan Plan ini bisa diikuti oleh NGO lain, akan banyak talenta-talenta terpilih bidang menulis bisa muncul di permukaan. Pada titik ini, guru bahasa Indonesia mereka di sekolah patut memberi apresiasi lebih kepada siswanya.
Menulis memang persoalan sepele bagi yang berbakat dan yang berminat. Seperti keterampilan lain, jika dijalani terus menerus segera mahir. Namun, ada perbedaan mendasar dalam menulis. Dimana, bahan-bahan kalimat yang dibangun seperti batu bata merupakan hasil pencernaan dari pikiran. Bahan-bahan ini masuk ke ruang nalar melalui panca indera yang diasah sedemikian rupa. Dari sinilah, ide-ide yang pada awalnya tidak begitu penting ditangkap menjadi bahan-bahan tulisan.
Peserta workshop ini telah diberikan materi-materi teknis penulisan yang paling mutakhir. Diperkenalkan pada dunia yang berbeda dari sebelumnya. Mereka belum mengenal bacaan-bacaan yang paling baru. Mereka menggeleng kepala ketika ditanya tentang Novel Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, apalagi Harry Potter, Dan Brown, dst.
"Cuma nonton filmnya," begitu jawab mereka.
Padahal, film dan novel adalah hal yang jauh berbeda. Tetapi, bagaimana bila digelitik untuk menulis tentang pengalaman yang mereka rasakan saat bencana 30 September 2010 lalu. Semuanya lancar menulis. Runtut dan menarik. Dari hal-hal kecil sampai hal besar, bisa mereka tangkap. Inilah menariknya, ada daya dorong mereka untuk bercerita. Sebab, cerita mereka masih terpendam dalam kepala masing-masing.
Agaknya, Program Plant Indonesia untuk anak-anak seperti ini harus dilanjutkan di masa-masa mendatang. Tidak hanya satu tempat, satu kecamatan saja. Sebaiknya merata. Sebab, berharap pada dunia pendidikan yang mengutamakan kelulusan Ujian Nasional (UN) dari pada menggali talenta adalah pengharapan yang cuma-cuma. [Abdullah Khusairi] Sandereh, Tahun I Edisi Juli 2010
Di negeri ini, masalah "menulis", bagi banyak orang adalah "masalah besar". Hal ini berawal dari masalah "membaca". Dimana budaya "baca" memang tidak begitu besar. Meminjam istilah Seno Gumira Adjidarma, "membaca" bagi masyarakat kita adalah, hanyalah membaca seberapa besar discount di pusat belanja. Tidak banyak yang lebih dari itu.
Tetapi sebenarnya, bakat selalu terpendam. Jauh dari pusat keramaian dan glamour kehidupan di kota-kota besar, di sebuah daerah yang baru saja dihantam bencana, terdapat talenta-talenta menulis yang luar biasa hebatnya. Kedengarannya memang berlebihan. Tetapi, saya tidak sekali ini menjadi tutor penulisan singkat. Banyak tempat dan kesempatan, bahkan di kampus. Hasilnya, tidaklah sedemikian rupa apresiasi saya terhadap 'anak didik' yang cepat mendapatkan keterampilan khusus menulis ini diberikan. Persoalan klasiknya adalah; banyak orang, sudah ketakutan lebih dahulu sebelum mencoba!
Saya membaca setiap karya dari sekitar 30 orang anak-anak terpilih, dari siswa sekolah dasar, hingga sekolah menengah ke atas. Mereka umumnya, mengaku awalnya tidak menyukai dunia tulis menulis. Namun setelah diperkenalkan, mereka mencoba, dan ternyata bisa. Setelah "dipapah" selama lima kali pertemuan, hasilnya, dua news letter dan satu buku kumpulan tulisan bisa dilahirkan. Tak terbayangkan, bila gerakan Plan ini bisa diikuti oleh NGO lain, akan banyak talenta-talenta terpilih bidang menulis bisa muncul di permukaan. Pada titik ini, guru bahasa Indonesia mereka di sekolah patut memberi apresiasi lebih kepada siswanya.
Menulis memang persoalan sepele bagi yang berbakat dan yang berminat. Seperti keterampilan lain, jika dijalani terus menerus segera mahir. Namun, ada perbedaan mendasar dalam menulis. Dimana, bahan-bahan kalimat yang dibangun seperti batu bata merupakan hasil pencernaan dari pikiran. Bahan-bahan ini masuk ke ruang nalar melalui panca indera yang diasah sedemikian rupa. Dari sinilah, ide-ide yang pada awalnya tidak begitu penting ditangkap menjadi bahan-bahan tulisan.
Peserta workshop ini telah diberikan materi-materi teknis penulisan yang paling mutakhir. Diperkenalkan pada dunia yang berbeda dari sebelumnya. Mereka belum mengenal bacaan-bacaan yang paling baru. Mereka menggeleng kepala ketika ditanya tentang Novel Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, apalagi Harry Potter, Dan Brown, dst.
"Cuma nonton filmnya," begitu jawab mereka.
Padahal, film dan novel adalah hal yang jauh berbeda. Tetapi, bagaimana bila digelitik untuk menulis tentang pengalaman yang mereka rasakan saat bencana 30 September 2010 lalu. Semuanya lancar menulis. Runtut dan menarik. Dari hal-hal kecil sampai hal besar, bisa mereka tangkap. Inilah menariknya, ada daya dorong mereka untuk bercerita. Sebab, cerita mereka masih terpendam dalam kepala masing-masing.
Agaknya, Program Plant Indonesia untuk anak-anak seperti ini harus dilanjutkan di masa-masa mendatang. Tidak hanya satu tempat, satu kecamatan saja. Sebaiknya merata. Sebab, berharap pada dunia pendidikan yang mengutamakan kelulusan Ujian Nasional (UN) dari pada menggali talenta adalah pengharapan yang cuma-cuma. [Abdullah Khusairi] Sandereh, Tahun I Edisi Juli 2010
Friday, July 9, 2010
Sumbar Butuh Prodi Manajemen Penanggulangan Bencana
Bakri menjelaskan, prodi manajemen penanggulangan bencana di Universitas Tarumanegara Jakarta sudah mulai digagas, di ITB juga ada yang fokus pada mitigasi bencana dan di Universitas Gajah Mada (UGM) fokus ke Geologi.
Jadi, di wilayah Sumatra belum ada PT yang membuka prodi tentang manajemen kebencanaan sehingga ahli-ahli dalam penanganan bencana alam masih kurang. Selain itu ujarnya, Sumbar sudah disebut-sebut sebagai daerah supermarket bencana, artinya semua potensi bencana alam ada di wilayah ini, termasuk lintasan patahan, lempengan tektonik dan vulkanik, serta banjir dan longsor perbukitan terdapat di Sumbar.
Jadi, kalau sudah banyak lahir sarjana, bahkan doktor ahli-ahli dalam penanganan bencana sehingga bisa menjadi keunggulan untuk diekspor pengalamannya ke luar negeri.
"Pikiran membuka jurusan manajemen kebencanaan sederhana saja, Indonesia kalau ingin bersaing tentang produk manufaktur sudah ratusan tahun ketinggalan dari China. Kalau bidang pertanian sudah kalah dengan Thailand," katanya.
Selain itu, kalau bersaing dengan teknologi tidak usah jauh-juah bersaing dengan Amerika Serikata, tapi sama India saja Indonesia sudah kalah 60-70 tahun.
"Ke depan Indonesia bisa menjual orang-orang ahli ke luar negeri yang ahli menangani bencana. Makanya perlu dipersiapkan orang yang terampil," katanya.[]
Tuesday, July 6, 2010
900 Fasilitator Tahap II Ikut Pelatihan
Fasilitator terbagi atas, fasilitator teknis dan fasilitator pemberdayaan. Mereka akan bertugas di Kota Padang, Kabupaten Padangpariaman, Kota Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar.
Tugas fasilitator ini adalah, mendampingi Kelompok Masyarakat (Pokmas) dalam mengelola dana bantuan Rp15 Juta untuk Korban Rusak Berat (BR), Rp10 Juta (Rusak Sedang), dan Rp1 Juta (Rusak Ringan). Tugas pendampingan juga termasuk, kampanye rumah aman gempa.
Pada tahap I, pencairan dana Rp144 Miliar sebagai pilot project, sebanyak 301 orang fasilitator yang disebarkan di daerah, Kota Padang, Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Padangpariaman, Kota Pariaman dan Kabupaten Agam. Ini daerah percontohan.
Fasilitator tahap II akan sangat merata, karena dana yang diturunkan Rp1,9 Triliun, khusus untuk perumahan saja. Korban yang dibantu tahap II ini, 143 ribu rumah. [] Abdullah Khusairi
Monday, July 5, 2010
Dinas Kimpraswil Prasjal - BRI Tandatangani MoU
"Ini amanah yang harus diselesaikan dengan baik," ungkap Pimpinan Wilayah BRI Padang, Ano Kurniadi, ketika memberi sambutan dalam acara Penandatanganan MoU, Jumat pagi ini (2/7) di ruang Kepala Dinas Kimpraswil Pemprov Sumbar, di Jl. Taman Siswa No. 1 Padang.
Ano Kurniadi menyebutkan, bantuan langsung perumahan untuk masyarakat melalui BRI kepercayaan dari BNPB. BRI akan bekerja maksimal dengan perangkat yang memang telah siap sebelumnya. Online hingga ke pelosok daerah.
Kepala Dinas Kimpraswil Sumbar, Ir. Dodi Ruswandi menyatakan, MoU ini merupakan perangkat untuk menyukseskan bantuan senilai Rp1,907 Triliun Sektor Perumahan. Bantuan tahap II ini melanjutkan tahap I yang sudah bergulir, untuk Sektor Perumahan Rp114 Miliar dari dana Rehab Rekon Rp313 Miliar yang ditetapkan.
"Sistem yang dibuat sudah sangat jelas, walau terasa agak lambat, tetapi ini lebih baik dari pada tahun 2007 yang tidak punya petunjuk teknis," ungkap Dodi.
Pola bantuan yang sebelumnya melalui bank daerah, langsung ke masyarakat, kali ini langsung dari BRI pusat. Sementara di daerah, langsung menyalurkannya.
Koordinator Tim Pendukung Teknis (TPT) BNPB Rehab Rekon Sumbar, Dr. Sugimin Pranoto, M.Eng, dalam sambutannya, BRI sebagai mitra untuk menyukseskan rehab rekon Sumbar ikut dipercayakan setelah mengikuti seleksi ketat di Kemenkeu dan BNPB. Fasilitas BRI memungkinkan kelompok masyarakat (Pokmas) bisa cepat menerima langsung ke rekening dari pusat pemerintah. [] Abdullah Khusairi Lihat juga di www.rehabrekon-sumbar.org
Thursday, July 1, 2010
TPT Rehab Rekon Akan Gelar Workshop dan Pameran
Hal ini dilaksanakan, berdasarkan Rencana Aksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca Gempa Sumatra Barat 30 September 2009, banyak hal yang telah dilakukan oleh Pemerintah bersama Lembaga Non Pemerintah untuk membantu masyarakat kembali bangkit dan pulih dari musibah.
"Berbagai program sudah dilaksanakan dalam waktu delapan bulan terakhir, perbaikan dan pembangunan rumah, pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan, sarana kesehatan, livelihood dan mata pencaharian, perbaikan sarana dan prasarana dan lain sebagainya," ungkap Koordinator TPT RR Sumbar, Dr. Sugimin Pranoto, M.Eng.
Program pemerintah dan Non Pemerintah (lokal dan internasional) di bidang perbaikan atau pembangunan rumah dan pembangunan hunian sementara pun sudah banyak dilakukan, hanya saja kegiatan tersebut selama ini kurang mendapat banyak publikasi sehingga masyarakat tidak mengetahui perkembangan dan tantangan yang terjadi selama proses rehab–rekon.
Ketidaktahuan ini menyebabkan masyarakat dan media mempersepsikan dengan belum atau bahkan tidak adanya kemajuan yang terjadi.
"Tujuan acaranya, menyebarluaskan informasi kegiatan perbaikan rumah masyarakat yang telah dan akan dilaksanakan oleh pemerintah dan lembaga non pemerintah yang beroperasi di Sumatra Barat," jelas Sugimin.
Selain itu, memaparkan berbagai hasil Rehabilitasi dan Rekonstruksi baik keberhasilanya maupun kendalanya.
"Juga memformulasikan strategi bersama antara lembaga pemerintah (TPT?BNPB), BPBD, SKPD terkait dan lembaga?lembaga non pemerintah lokal dan asing untuk menjalankan program perbaikan perumahan yang lebih baik berdasarkan hasil pembelajaran dan praktek program yang telah dilakukan oleh semua pihak," tambah Anggota TPT, Sugeng Sentosa.
Acara satu hari penuh ini memilih tema, "Dengan kordinasi dan kolaborasi kita tingkatkan percepatan pemulihan perumahan rakyat di Sumatera Barat”
Acara ini setidaknya akan diikuti oleh UN Habitat, Aceh People Forum, Caritas Switzerland, Habitat For Humanity, Cipta Fondasi Komunitas, Build Change, IFRC?PMI, Swiss Labour Asistance, Caritas Carina, GenAssist/CWRWC, dll. [] Abdullah Khusairi
Tuesday, June 29, 2010
Marhalim Zaini Mencipta Rindu
Pengarang : Marhalim ZainiPenerbit : Pustaka Pujangga
Cetakan : I, Juli 2007
Tebal : xx + 120 hlm
Mengenal sosok Marhalim Zaini lebih dekat, membuat tak henti bibir berdecak kagum. Seorang sastrawan Riau masa kini yang pernah menerbitkan Antologi Puisi Segantang Bintang, Sepasang Bulan (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2003) dan Langgam Negeri Puisi (Dewan Kesenian Bengkalis, 2004), Kumpulan Naskah Drama; Di Bawah Payung Tragedi (2003), Kumpulan Esai; Tubuh Teater (2004) dan dua Novel: Getah Bunga Rimba (2005) dan Hikayat Kampung Mati yang pernah dimuat bersambung di Harian Riau Pos dan diterbitkan oleh Penerbit Adicita Yogyakarta. Kali ini ia menghadirkan suasana suram dalam Kumpulan Cerpennya dengan judul Amuk Tun Teja.
“Air dalam bertambah dalam/ hujan di hulu belum lagi teduh/hati dendam bertambah dendam/dendam dahulu belum lagi sembuh! Sampai hati kau, Tuah! Kau renjiskan minyak wangi guna-guna itu ke ranjangku. Pengecut itu namanya!”
Begitu pantun nenek tua yang disinyalir gila ini …Akhirnya setelah perdebatan sengit antara tokoh Aku dan nenek tua, nenek Tun memilih menusukkan keris ke perutnya sendiri. Dan mati…
Penulis kelahiran Teluk Pambang, Bengkalis, Riau 31 tahun lalu ini sempat kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, namun tidak sampai selesai. Beliau yang pernah mengasuh tabloid Shoutul Jami’ah di kampus tersebut kemudian pindah ke Yogyakarta dan merampungkan studinya di Institut Seni Indonesia, jurusan teater.
Membaca 15 Cerita Pendek yang terangkum dalam Kumpulan cerpen ini membuat pembaca seolah dibawa ke dalam suasana yang kelam. Kekuatan Marhalim adalah menulis dengan diksi dan metafora yang puitik. Sempurna indah, meski kelam.
“Demikianlah, kau kukekalkan. Segalanya yang sempat kukenang. Dan hidup di tepian ini, tak banyak yang dapat kuberi nama pada setiap yang singgah, selain laut yang selalu menyimpan ketakterdugaan. Dan aku yakin kau di sana. Aku sering mencuri kabar dari mulut-mulit para pelaut yang singgah, bahwa kau masih di sana. Di suatu tempat yang terlampau asing untuk disebut.” (Hal 2).
Demikian tadi kutipan dari cerpennya yang berjudul “Belajar Bercinta dengan Laut” yang menceritakan tentang kesetiaan nenek tua pada Hang Jebat kekasihnya yang hilang ditelan ombak di laut. Cerpen ini pernah dimuat di Koran Tempo, Minggu 19 Juni 2005 lalu.
Tak mudah memang mengartikan paragraf demi paragraf yang terangkum dalam cerpen-cerpen Marhalim. Pembaca diajak berhenti sejenak memaknainya, hal ini dikarenakan Marhalim membungkus cerita ini dengan kalimat-kalimat puistis metaforis. Butuh ruang kontemplatif bagi pembaca untuk mengerti apa yang disiratkan. Ia sangat bersahaja dalam bertutur, dan embaca buku ini seperti sedang mendengarkan Marhalim bersenandung, menyanyikan lagu-lagu kepedihan.
Gambaran suasana muram juga dapat dibaca dalam cerpen yang berjudul “Malam Lebaran di Pelabuhan”. Dikisahkan pertemua seorang yang bernama Tok Bayan (berdarah Melayu) yang tersingkir dari puaknya dengan Markus berdarah Ambon. Nasib buruk telah mempertemukan mereka. Dan mereka bertujuan sama…pulang ke kampung halaman. Namun akhirnya Tok Bayan dan Markus tak pulang, mereka bersama pergi ke Masjid dan bermaafan pada hari raya, serta tak lupa makan ketupat di kedai kopi Lela.
Cerpen dengan judul “Pengantin Hamil” mengisahkan tentang perempuan yang hamil sebelum menikah. Sejak itu terjailah perubahan tata nilai dalam kehidupan. Hamil di luar nikah dianggap sebagai kelaziman. Bahkan kehamilan dijadikan senjata untuk mewujudkan perkawinan yang sedianya tak berestu.
Marhalim telah mengetengahkan kehidupan yang kental dengan aroma Melayu di dalam buku Kumpulan Cerpen ini. Membaca cerpen ini membangkitkan rindu, bagi pembaca yang berdarah Melayu..ya…..seperti saya ini (Nai) sumber: www.evolia.wordpress.com
Friday, June 25, 2010
Launching Suara Kampus Online
Hal ini disampaikan Aktivis Pers Mahasisa Suara Kampus periode pertama, Emma Yohanna saat launching portal berita suarakampus.com, Rabu (23/06/2010) di Gedung Serbaguna IAIN Imam Bonjol Padang.
“Saya teringat masa lalu ketika kami menerbitkan Suara Kampus dengan sistem manual. Namun kini, perjuangan dan usaha keras kami dilanjutkan adik-adik ini dengan menerbitkan suara kampus versi online. Saya bangga, karena ada generasi penerus dengan semangat juang yang tinggi. Selamat!” ujarnya bernostalgia.
Anggota DPD RI ini berharap, dengan adanya media baru yang memiliki jangkauan yang luas, portal berita suarakampus.com ini, bisa menjadi control dan sarana berkreatifitas bagi civitas akademika.
Pemimpin Umum LPM Suara Kampus Suara Kampus Andri El Faruqi mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi informasi akhir-akhir ini memicu lahirnya portal berita suarakampus.com.
“Kami meneruskan dan menorehkan sejarah baru, dengan menetaskan new media sebagai wadah untuk berkreatifitas dalam meningkatkan produktifitas berkarya. Serta dalam meneruskan amanat founding father Yulizal Yunus dan Zaili Asril, kami akan memberikan warna baru terhadap perkembangan pers mahasiswa di Indonesia,” ujarnya
Awalnya, Suara Kampus yang juga disebut Shout Al- Jami’ah beredar dalam bentuk tabloid (1978-1981), bentuk koran besar (1981-1983), bentuk majalah dengan cover separasi full color (1983-1989), 1989 kembali dalam bentuk tabloid, namun keseluruhannya berbentuk cetak. Tapi sekarang, Suara Kampus memiliki dua versi, cetak dan online.
“Dengan adanya portal berita ini, kita bisa menyampaikan informasi aktual di kampus ini ke seluruh alumni yang tersebar di dalam maupun di luar negeri ini,” ujarnya.
Sementara, Pemimpin Redaksi Suarakampus.com, Syofia Fitri mengatakan, isi suarakampus tak jauh berbeda dengan versi cetaknya, seperti Berita Kampus, Berita Daerah, Opini, Feature, Cerpen, Essay, Puisi, Profil, Tokoh, serta Life Style yang didalamnya ada konsultasi akademik dan agama.
“Tentunya, dengan adanya suarakampus.com, informasi atau peristiwa yang ada di sekitar dan luar kampus bisa dengan cepat, akurat kami sampaikan kepada para pembaca.” ujarnya.
Launching Suara Kampus Online ini dimeriahkan oleh, Talkshow Konvergensi Media Cetak ke Online yang disampaikan oleh Abdullah Khusairi, Mantan Pemimpin Redaksi News Portal www.padang-today.com dan Akademisi IT Politeknik Unand, Yuhefizar, M.Kom. Juga digelar lomba penulisan Opini, Penyiar Radio. Disponsori oleh Operator Seluler, XL. [] Andri El-Faruqi
Subscribe to:
Posts (Atom)