Monday, June 4, 2018

Zinedine Zidane Berhenti Sebelum Usai

Zinedine Zidane Berhenti Sebelum Usai

By Abdullah Khusairi - Sabtu, 02 Juni 2018 | 18.11 

BOLASPORT.COM - Kabar mundurnya Zinedine Zidane dari kursi pelatih Real Madrid langsung menghebohkan jagad maya. Media sosial mengharu biru. 
Musim depan, Zizou tak lagi berada di tepi lapangan Real Madrid. Zidane memilih berhenti sebelum usai.
Satu sikap yang dianggap tepat bagi sebagian orang, tetapi sebagian lain banyak yang menyayangkan.
Mereka yang menyayangkan tentunya masih merasakan euforia kesuksesan Zinedine Zidane mengantar Los Blancos meraih trofi Liga Champion 2018.
Sementara mereka yang menyatakan sekarang waktu yang tepat untuk pergi, menganut aliran pemikiran pergi setelah semua terasa usai.
Bagi Zidane, dirinya tentu sudah usai menoreh jalan hidup di Real Madrid. Cukup 2,5 tahun.

Tuesday, May 29, 2018

Catatan Final Liga Champions 2018

Salah Menangis, Nasib Menggelinding di Kaki Bale



BOLASPORT.COM - Sergio Ramos! Sepanjang laga final Liga Champions hingga usai, nama itu menjadi trending topic

Bermacam-macam kata kasar dan konyol dilemparkan banyak pencinta sepak bola ke media sosial.

Netizen mengutuk bek Real Madrid itu setelah membuat penyerang LiverpoolMohamed Salah, cedera pada laga final yang berlangsung Minggu (27/5/2018) dini hari WIB di Stadion NSC Olimpiyskiy, Kiev.

Salah menangis, dia harus keluar lapangan. Cedera bahu yang parah membuatnya tak bisa lagi meneruskan asanya; menjebol gawang Keylor Navas.

Thursday, May 24, 2018

Gerakan Reformasi Berhenti di Kaki Pelangi

Gerakan Reformasi Lesap di Kaki Pelangi 


Hari itu, enam belas tahun lalu, matahari di atas kepala. Panas menyengat. Tapi riuh demonstran yang mengelilingi panggung kecil di tengah lapang seperti tak peduli. Mereka malah merangsek ke depan lalu diminta duduk tertib. Sesekali mengepal ke atas, hidup reformasi! hidup reformasi! Di panggung, orator silih berganti menyampaikan orasi dengan nada yang marah kepada rezim yang sedang berkuasa.

Suasana kembali lebih riuh penuh patriotisme, ketika tokoh penting yang selalu kritis dengan pemerintah Orde Baru, Amien Rais memegang mikropon. Amien Rais dielu-elu. Lalu ia meminta massa tenang dan mulai orasi. Hari itu, Amien menyampaikan tentang rezim yang disebutnya; Tanpa Usaha Tapi Untung Terus (Tutut).

Itulah salah satu suasana demonstrasi akbar yang pernah digelar di Padang selama Mei 1998. Pada klimaknya demonstrasi depan kantor gubernur dan gedung DPRD Sumbar. Ribuan mahasiswa turun ke jalan. Tumpah ruah di Kota Padang. Hal serupa terjadi di provinsi lain. Waktu itu, saya mahasiswa juga. Aktif di pers kampus. 

Thursday, March 29, 2018

REFLEKSI Selembar Idealisme di Meja Redaksi


REFLEKSI
Selembar Idealisme
di Meja Redaksi

ABDULLAH KHUSAIRI

Jika di langit ada lauhul mahfuz, maka di bumi ada media massa.
Emha Ainun Nadjib (2012)

Kutipan di atas tiba-tiba teringat lagi, setelah masuk screenshoot ke WhatsApp Groups (WAG), sebuah surat yang menyatakan agar Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) tak dianjurkan berlangganan Harian Haluan. Entah asli, entah palsu, screenshoot itu merupakan peristiwa penting dunia pers di daerah ini.

Jika screenshoot itu hanyalah hoax maka Harian Haluan akan seperti biasa, menjadi salah satu koran yang akan dibaca oleh jajaran pejabat pemerintah, khususnya Pemprov. Melalui fasilitas anggaran publik, Harian Haluan akan diantar ke ruang-ruang pejabat Pemprov. Tetapi jika benar, Harian Haluan akan mengalami penyusutan langganan di Pemprov. Serta pejabat-pejabat pemerintah tidak akan bersua dengan sajian berita dari sebuah harian tua ini. Kecuali beli sendiri.

Monday, March 26, 2018

Gagal Paham Sistem Pendidikan Negeri Ini

Gagal Paham Sistem Pendidikan Negeri Ini 

Nyaris saban semester, anak saya selalu ada dapat brosur-brosur kursus mahal tapi ada sedikit diskon. Seperti ingin menyatakan, kursus di sini akan membuat anak jadi cerdas! Saya mengurut dada, bertanya dalam hati, ada apa dengan pendidikan kita. Bukankah ini harusnya pukulan bagi guru-guru di sekolah? 

Tapi sudahlah, jangan-jangan ini juga bentuk kerja sama antar lembaga. Semoga saya memang sedang "gagal paham" tentang sistem pendidikan kita yang hebat ini. Sebab, ketika si sulung memasuki peringkat lima besar, juga mendapat brosur itu. Sebuah kesempatan! Tetapi dibaliknya, uang, uang, uang. Pendidikan memang mahal, kita harus sadar itu. 

Agus Harimukti Yudhoyono - AHY


Jalan Politik AHY


Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) baru saja menyudahi program "Ngariung di Jabar." Sebagai Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemilukada 2018 dan Pilpres 2019 Partai Demokrat, AHY mulai menjalani aktivitas politik praktis yang kian mendaki tetapi mengasyikkan. Ia sangat menikmati setiap kota yang disinggahinya.

Hingga hari ini, AHY masuk dalam pusaran bursa Cawapres Jokowi. Namun dinamika dan kontestasi politik masih terus berkembang. Jokowi dan tuhanlah yang tahu, siapa yang bakal dipilihnya. Yang jelas, ada banyak nama yang terus disebutkan di media, AHY selalu masuk dalam pusaran tersebut.

Jokowi, sebagai incumbent, tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan yang amat mutakhir akan mengeluarkan nama dari saku depannya di saat yang tepat. Akankah AHY nama itu? Wallahua'alam.

Wednesday, March 21, 2018

In Memoriam Julnadi, Jurnalis Padang Ekspres


In Memoriam Julnadi, Jurnalis Padang Ekspres
Aku Juga Mau Jadi Wartawan, Bang!

"Kau mau jadi wartawan juga!?" dia tersenyum kecut. Saya tahu, dia harus dapat kerja selepas sarjana. Sarjana yang terbilang lama. Tapi ia masak. Dunia teater sudah tak diragukan lagi. Sastra sudah akrab. Jadi wartawan tidaklah sulit baginya.

Benar. Akhirnya dia jadi wartawan Harian Pagi Padang Ekspres. Pas ketemu, wajahnya bersih, pakaiannya necis. Tak culun lagi, seperti waktu mahasiswa. Senyumnya merekah. Sudah berani menyapa saya di kantin kampus.

Itulah Julnadi (32). satu dari sekian banyak wartawan muda yang bersemai di Kampus Lubulintah, Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Dia aktif di dunia kreatif, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Imam Bonjol (TIB) Padang.

Thursday, March 15, 2018

GOL

Mengolah Sepakbola
Menjadi Sastra 


Judul : Gol! 
Penulis    : Luigi Garlando
Penerbit  : Erlangga for Kids
Cetak : 2008
Tebal : 143 Halaman

Jarang sekali olahraga jadi bahan dasar oleh sastrawan. Inilah buku yang mengolah sepak bola dalam bentuk sastra. Suspensi penceritaan menjadi menarik dan sulit ditebak kemana arah "bola" dimainkan penulis.

Menulis cerita memang membutuhkan alur yang disebut alur, tokoh rekaan pratagonis maupun antagonis, lalu memiliki ending yang tajam. Buku ini juga mengikuti aturan itu. Tetapi kemasan penceritaan justru menjadi amat lucu karena penulis melaporkan kejadian di lapangan, tribun, lalu di kamar pengganti. Cerita yang lugu tetapi menyentak dan memiliki ending menarik dari bab ke bab. Mengingatkan novel-novel karya Dan Brown. Jika tidak tertegun, pembaca akan berdecak, atau setidaknya tersenyum simpul. 

Sunday, March 11, 2018

Menunggu Ijtihad SBY


Demokrat dilanda kiamat. Kiamat tidak saja sudah dekat, tapi sudah terjadi. Pecah kongsi itu makin pasti. Friksi-friksi memang sudah mengharu biru si biru. Semua berawal dari libido kekuasaan dan godaan materi!

Inilah tabiat dari komunikasi kelompok dalam sebuah komunitas, apapun bentuk komunitas tersebut. Boleh partai, Ormas, maupun lembaga bisnis. Ada proses pendewasaan dalam komunitas tersebut melalui ajang konflik intern. Antar individu saling memengaruhi di dalam sistem yang terbangun masih terlalu pagi. (centrifugal theory = teori keterpelantingan)

Friday, March 9, 2018

CADAR

Cadar 

Periksa kembali statuta tentang kewajiban dan hak mahasiswa. Termasuk tata aturan berpakaian di dalam kampus. Lihat juga Undang Undang Pendidikan, UU Perguruan Tinggi. Mengaculah ke situ. 

Pepatah mengatakan, tiba di kandang kambing mengembek, tiba di kandang harimau mengaum. Memaksa kemauan di tempat orang yang punya otoritas mengatur, jelas tidak demokratis! 

KOMENTAR


Gerakan Reformasi
Berhenti di Kaki Pelangi


Hari itu, enam belas tahun lalu, matahari di atas kepala. Panas menyengat. Tapi riuh demonstran yang mengelilingi panggung kecil di tengah lapang seperti tak peduli. Mereka malah merangsek ke depan lalu diminta duduk tertib. Sesekali mengepal ke atas, hidup reformasi! hidup reformasi! Di panggung, orator silih berganti menyampaikan orasi dengan nada yang marah kepada rezim yang sedang berkuasa.

Suasana kembali lebih riuh penuh patriotisme, ketika tokoh penting yang selalu kritis dengan pemerintah Orde Baru, Amien Rais memegang mikropon. Amien Rais dielu-elu. Lalu ia meminta massa tenang dan mulai orasi. Hari itu, Amien menyampaikan tentang rezim yang disebutnya; Tanpa Usaha Tapi Untung Terus (Tutut).

Tuesday, March 6, 2018

Lonceng Cinta di Sekolah Guru - Khairul Jasmi


nresensi
Tukang Jahit Tak Punya Baju

Judul              : Lonceng Cinta di Sekolah Guru
Penulis            : Khairul Jasmi
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Cetak              : Maret 2012
ISBN               : 978-979-22-8169-9
Resensiator    : Abdullah Khusairi  

Romantika remaja adalah kejenakaan. Ketika benih-benih cinta mulai tumbuh di hati, berat bagi seorang remaja harus menerima kenyataan demi kenyataan yang tak sesuai dengan harapan. Kenapa? Tersebab ia baru pertama merasakan dan menganggap semuanya mesti sesuai dengan harapan. Padahal, hidup tidak selalu begitu. Banyak yang tak sesuai harapan. Sejak itulah pada dasarnya kehidupan dimulai. Mulai disadari, mulai dipahami.  

Kadang-kadang realitas itu begitu pahit, kadang sebaliknya, begitu manis. Hanya saja, pahit dan manis begitu liar untuk dikuasai. Sehingga, sulit sekali menjalani nasib agar berjalan datar. Mapan. Nasib kadang menukik ke dasar, lalu bangkit ke angkasa, tapi terjerembab lagi.
Bagi mereka yang suka hidup dinamis, bolehlah ia menikmatinya sebagai tantangan atau paling tidak menjadi mainan hidupnya. Atau bagi mereka yang kaya harta, boleh jugalah membiarkan dinamika ini menjadikannya proses pendewasaan dalam menghadapi hidup ini. Tetapi ini ceritanya beda. Lain. Ini nasib yang sungguh-sungguh tragis. Luka yang menyayat jantung. Kadang juga pilu tak berkesudahan. Dunia remaja menjelang dewasa adalah gelombang tarik menarik antara pilihan-pilihan. Lalu pasrah dengan keadaan. Selebihnya, mengutuk nasib yang naif.

Sunday, March 4, 2018

Agama Politik - Politik Agama



Agama Politik, Politik Agama

ABDULLAH KHUSAIRI

Kontestasi agama di ruang publik (public sphere) kerap menampakkan wajah yang seram dari pada wajah damai. Khususnya di media sosial, wajah seram itu menjadi senjata untuk menyerang kelompok lain secara kasar. Tujuan beragama tampaknya sudah sia-sia.

Tentu tidak semua orang beragama yang berbuat demikian. Hanya sebagian kecil saja yang serupa itu, tetapi mereka sangat aktif menyudutkan yang lain. Mereka yang sebagian kecil ini, sebenarnya bukanlah orang yang khatam terhadap ajaran agama, tetapi yang juga masih belajar atau sudah merasa pintar.

Sayangnya, mereka ini sedang berada dalam euforia beragama dan tunduk pada suatu kepentingan yang sedang diperjuangkan. Sebuah perasaan beriman yang tinggi (extace) ketika sudah bicara agama dan melemparkannya ke ruang publik. Mereka sedang menjalankan peran, agama politik dan politik agama.