Sunday, November 13, 2011

Sumbar Tak Punya Rencana Induk Kebudayaan

PADANG- Sumatera Barat (Sumbar) harus memiliki Rencana Induk Kebudayaaan Daerah (RIKD). Hal itu dilakukan sebagai bentuk upaya memetakan potensi kebudayaan yang ada di Sumbar.


"Kebudayaan di Sumbar harus dipetakan dalam RIKD. Sehingga arah kebudayaan di Sumbar bisa terlihat dengan jelas," ungkap Budayawan, Abel Tasman, dalam Diskusi bertajuk "Menyigi arah perjuangan hidup orang minang masa kini," di Sekretariat Magistra, Parak Jigarang, Kota Padang, Sabtu (17/09) malam.


Belum adanya RIKD itu, terlihat dengan kurangnya kesadaran berbudaya oleh masyarakat Sumbar yang berfalsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Thursday, November 3, 2011

Hendra Makmur Kembali Pimpin AJI Padang

Arjuna Nusantara --- Suara Kampus

Suarakampus.com — Hendra Makmur kembali memimpin Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang periode 2011-2014. Wartawan Media Indonesia itu meraih suara terbanyak bersama pasangannya Rus Akbar (Okezone.com­­­­).

Konferensi Kota (Konferta) III AJI Padang yang digelar, Sabtu (29/10), di Gedung Abdullah Kamil berlangsung alot. Lebih-lebih ketika akan dibuka sesi pemilihan ketua. Sebagai acara inti, usulan bakal calon ketua dan sekretaris, bermunculan beberapa nama.

Wednesday, October 12, 2011

Sumbar Memerlukan Lobi dan Dana

Diskusi Dua Tahun pascaGempa

Sebuah diskusi terbatas mengenang dua tahun gempa 2009, Redaksi Singgalang mengadakan diskusi terbatas Selasa (27/9). Tampil sebagai narasumber Ketua DPRD Sumbar, Yulteknil, Wawako Padang Mahyeldi Ansharullah, Ka Pusdalops BPBD Sumbar, Ade Edward dan PJOK RR Sumbar, Zulfiatno. Tampil sebagai penanggap pamong senior Rusdi Lubis, Taufik dari LBH, wartawan Darlis Syofyan, Sawir Pribadi dan Erdi Janur. bertindak sebagai moderator Abdullah Khusairi. Hasil diskusi itu dirangkum Septri Lediana dan Arif Rizki. Berikut laporannya:
***
Sampai sejauh itu, sebagian warga masih merenggangkan pintu kamarnya, saat hendak tidur. Jika gempa, bisa cepat menghambur. Gempa 2009 yang dahsyat itu, telah menjadi pelajaran amat berharga.

Tuesday, October 4, 2011

Moderator Anas Urbaningrum


Anas Urbaningrum: Mari Kita Bangun Kebersamaan dalam Bingkai Ke-Indonesiaan
Padang ---- Salah satu agenda kunjungan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Sekjen DPP-PD Edhie Baskoro Yudhoyono beserta rombongan DPP-PD ke Padang, Sumatera Barat (Sumbar), adalah melakukan ramah tamah dan berdialog dengan tokoh-tokoh masyarakat Sumbar.


Ramah tamah dan dialog dengan para tokoh masyarakat Sumbar digelar di Kota Padang, Kamis, 29 September 2011 malam.

Thursday, August 11, 2011

Sebuah Terminal

TERMINAL

Mentari tegak di atasnya. Membakar ubun-ubun. Orang-orang lalu lalang. Tak peduli banyak yang peduli. Paling juga mengernyit dahi. Mereka tetap berjalan lalu lalang. Suara para agen. Riuh menyebut semua nama daerah tujuan bus. Mulai dari yang Angkutan Kota dalam Provinsi (AKDP) hingga Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP).

Tuesday, August 2, 2011

Wartawan Bukan Sekedar Wawancara

Kamis, 26/05/2011 11:43 WIB | Oleh : Yeni Purnama Sari


Berawal dari kisah ‘nestapa seorang wartawan istana’, salah seorang alumni suara kampus angkatan 1998 Maifil Eka Putra mencoba menanamkan ideologi wartawan kepada aktivis suara kampus (SK) di Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SK, Selasa (24/05).


“Ia seorang wartawan yang bertugas di Istana Presiden, dapat bepergian kemana saja dan dihargai pemerintah, namun karena terlena ia akhirnya terbaring tidak berdaya. Banyak penyakit yang dideritanya, bahkan rumah yang dulu ditinggali ditarik pemerintah,” kata Maifil menceritakan kisah itu. “Wartawan seperti inikah yang adek-adek inginkan?,” tanya Maifil.


Diskusipun berjalan hangat, banyak tanggapan dari wartwan SK. “Pekerjaan wartawan tidak menjamin kesejahteraan masa tua, karena itu ia mesti mempersiapkan sesuatu untuk masa tuanya,” ujar Rafi. “Wartawan harus mempertimbangkan usia dalam bertugas, minimal umur 40 tahun ia telah berhenti jadi wartawan,” tanggap Arjuna.

Wednesday, July 20, 2011

Nyanyian Sumbang dari Temasek

Oleh: Abdullah Khusairi


Nyanyian Politisi Partai Demokrat, Nazaruddin dari negeri jiran, Singapura mengguncang aras politik negeri ini. Akibatnya, banyak yang tak enak makan dan tidur dibuatnya. Kampanye anti korupsi dari Partai Demokrat seperti boomerang untuk partai. Sementara, nyanyian itu terus menyatakan nama-nama yang terlibat. Senyatanya, Nazaruddin tidak ingin sendiri. Apalagi dikorbankan!


Suara Nazaruddin boleh jadi dianggap sumbang oleh Partai Demokrat. "Murtad" dari komitmen sebagai kader partai. Membuat murka Ketua Dewan Pembina. Namun di balik itu, sangat merdu bagi partai lain, apalagi bagi media. Agaknya, tak heran bila ada yang terus berkomentar: Teruslah bernyanyi, Nazaruddin! Biar makin jelas siapa sedang memainkan apa. Apa dimainkan siapa. Akhirnya, bagaimana dan seterusnya.


Saturday, July 16, 2011

Asosiasi Persma Sumbar Dideklarasikan

Senin, 28 Maret 2011 03:00


Aktivis Pers Mahasiswa (Persma), Jumat (25/3) di Kampus IAIN Imam Bonjol Padang, men­deklarasikan Asosiasi Persma Sumatera Ba­rat. Asosiasi ini gabungan sembilan Persma yang ada di kampus-kampus perguruan ting­gi di Sumatera Barat. Kehadirannya diha­rapkan menjadi media alternatif di tengah tumbuh kembangnya media mainstreem.


“Ini memungkinkan, Persma pernah melakukannya,” kata Syofiardi Bachyul JB, mantan pengelola Wawasan Proklamator UBH, kini bekerja di The Jakarta Post.


Pers mahasiswa adalah entitas pener­bitan mahasiswa yang ada di kampus perguruan tinggi yang dikelola oleh mahasiswa. Pers mahasiswa di Indonesia sangat penting peranannya dalam gerakan sosial dan gerakan demokrasi.

Wednesday, June 1, 2011

ANAK TIMTIM ALUMNI PADANG JOPANG

Achang Hanyut Dibawa Untung

Darahnya berdesir, jika melihat seseorang mempermainkan bendera merah putih. Sebab, masa lalunya penuh keringat dan darah untuk memilih hidup di bawah naungan merah putih. Berpisah dengan sanak saudara, bercerai-berainya kehidupan.

Abdullah Khusairi – Padang

Itulah Hasan Subang Lamanepa (25). Seorang anak bangsa yang memilih untuk berpisah dengan kedua orang tuanya, pasca konflik bercerainya Timor Leste dari ibu pertiwi. Ia pergi dengan segenap kecewa.

“Terdampar ke Padang tak pernah terpikirkan sebelumnya, nasib ternyata menghanyutkan,” kenang Achang, demikian ia akrab disapa. Terbesit di matanya, kerinduan atas tanah kelahiran di Timor sana. Kenangan yang tak pernah mudah hilang. Rumah yang dibakar massa, mengungsi berbulan-bulan, pahitnya kehidupan, dan seterusnya.

Wednesday, May 4, 2011

Milad Ke-83

Tarbiyah Islamiyah Gelar Lomba Baca Kitab Kuning
PADANG
--- Membaca kitab kuning membutuhkan skill bahasa arab yang tinggi. Bisa berbahasa Arab aktif percakapan, belum tentu bisa membaca kitab kuning. Dalam kitab-kitab klasik inilah, banyak sekali ilmu pengetahuan keagamaan yang masih dibutuhkan dalam konteks kekinian.

“Sebaliknya, mereka yang menguasai kitab kuning, sudah bisa dikatakan, mampu berbahasa arab dengan baik. Ini memang bacaan bagi santri pesantren, namun belum tentu pula bisa dikuasai banyak santri. Jadi, ini membutuhkan skill yang lebih. Mereka yang menguasai nahwu, sharaf, dan ilmu pendukunglah yang bisa membaca kitab kuning,” ungkap Ketua Panitia Pelaksana Milad Tarbiyah Islamiyah Ke-83, H. Baharuddin Djamil, S.IP, kepada koran ini, kemarin.

Tuesday, May 3, 2011

 Milad Tarbiyah Islamiyah Ke-83

Momentum Penguatan Ideologi dan Aksi Sosial
PADANG ---
Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sumatera Barat (Sumbar) akan menggelar Milad ke-83. Milad ini diisi dengan rangkaian kegiatan yang mengacu kepada Khittah Tarbiyah Islamiyah, pendidikan, dakwah dan sosial.
Ketua Pengurus Daerah Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sumbar, H. Boy Lestari Dt. Palindih menyatakan, Milad Ke-83 adalah momentum bagi penguatan Tarbiyah Islamiyah baik secara ideologis, kelembagaan maupun aksi nyata keummatan.
“Momentum bagi pengembangan fungsi organisasi dan penguatan civil soceity yang berbasish budaya melalui program kerja dan proses kaderisasi yang terukur dalam lingkungan Keluarga Besar Tarbiyah Islamiyah; Perwati dan IPTI,” ungkap H. Boy Lestari.

Saturday, April 30, 2011

Paham Radikal Musykil Hidup di Minangkabau

PADANG, KOMPAS.com - Gerakan fundamentalisme dengan kedok agama yang cenderung menggunakan kekerasan dalam doktrinnya dinilai musykil bisa berkembang di Minangkabau.
Hal itu mengemuka dalam perbincangan dengan sosiolog Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Muhammad Taufik dan Nurus Shalihin, dosen Pemikiran Islam Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Abdullah Khusairi, peneliti di Majelis Sinergi Islam dan Tradisi IAIN Imam Bonjol Muhammad Nasir, dan dosen antropologi Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Andri Rosadi di Kota Padang, Selasa (26/4/2011).
Muhammad Taufik mengatakan, hal itu disebabkan latar belakang sosial budaya di Sumatera Barat yang tidak memungkinkan tumbuhnya fanatisme pada ideologi tertentu. Menurut Taufik, representasi kekuasaan pada masyarakat Minangkabau bersifat abstrak dan tidak ada yang bisa saling menguasai, kecuali kebenaran itu sendiri.

Tuesday, April 26, 2011

DRS H AMRUL WAHDI MM


KABIRO AUAK IAIN IMAM BONJOL PADANG,


DRS. H. AMRUL WAHDI, MM


Pulang Ke Padang Membawa Perubahan


Pulang ke ranah sendiri bagi sebagian orang sebuah keputusan berat. Mengingat, rantau telah membuatnya besar dan eksis. Namun bagi Drs. H. Amrul Wahdi MM, pulang ke Padang dengan misi perubahan menjadi tekad yang kuat. “Tak hanya menghapus kerinduan tapi juga membawa sesuatu untuk sebuah perubahan,” ungkap Rang Luhak Limo Puluh ini. Apa saja tekad tersebut? Apa saja yang telah diperbuat selama setahun lebih di lembaga yang ia pimpin? Berikut wawancara khusus Abdullah Khusairi S.Ag M.A., dan Muhammad Nasir, S.S, M.A., beberapa waktu lalu.

Apa yang membawa bapak bisa kembali ke kampung halaman?

Jawabnya, kerinduan! Tapi lebih dari itu, ada tekad untuk lebih dekat dengan kampung halaman. Walau keluarga sudah di Jakarta semua. Jujur saja, setiap orang selalu merindukan masa lalunya. Masa lalu yang tak bisa dijemput kembali kecuali dalam ingatan saja.