Monday, January 29, 2007

AJI Gelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis



AJI Gelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis
Padang, Padek---Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Padang akan menggelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis
(Journalist Safety Training), 27-29 Januari 2007 mendatang. Acara ini akan diikuti 26 jurnalis Padang, utusan dari media cetak dan elektronik di Kota Padang.
Acara ini digelar di Carolina Hotel Bungus terselenggara atas kerja sama AJI dengan International Federation Journalist (IFJ). Di samping itu juga didukung oleh Komisi Eropa dan Lotco dan bagian dari program kerja sama Media for Democracy in Indonesia (MFDI).
Koordinator Acara dari AJI Padang, Vera Neldy mengatakan kepada koran ini, kemarin, materi pelatihan seputar keselamatan jurnalis dan pertolongan pertama bagi korban di daerah konflik.
"Seperti mempelajari situasi lapangan, bersiaga dari kemungkinan terburuk, P3K, menangani pata tulang, pendarahan dan luka bakar," ungkap Aver, demikian ia biasa disapa.
Juga akan diberikan materi seputar ranjau dan perangkap,
kekacauan dan stress, hewan berbisa, memahami hubungan militer dan media, kemampuan navigasi, dilengkapi dengan latihan.
Kriteria peserta, jurnalis media cetak, radio, online dan televisi yang masih aktif minimal satu tahun terakhir. Peserta merupakan utusan dari lembaga.
Ketua AJI Padang, Syofiardi Bachyul kepada koran ini, mengatakan, acara ini amat bermanfaat bagi jurnalis yang berada di garis terdepan (front line) dalam setiap peristiwa terjadi.
"Di sinilah keahlian dan mental sang jurnalis ditempa dengan sebenarnya," kata Syofiardi.
Memang situasi berbahaya langsung amat dekat dan akrab bagi jurnalis yang berada di lapangan. Pelatihan ini juga menyiapkan materi kewaspadaan dan keamanan sehari-hari.
Materi pelatihan akan diberikan oleh AKE, sebuah lembaga penyedia jasa Pelatihan Keselamatan Jurnalis yang
sudah dikenal luas di dunia. AKE berpusat di Hereford, Inggris. Trainer AKE merupakan tenaga berpengalaman dalam bertuga di daerah-daerh konflik.
(hry)

MISKIN HATI

Seorang teman memberi apresiasi tulisan saya di sini, dengan penuh semangat melalui short message service (SMS). Saya jawab juga dengan penuh penghormatan atas apresiasinya. Kemudian, teman ini meminta saya untuk menulis tentang gaji dewan yang sedang dibicarakan. Lalu saya katakan, sudah terlalu banyak yang menyoalkannya. Semakin dipersoalkan, semakin tajam menyakitkan rakyat.


Sebab, perihnya hidup makin memperjauh rakyat dengan pemimpinnya. Pemimpin hanya memikirkan sesuatu yang tidak riil. Kemajuan, pembangunan, peningkatan ekonomi, pendapatan negara, dan segala macam hal yang tidak dekat dengan rakyat.


Tuesday, January 23, 2007

RIAU TV








Sebagai pendiri Padang TV yang kini hadir di 33 UHF di Kota Padang. Satu dari 13 anggota yang berangkat sebagai pejuang—serasa terbuang—selama lima hari belajar di Riau TV Januari 2007. Pelatihan ini menghantar saya ke meja Presenter Berita Detak Sumbar, Dialog Malam, dll. Menjadi penyiar sebagai perjalanan, pernah mencoba dan eksis selama sembilan bulan—seperti bayi dalam kandungan ya…— tetapi jabatan sesungguhnya adalah Manager Program & Produksi Padang TV 2007. Bermain visual, berbeda dengan bermain kata, visual acap gagal menyampaikan kata. Kata lebih detail, gambar membutuhkan kata.

KULIT KACANG

Raja Cerpen Rusia, Anton Chekov pernah menyatakan, di zaman ini, orang lebih mudah kehilangan kepercayaan diri daripada sarung tangan tua. Hal ini dikarenakan makin ketatnya persaingan dalam hidup.
“Saya hanya ingin mengatakan yang sejujurnya tentang kita. Betapa busuknya kita.” Begitu kata Chekov.
Melalui cerpen, Chekov menyampaikan pesan moral terhadap cara orang berkehidupan. Ia tak segan-segan menyatakan betapa busuknya pergaulan terbangun. Mujurlah itu pandang Chekov itu merupakan hasil analisanya kehidupan di Rusia sana. Namun demikian apa yang ditulis Chekov dengan gaya yang khas membuat karyanya enak dibaca sampai keluar Rusia. Ada sentuhan kemanusiaan yang memang mendobrak batas wilayah karyanya. Oleh karenanya, karya Chekov juga mengena dimana saja dibaca.
“Kadang-kadang juga dekat dengan persoalan di sekeliling kita.” Kata mania Chekov.
Selain Chekov, Jalaluddin Rumi juga sering mengingatkan hal itu dalam puisi-puisi sufistiknya. Di dalam buku Matsnawi-i-Ma’anawi (Couplets of Inner Meaning), sufi agung ini memberi pesan kemanusiaan. Menanamkan ajarannya dalam sebuah kerangka yang secara efektif menjabarkan makna batiniah sebagaimana sebuah pertunjukan atau pameran. Teknik ini bermanfaat melindungi mereka yang tidak mampu menggunakan materi pada level eksperimen yang lebih tinggi; membiarkan mereka yang menginginkan puisi, untuk memilih puisi; memberi hiburan kepada orang-orang yang menginginkan cerita; mendorong kaum intelektual yang menghargai pengalaman-pengalaman.
Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan-ringannya: ”Yang ada di dalam ada di dalam.” Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu.” Ar-Rumi memiliki kegelisahan sufistik yang luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di zamannya. Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda. Bacalah buku Jalan Sufi (The Way of the Sufi): Reportase Dunia Ma’rifat, ditulis Idries Shah.
Membaca Chekov dan ar-Rummi kita seperti ditertawai oleh keduanya. Kebodohan dan ketololan kadang-kadang secara sadar dilakukan demi kepentingan. Kepentingan pribadi membuat orang tak perlu objektif melihat persoalan. Padahal sudah diingatkan dalam ajaran agama, janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. (QS Almaidah 8). Kenyataannya, dunia tidak akan pernah adil. Kearifan makin susah dicari seiring dengan hilangnya percayaan diri. ”Orang sering jadi kacang, lupa pada kulit. Padahal, tanpa kulit, kacang akan jadi ‘kacangan’. Hidup tidak akan pernah adil. Teruslah berjuang untuk mendapatkan kacang tanpa cara ‘kacangan’.” Ungkapan terakhir ini berdengung setelah merenung, entah dari siapa. [] abdullah_khusairi@yahoo.co.id

Sunday, December 17, 2006

HIPOKRISI dalam POSMODERNISME

Jika masih mengaku modern maka bersiap-siaplah untuk dikatakan ketinggalan zaman. Karena sekarang dunia berada pada puncak posmodernis. Sebentar lagi melompat ke neoposmodernis. Dan seterusnya entah apalagi kodefikasi kemajuan ummat manusia. Yang jelas, lompatan terjadi sangat cepat. Bisa jadi musim 3G (Three Generation) sebuah bentuk neoposmodernis itu.

Sudah berada dimanakah kita? Bisa jadi belum masuk dalam kategori manapun. Atau lazim terjadi, pada banyak sektor kehidupan kita, mencamplok setiap kodefikasi itu serba sedikit. Misalnya, belum matang pada pre modern, sudah masuk ke kehidupan modern, tetapi sangat terpaksa hidup di zaman posmodernis. Dampaknya adalah terperangah dengan segala atraksi zaman. Tak ayal, menjadi penonton di ranah global yang sudah dikuasai kapitalisme dari berbagai sudut kehidupan. Kita dikepungnya. Mulai dari tempat tidur sampai kamar mandi. Misalnya? Apa merk sabun mandi yang kita pakai?

Tulisan ini terekspresi dari laporan Zelfeni Wimra di Padang Ekspres, Minggu (9/12) ditulis atas seminar yang menghadirkan Yasraf Amir Piliang, di Universitas Negeri Padang (UNP).
Ada beberapa yang patut disadari, seperti di atas tadi, dimana ada dan selalu ada hipokrisi zaman baru. Termasuk posmodernisme itu.

Benar apa yang dikatakan Amir, betapa ceroboh ketika padu padan fashion antara jilbab dengan baju ketat senteng ditambah celana jeans. Atau contoh lain, seorang anak muda gondrong dengan kopiah dan baju koko tapi pakai anting-anting sebelah kiri saja.

Ini amatlah sesuai dengan cerita, seekor monyet ingin belajar berjalan dengan gaya kura-kura. Ia belajar dengan seksama tetapi selalu gagal. Setelah sadar, tak mungkin ia bisa sempurna seperti kura-kura. Akhirnya, ingin kembali seperti gaya monyet semula. Sayang, gaya itupun ia tak lagi mampu.
Agaknya, perlu kritis lagi bertanya kepada hati nurani sendiri, ketika spritualitas ternyata dijemput lagi. Sesungguhnya, spritualitas itu adalah hikmah bangsa timur. Pertanyaan berikutnya, bagaimana menjemput jati diri kita yang paling murni itu? Bisakah sesuai dengan keotentikannya dengan masa lalu? Tidak, ia harus mengalami bias zaman yang harus menopanginya.

Agaknya, sekali lagi, hipokrasi tetap akan terjadi dalam posmodernis ini. Dimana sisa modernisme masih menyelip di antara cara pikir hidup sehari-hari. Atau yang paling naif terjadi, mengaku berpikir posmodernis tetapi nyatanya adalah masih modern. Bahkan jauh sebelum itu, tradisional dan ortodok.
Satu hal yang positip, spiritualitas sudah dijemput setelah tuhan dinyatakan mati. Bagaimana? Ya, mengulang kaji dan buka kembali setiap buku-buku dan kitab suci yang dimiliki. Di situlah ada spritualitas. Jika masih menggunakan yang sudah ada, maka spritualitas akan teras garing, formalitas, juga simbol-simbol. Artinya, kita masih berada di zaman modern yang sudah ketinggalan.

Kalau sudah begitu, apakah kita akan bernasib sama dengan kera tadi? Entahlah, semoga ini tak terjadi. Perlu diingat, jika dinamika rasionalitas berkembang pesat dengan bukti laju teknologi dari ilmu pasti yang sudah menjadi produk kapitalis, sejauh manakah laju spiritualitas kita memahami nilai-nilai transeden? Statis atau dinamis? Saya masih banyak percaya pada hal yang pertama. Statis. Buktinya, wilayah spritualitas dianggap tak boleh lagi diotak-atik. Filsafat agama dianggap berbahaya.

Asah otak untuk mendekatkan spritualitas kepada Yang Maha Esa cenderung ditutupi secara tidak langsung. Ia dianjurkan dengan metode ibadah sebanyak-banyaknya tanpa tahu makna sakral dan jalan menuju tuhan. Imbasnya, ibadah menjadi simbol. Padahal, spritualitas harusnya tidak saja didekati dengan hati, tetapi juga dengan akal.

Bukan artian ibadah tidak penting, tetapi wilayah ini tak lagi harus pakai cambuk untuk mengerjakannya. Ia harusnya sudah menjadi gaya hidup yang matang.

Pada zaman pertengahan, memang filsafat ”dikanvas” oleh Al-Ghazali, karena dianggap menyesatkan dan cenderung membuat manusia melompat ke wilayah terlarang, bicara dzat tuhan. Di sinilah lahirnya fundamentalis yang bertahan pada wilayah sakral agama tak boleh digerogoti oleh filsafat. Tetapi beberapa dekade setelah itu, filsafat berkembang baik menjadi “hikmah dari timur.” Ia dicari oleh bangsa Barat. Karena Barat sudah mendapatkan rasionalitas yang berkembang menjadi ilmu pasti. Kalaupun perlu jujur, rasionalitas Barat juga dibawa oleh Averoes (Ibn Rusd) dari timur.
”Averoes sukses di Barat, Al-Ghazali berhikmah di Timur.” Begitulah bahasa yang dapat disederhanakan.

Begitulah akhirnya hari ini masalah rasionalitas dan spritualitas terus menggoncang manusia. Bagaimana menyeimbangnya dalam kehidupan sehari-hari.

Zaman modern kemarin, agama tak penting kalau hanya membawa kemunduran berpikir. Sekarang, agama dijemput untuk keseimbangan. Tetapi, kalau tidak dipelajari lebih dalam dan berdinamika rasional, tidak terkooptasi di wilayah halal- haram, harapan spritualitas dan rasionalitas bisa membuat ummat manusia makin sempurna.

Seperti diungkapkan Adik Hasan Albana—pendiri Ikhwanul Muslimin, Gamal Albanna, umat Islam memahami syariat sebagai ajaran ritual dalam Islam, seperti Shalat, Puasa, Haji dan lain sebagainya. Menurutnya, dengan mengutip pandangan tokoh terkemuka di dunia Islam, Ibnu Qayyim, syariat adalah keadilan, kerahmatan dan kemaslahatan. Apabila sebuah ajaran tak berjalan di atas nilai-nilai universal di atas, itu bukan syariat. Syariat terkait erat dengan pemerintahan dan kemaslahatan masyarakat.

Ironisnya, nilai-nilai universal di atas justru menjadi titik lemah umat Islam secara umum. Berbagai macam aksi kekerasan, ketidakadilan,

Pertanyaan lain, sejauh mana bisa didalami spritualitas? Bagaimana mensejajarkannya antara ummat yang satu, kelompok yang satu, dengan yang lain? Perbedaan sering kali masuk pada klaim paling benar. Di sinilah sesaknya spiritualitas membunuh antara satu yang lain. Kata lainnya adalah, pemahaman yang sempit akan membawa orang berpikir sempit pula. Sebaliknya, pemahaman yang luas akan membawa orang berpikir lapang pula.

Jika seperti ini, apa yang dikomentari oleh Corinne Maier, menjadi tepat. Industri, orang-orang yang terlibat di dalamnya, konsumen yang dijajahnya, harus selalu ereksi setiap hari. Kalau tidak, ia bukan berada di zaman itu.

Paparan ini disimpulkan, hipokrisi akan berjalan dengan bebas di zaman posmodernis ini, kalau tidak dibuat format pemahaman spritualitas yang tak-tis sesuai dengan tingkat rasionalitas terendah masa ini. Tetapi tentulah dimulai dari kekuatan cendikiawan dan ilmuwan sosial dan agama mencari dan mengintervensinya ke wilayah publik. Kalau tidak, hipokrisi atas aliran-aliran yang masih berkeliaran akan tetapi terjadi.

Akankah kita harus hidup berputar pada kain sarung ketololan dan kemunafikan? Tentu saja tidak.***
Dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres Edisi Minggu, 17 Desember 2006

Monday, December 11, 2006

ARISTO MUNANDAR: BUKA AKSES MODAL untuk KELUARGA MISKIN BERBASIS MASJID

Budaya malu bisa menekan angka kemiskinan di tengah masyarakat. Lebih-lebih di Ranahminang masih memiliki adat dan budaya yang masih kental. Bagaimana format agar kemiskinan bisa dihapuskan dengan budaya malu?
"Kita mulai dengan membangkitkan kekerabatan yang sudah ada. Menata dan mengambil data base kemiskinan yang ada di tengah masyarakat. Khusus urang minang, keluarga, suku, jorong, nagari, adalah sesuatu yang penting bagi dirinya. Nah, kita akan lihat suku mana yang miskin itu, jorong mana, nagari mana," ungkap Bupati Kabupaten Agam, Aristo Munandar, ketika koran ini berkunjung ke kediaman Komplek Wisma Lapai Jaya Blok E Padang, (10/12).
Aristo Munandar baru saja pulang dari Rapat Kerja Nasional Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) se-Indonesia di Medan, 7-8 Desember 2006. Di acara tersebut, Aristo mendapatkan penghargaan dari Pinbuk Award 2006 atas usaha Pemkab Agam usahanya dalam Pinbuk dan Baitul Mal at-Tanwil (BMT) di Kabupaten Agam.
"Budaya malu kita sangat tinggi. Jika dikatakan suku, nagari, jorong, apalagi keluarga dekat, termasuk orang miskin. Artinya, kita tidak memperhatikan keluarga kaum kerabat," papar bupati yang menjabat dua periode ini.
Apa saja yang kebijakan bupati untuk mengangkat kaum papa? Ia memaparkan beberapa konsep pelayanan terhadap kaum papa yang memang sangat sedikit tersentuh oleh program pemerintah.
"Mereka tidak dapat akses modal karena prosedur yang berlaku. Oleh karenanya, kita merubah prosedur. Prosedur kekeluargaaan," paparnya.
Prosedur ini berbeda dengan peminjaman yang berdasarkan agunan. Hanya bermodalkan kepercayaan dan kekerabatan yang ada di tengah masyarakat dan jamaah masjid. Dari pengalaman di BMT, ini bisa berjalan dengan baik. Ke depan, tinggal lagi pengembangan dan pembinaan.
"Setelah saya cermati dari apa yang sudah dilakukan, turun ke bawah dan merasakan denyut masyarakat. Hasilnya, ternyata harus ada format baru agar orang miskin bisa diangkat menjadi keluarga pra sejahtera. Caranya, beri obat sesuai dengan penyakit. Data satu persatu. Tanya satu persatu. Tidak bisa digenerasilir," ungkap bupati yang sering mendapat penghargaan nasional ini.
Pemkab Agam memodali pendataan ulang Rp350 juta. "Walau ada bias pada data, tetapi setiap program penanggulangan kemiskinan akan dicek ulang ke bawah. Penajaman data harus dilakukan. Kemudian, program harus disosialisasi dengan matang. Biarlah perencanaannya agak lama yang penting matang dari pada cepat nekad tanpa hasil," tegasnya.
Gerakan yang sudah dilakukan seperti BMT memang mendapat tempat di hati masyarakat. Masjid sebagai basis ternyata berdampak positif terhadap pergerakan ekonomi dan silaturrahmi.
"Inilah modal ke depan. Akan digelar raker agar semua paham bagaimana program pengentasan kemiskinan berbasis surau dan masjid akan mampu berjalan baik. Melibatkan ninik mamak, alim ulama, wali nagari, perantau. Pada gilirannya, rasa malu akan muncul ketika diketahui oleh perantau yang berhasil ternyata masih ada dunsanak mereka, anak kemanakan mereka yang masih butuh perhatian," paparnya semangat.
Masjid dan surau akan menjadi posko penanggulangan dan diisi oleh pembina yang dilatih profesional. Memberi kesempatan bagi rapat suku, jamaah masjid dan perangkat nagari untuk mengumpulkan semua ide untuk mendapatkan celah usaha baru bagi anak kemanakan yang butuh bantuan. Legitimasi pencairan dana tidak perlu dilakukan secara konvensional bank tetapi cukup kepercayaan dan tanggung jawab ninik mamak setempat.
"Implikasi positifnya adalah, adat dan agama akan bergandengan melalui pola ekonomi," jelas Aristo.
Menguatkan hal ini, akan dibuat detail format pengawasan dan pembinaan dan evaluasi kepada Kelompok Usaha Bersama (KUBE). "Kalaulah demikian adanya, pikiran enterpreneushif akan muncul. Misalnya, satu KK, ia bisa apa dan maunya apa. Nah, sebatas itulah ia diberikan dengan kepastian jaminan ninik mamak dan pengawasan. Motivasi dan pembinaan. Nah, dinamika usaha akan hidup," tuturnya.
Program Agam Mandiri, Agam Madani memang sudah dimulai dan memperlihatkan hasil. Penghargaan sebagai pusat pelayanan terbaik dan Pinbuk ini adalah bukti dari keseriusan dan kerja keras pria yang murah senyum ini.
Tahun 2005, Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Agam mencapai 6.13 persen. Tahun 2004, 6,01 persen. Tahun 2003, 5,29 persen.
Pemikiran untuk peningkatan pendapatan masyarakat terus dilakukan. "Untuk produksi saya pikir tidak ada masalah lagi. Kini tinggal peningkatan mutu dan daya saing dengan cara mencari nilai tambah (value added). Beberapa produk unggulan usaha kecil sudah sangat dikenal dari Agam seperti dodol labu, dodol wartel, air tebu sudah mendapat sentuhan packaging yang baik," tuturnya.
Sementara itu, aksi nyata untuk peningkatan ekonomi rakyat yang lain, diserahkan 32 kebijakan bupati ke kecamatan. Hal ini dilakukan demi efesiensi waktu dan memberi ruang kepada camat untuk mendekatkan program dengan kebutuhan masyarakat.
Seperti diberitakan koran ini, Sabtu (9/12), Aristo bersama kepala daerah lain, seperti Bupati Langkat (Sumut), Bupati Tanah Bumbu (Kalsel), Bupati Tanjung Balai (Kepri), Bupati Tebing Tinggi (Sumut), dan Bupati Pekalongan (Jateng) mendapatkan Pinbuk Award 2006.
Sementara di tingkat menteri, penghargaan diberikan kepada Menteri Sosial Bachtiar Chamsah, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadarma Ali, Dirut Bank Muamalat Syaefudin A, dan mantan Guberbur Sumut Alm. T. Rizal Nurdin.
Penghargaan “Pinbuk Award 2006” ini diserahkan oleh Ketua Pinbuk Pusat, Prof.Dr. Ir. M. Amin Aziz, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pinbuk se-Indonesia, di Medan. Dalam Rakernas yang dibuka Deputi Bidang Pengentasan Kemiskinan Menko Kesra DR. Sujana Rohiyat, dan berlangsung tiga hari itu, hadir para kepala daerah se-Indonesia, dan sejumlah pejabat depertemen terkait.
Dikatakan Aristo, bagaimana pun, tugas pemerintah adalah mensejahterakan masyarakat. Tetapi, fenomena yang menyakitkan ketika kenyataan bahwa, dengan digulirkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT), ternyata menjadi titik balik, bahwa angka keluarga miskin membengkak. Kabupaten Agam mengalami hal tersebut, dimana KK miskin tahun 2004 bisa ditekan hingga 10.566 KK waktu ada pendataan untuk BLT, mencapai 23.661 KK. Padahal program untuk mengentas kemiskinan sudah dijalani. "Berangkat dari kenyataan inilah, kita harus tegas dalam aksi nyata. Bagaimana pendekatan kekerabatan yang menjadi modal penting dalam adat budaya kita bisa dilakukan. Saya pikir akan muncul pemikiran baru dan aksi baru dari ide-ide seperti ini. Kini tinggal pemantapan dan pelaksanaan," jelas Aristo.*

Monday, November 20, 2006

TEMPURUNG KEPALA

Penulis buku Jaringan Ulama di Nusantara, Prof Dr H Azyumardi Azra, dalam sebuah kesempatan memberikan materi kuliah menyatakan pentingnya penguatan institusi agama dalam mengembangkan ummat. Kemajuan peradaban selalu dimulai dari berkembangnya cara berpikir ummat. Cara berpikir berhubungan erat dengan cara pandang, sedangkan cara pandang membutuhkan wawasan dan kearifan dari ilmu-ilmu. Ilmu-ilmu didapatkan dari penguatan institusi agama; seperti institusi pendidikan, keagamaan dan organisasi keagamaan.
Putra Lubuk Alung Pariaman yang segera menyerahkan estafet Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Ciputan Jakarta ini, juga mengatakan, di tengah arus global dengan berbagai aliran pemikiran, adalah pantas jika terjadi kehausan orang terhadap agama.
Hal ini membuat lahirnya tasawuf modern, karena corak kehidupan agama di perkotaan yang bersentuhan dengan industri. Agama secara tidak sengaja memberi konsekwensi terhadap industri. Sekedar misal, perkembangan model fashion.
Sayangnya, pada tataran ini, acap terkesan agama sebuah komoditas. Lebih-lebih jika sudah bersentuhan dengan selebritas. Alih-alih untuk memajukan ummat, yang terjadi adalah prestise mengungkapkan pengalaman religi seseorang dan lahan produksi kesalehan formal. Artinya, simbol agama dikedepankan dari pada substansi beragama.
“Maka lahirlah derai air mata dalam doa bersama. Seakan-akan telah diampuni dosa-dosa dan sorga di depan mata.” Begitu teman saya berkomentar pada lain kesempatan. Sedikit bernada bergurau dengan makna yang paling dalam. Saya hanya tersenyum simpul saja.
Membaca pemikiran Azyumardi Azra, tampaklah kecendrungan analisa keummatan menurut sejarah yang akan berkembang. Maklum, sebagai akademisi dan peneliti, ia menemukan akar sejarah hingga hari ini masih mengitari peradaban.
Sekedar misal, jika istilah pluralisme sudah tercoreng, sekarang muncullah istilah multikulturalisme. Bila abad pertengahan istilahnya adalah salafi, hari ini istilahnya adalah neo salafi. Begitulah seterusnya.
Sejak mendapatkan segelintir pemikiran lulusan Columbia University New York tadi, saya selau bertanya-tanya tentang loncatan peradaban yang bisa dilakukan ummat. Bagaimanakah caranya? Karena ummat masih, sedang dan akan beranjak bersamaan dari pra agraris, agraris, industri, teknologi informasi dan jasa. Semuanya berkembang pada alur itu. Jika jawabannya adalah institusi pendidikan, sejauh ini wilayah yang jadi harapan ini dirasuki konflik politik internal yang membuat runtuhnya kepercayaan publik. Jangankan membangun pencitraan, memulai untuk pembenahan saja amatlah rumit. Hal ini terjadi di banyak tempat pada institusi yang diharapkan ummat.
Suatu hari saya membaca pendapat Rasyid Ridha, katanya, etos kerja dan perkembangan suatu ummat juga dipengaruhi faktor iman dan cara ia beriman. Apakah ummat berada dalam kegamangan atau gagap dalam memahami iman? Saya cepat-cepat menepisnya karena ini hal paling sensitif. Menurut Rasyid Ridha, pada titik iman akan mempengaruhi cara kerja (etos). Di situlah lahir motivasi. Sekedar misal, orang akan bekerja keras bila ia menyadari hidup di dunia adalah modal di akhirat. Maka ia bekerja keras untuk hidup terbaik di dunia. Beramal saleh dan ambisi mendapat tempat terbaik. Mencari harta untuk beramal.
Berbeda dengan ummat yang berserah diri kepada nasib—sesuai pandangan iman yang dimiliki—akan lamban berubah. Menurut Iqbal, ummat seperti ini tidak lebih baik dari ummat lain yang berpikir. Apakah pada hari ini sudah berpikir? ”Ya, sudah amat dalam berpikirnya. Karena harus bertahan hidup. Yang diperlukan itu tak sekedar pendidikan, tetapi juga pembinaan.”
Soal pembinaan, ummat butuh tokoh. Nah, di sinilah persoalan yang sering terkendal. Tokoh kita jarang bisa jadi panutan keran acap terlibat konflik.
”Pendidikan, pembinaan tiada berarti kalau tidak ada ketulusan dan kesadaran tentang iman. Bukalah tempurung yang ada dalam kepalamu agar tidak ada katak yang berdiam di sana.” Begitu kata seseorang yang saya anggap dekat memberi kearifan dengan berfilsafat tidak sengaja. Setelah saya pikir-pikir. Benar juga. []
abdullah_khusairi@yahoo.co.id

RESENSI NU Studies

Berselancar di Ombak Zaman


Judul: NU Studies

Penulis : Ahmad Baso
Penerbit : Erlangga
Cetakan : Agustus 2006
Resensiator : Abdullah Khusairi

JIKA pandangan kita terhadap Nahdhatul Ulama (NU) sebagai organisasi agama dengan corak tradisional? Ada baiknya membaca buku ini. Ada banyak hal yang bisa membantah pandangan kita selama ini. Salah satunya adalah, anak muda NU lebih dinamis dan modern menatap zaman. Mereka menyadari benar, adalah sesuatu yang percuma, kalau memiliki stigma pemikiran modern tetapi justru lamban menerima perubahan.
Pada tataran ini, NU bermain selancar yang mahir di gelombang zaman. Pemikiran yang diteruskan aksi strategis telah membuat posisi dan image tradisional kini luruh satu-satu. ?Setidaknya itulah yang tergambar dalam buku NU Studies ini. Memotret dari dalam wajah NU dari realitas zaman ke zaman.

Dipaparkan oleh penulisnya, elit dan kaum ”kiai sarung” ternyata mampu menguasai rezim digitalisasi tanpa gagap menyergap, tanpa menggoyahkan kultur ke-NU-annya. NU Studies adalah terobosan, dimana terdedahkan tradisi, pencerahan dan kritisme elite NU membaca fenomena. Mereka ikut di dalamnya sebagai orang NU Indonesia. Pada tataran ini, kekalahan psikologis bagi NU itu tidak ada dalam tatanan perkembangan ummat. Karena tradisionalisme NU amatlah rasional dan dinamis. Tidak vakum dan jumud pada tradisionalnya.

Namun demikian, sejauh perkembangan yang ada, dimana lahirnya berbagai aliran pemikiran tetapi tetap memiliki akar yang kuat pada kutub sejarah—kutub ini selalu ada dalam sejarah Islam. Fundamental Islam dan Neo Liberal.

Dalam sejarahnya, asy'ariah dan mu'tazilah. Satunya bebas berpikir melawan arus dengan alasan yang kuat, sedangkan yang satu lagi ”taat pada teks tanpa perlu hermeneutik”. Satu kutub berkiblat ke Amerika dan melawan kutub lain yang berkiblat ke Saudi Arabia. Lagi-lagi Timur-Barat. Yang pertama berbicara sebagai populis dan pembebasan. Sementara yang terakhir berbicara tentang pemurnian agama dan puritanisasi tatanan sosial-politik Indonesia, dengan mengabaikan kenyataan bahwa ”kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam”, dan bukan ”orang Islam yang tinggal di Indonesia.”

Buku ini memaparkan hal-hal di atas dengan kritis. Pertama diawali dengan sebuah landasan metodologis seputar persepsi awal. Dimana munculnya NU Kultural---kembali ke khittah. Dalam kontek seperti ini, NU bukan ditulis dari luar tetapi NU sendiri yang menulis sejarah atas dirinya (Bab 2). Sebagai subjek sekaligus objek. Sementara itu, pada bab 3, dipaparkan fiqih (hukum) sebagai wacana tandingan sekaligus perlawanan. Fiqih ini sebagai pemaknaan sosial atas eksistensi NU.
Pada bab 3, 4 & 5, diungkapkan kesejarahan tradisi ahlusunnah waljamaah secara history politic. Di sini letak pencerahan pemikiran Islam sebagai bingkai Islam dengan paradigma moderat. Tetapi, ia bukanlah seperti mobilisasi Islam moderat-liberal seperti saat ini. Pada bagian kedua, buku ini menampilkan kehadiran NU sebagai kritik epistimologis, termasuk cara-cara kerja operasional. Bab 6, diawali denga menampilkan kritik dan metode postmodernisme sebagai varian dalam NU. Kemudian dalam bab 7, kritik diarahkan kepada noe-modernisme Islam dengan fokus utama pemikiran Nurcholis Madjid dilanjutkan dengan pemikiran Abdurrahman Wahid. Penulis buku ini mencoba mencari titik temu dua tokoh sentral sebagai genealogi NU (8 & 9).

Pada bagian ketiga, dipaparkan secara jelas dan rinci praksis dari NU. Bab 10 mengemukakan bagaimana praksis Nu berkaitan dengan kebangsaan dan keislaman dan praksis itu dibahasakan dengan kerja "menulis". Dilengkapi pada Bab 11, mengungkapkan NU berpendapat tentang jihad dan terorisme terutama dalam konteks konstruk ideologis ”benturan peradaban”, dalam konteks globalisasi kapitalisme dan militerisme neo-liberal seperti sekarang ini. Pada bab-bab selanjutnya pada bagian ketiga ini, peran NU terhadap kemanusiaan dan agama yang ditindas oleh negara dan kapital.

Beranjak dari potret kritis pada buku ini, maka hapuslah pendapat bahwa NU sebuah lembaga tradisional dalam agama.

Penulis buku ini seperti membantah hal tersebut secara tidak langsung dengan paparan lugas dinamika kehidupan NU dalam melihat fenomena yang berkembang. Wajar, NU peselancar di gelombang zaman.

Baik oleh individu NU maupun sebagai lembaga, permainan di tengah gelombang zaman itu membuat NU semakin hari-semakin indah.
Silahkan banding dengan organisasi seperti NU di negeri ini setelah membaca buku ini, semuanya akan terasa berbeda. Buku ini penting dibaca oleh sejarawan, penganut ilmu sosial dan keagamaan.
Karena ada warna dan corak baru pada teknik pemaparan kritis persoalan dengan berlandaskan persepsi kekinian. Selamat membaca. []

Thursday, November 16, 2006

MAKAN TEMAN

Saya dapat pengalaman menarik dalam sebuah perjalanan. Dua orang dewasa bercerita tentang salah seorang dari mereka telah dimakan oleh temannya sendiri. ”Kenapa tidak kau usut?” komentar lawan bicaranya.
”Saya tak mau memperpanjang masalah,” jawab yang bercerita.
”Lha. Kalau begitu anda rela dimakan terus menerus.”
”Bukan rela. Tapi sangat naif rasanya. Uang saya yang dia makan itu tak seberapa. Saya tahu sedang ditipu tapi yang penting menjaga pergaulan. Biarlah satu kali ini saja. Saya pikir, teman saya itu akan malu sendiri, saya yakin dia akan tahu saya menertawai dia.”
”Alasan yang sedikit bisa diterima. Tapi orang seperti itu biasanya tidak sejauh itu arif ia berpikir.”
”Ya, biarlah. Pergaulan ini macam-macam bentuknya. Teman dan saudara antara satu dengan yang lainnya tentu berbeda.”
”Tapi kita mesti punya sikap jantan. Kalau sudah merugikan tapi diam saja itu pertanda membiarkan diri teraniaya.”
”Saya menghargai sikap anda dan semoga anda menghargai kebodohan saya. Saya tetap berkeyakinan, teman yang telah memakan hak orang lain akan mendapatkan balasan yang setimpal.”
Lawan bicaranya diam. Saya yang asyik mendengar dari tadi bingung. Rencana tidur di perjalanan tidak kesampaian. Saya justru memikirkan teman yang suka makan teman seperti yang diceritakan tadi. Kenapa begitu mudahnya orang menipu dan saling tipu? Kenapa mau menipu teman sendiri? Bukankah bau busuk akhirnya akan tercium dari sumbernya?
”Menurut saya, teman yang memakan anda itu memang bukan karena tidak tahu tapi rakus. Bodoh dan tidak arif. Kalau boleh tahu, siapakah teman anda itu?”
”Justru dia bawahan saya.” Yang bertanya terheran-heran bercampur takjub.
”Ternyata bawahannya bisamemakan atasan. Lha, kalau bawahan sudah bisa makan atasan, apalagi atasan.”
”Belum tentu. Saya tidak seperti itu. Saya justru mendapat kebahagiaan ia menipu saya.”
”Ini aneh namanya.”
Karena suatu hari ia pasti sadar akan kebodohannya. Mengingat saya pernah menduduki posisi bawahan saya itu.”Berarti anda juga pernah melakukannya pada atasan anda dulu.”
”Tidak pernah itu terjadi karena saya tidak mendapat tempat untuk memakan atasan. Atasan saya justru yang selalu makan saya.”
”Artinya anda bodoh. Di bawah juga kena makan dan sudah naik pun tetap kena makan.”
”Saya tidak selera untuk makan teman. Karena bagi saya, lebih baik bekerja jujur dan ikhlas. Di situlah ada kearifan. Rezeki tidak kemana. Tetapi saya bisa tersenyum lega melihat bawahan saya selalu bingung bila bertatap dengan saya. Ya, saya pikir dia akan berpikir dua atau tiga kali kalau ia mau melakukannya lagi.”
”Bukankah jika dibiarkan akan merembet dan makin menjadi-jadi?” ”Itu teori normal di dalam akal sehat. Tetapi tiliklah dalam wilayah psikologis, seorang pencuri tidak akan pernah jadi perampok kalau hanya mampu makan teman sendiri. Dalam arti kata, ia besar dengan akan dikenal seorang teman makan teman. Hal ini berlangsung selama hidupnya.”
”Walau terasa agak aneh dan terbalik, saya salut kepada anda. Semoga anda tak lagi kena makan.”
Keduanya tertidur. Saya yang sedari tadi pura-pura tak mendengar akhirnya tak pernah bisa tidur. Karena saya berpikir tentang orang makan orang. Saling makan. Betapa jahatnya orang. Benarkah demikian? Saya lalu ingat seorang teman yang bercerita tentang sifat manusia. Mulai dari yang penjilat, cari muka, sampai suka makan teman. Teman saya ini juga korban.
”Mujurlah saya selalu tawakkal. Sering baca buku kejiwaan. Saya mesti banyak bersabar,” katanya merendah. Ia juga mengingat saya agar baca buku Emosi; Penjelajahan Religio-Psikologis Manusia di dalam Al-Quran yang ditulis M Darwis Hude. Sejak kejadian itu saya jadi malas makan. Takut termakan hak teman. Saya jadi hati-hati, karena banyak teman yang suka makan. Waspadalah. []
abdullah_khusairi@yahoo.co.id

Saturday, November 11, 2006

Konfirmasi

Hai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum. (QS.Al Hujarat; 6)
Maka kalau ada isu beredar, janganlah cepat percaya. Bertanyalah, cari tahu kepastiannya dengan sumber yang benar-benar menguasai persoalan.
Konfirmasi (memastikan) adalah sebuah keharusan. Apalagi jika ingin menyampaikan kepada yang lain. Harus benar-benar terukur kebenaran faktual materi informasi yang disampaikan.
"Seorang jurnalis bukan saja harus konfirmasi agar berita yang disampaikan medianya bernas. Tapi juga harus verifikasi. Keduanya berbeda. Konfirmasi itu memastikan. Verifikasi itu menjernihkan. Silahkan buka buku, Sembilan Elemen Jurnalisme (Pantau 2003), ditulis Bill Kovach," ujar dosen komunikasi massa sebuah universitas swasta di Padang.
Usaha verifikasi dilakukan dengan melihat aturan, bertanya pada pakar bukan untuk jadi sumber berita, selanjutnya juga termasuk memaparkan data dan fakta yang ada secara kronologis. Sehingga berita jernih disampaikan.
"Kalau tidak dilakukan, wartawan bisa keliru dan ditipu nara sumber," jelas dosen kita ini.
Saya mengangguk-angguk, geleng-geleng, seperti orang yang mengerti benar. Tetapi yang dapat dipahami adalah verifikasi amatlah penting. Bukankah seorang wartawan, mengerti baru bertanya, paham baru menulis?
"Jangan samakan konfirmasi dengan verifikasi. Jangan samakan intensif dengan insentif. Bisa bahaya itu," jelasnya kesal. Langsung menutup selulernya.
Maka tinggallah saya yang bodoh dan didatangi seorang teman. Teman ini menyatakan, seringkali informasi mengandung bumbu penyedap terlalu banyak dari materi yang disampaikan.
Saya katakan, di dunia jurnalistik, agar berita dapat dipercaya oleh khalayak harus dilakukan diperiksa kebenarannya. Istilahnya, konfirmasi, verifikasi, check and recheck dan balance agar berita disampaikan menjadi cover both side dan independen. Di sinilah letak sikap seorang wartawan, jujur dan amanah. Saya pun secara rinci menjelaskan bagaimana jurnalisme harus dijalankan secara hati-hati.
"Tapi banyak wartawan tidak seperti itu. Baru jadi wartawan sudah bagak sekali," ia memotong.
Mendengar itu, saya kesal sekali. Tapi teman saya ini mengungkapkan banyak fakta. Saya kalah telak. Lalu mundur dan menyatakan, ada wartawan yang baru jadi wartawan ada yang sudah berkarat. Tentu beda. Jurnalisme adalah profesi yang membutuhkan proses dalam pematangan.
"Tapi saya melihat banyak yang tersesat. Tidak menjunjung tinggi etika profesi," teman ini melepas jeb.
Bisa jadi benar. Karena wartawan tidak punya dunia pendidikan formal. Ia banyak dilahirkan oleh alam. Tetapi bagi yang berkecimpung tentu saja dengan suka cita mencintai profesi yang satu ini. Pemahaman saya, soal moral memang harus dikembalikan kepada pribadi-pribadi, toh memang banyak penumpang gelap dalam berbagai profesi. Misalnya, wartawan gadungan, dokter gadungan, polisi gadungan. Penumpang gelap ini mengambil untung melebihi orang yang berprofesi sesungguhnya. Misalnya wartawan gadungan lebih wartawan dari wartawan yang resmi. Padahal, wartawan resmi itu ada kartu pers yang ditandatangani pemimpin redaksi dan terdaftar jadi anggota organisasi profesi. Begitulah amanat UU No 40 Tahun 1999.
"Apa wartawan seperti itu bisa ditangkap aparat?"
"Bisa asal ada yang lapor," jawab saya cepat.
"Bagaimana mungkin. Tentu orang takut melapor wartawan."
"Di sinilah letak persoalannya. Ada banyak orang hanya main aman saja. Tak mau repot. Membiarkan diri untuk setiap waktu mau ditakuti. Takut berarti memang ada kesalahan," saya balik menekan dia.
"Bung jangan menyatakan begitu. Saya cuma mengadu begitulah adanya di lapangan."
"Lha saya tidak bermaksud menyatakan bapak salah. Kalau seseorang takut biasanya tanda seseorang itu salah. Kan pernyataan yang lumrah. Kenapa bapak merasa bersalah?" ujar saya naik pitam.
Teman saya ini mengeluarkan kartu pers dari sebuah surat kabar yang entah masih terbit atau tidak. Juga mengeluarkan kartu dari sebuah organisasi profesi. Saya salut ternyata dia kini seorang wartawan surat kabar di provinsi bagian utara sumatera.
"Saya mau ke Jakarta bisa bantu saya?"
Melihat gelagat itu saya cepat menggeleng.
"Meliput acara tapi tak punya ongkos," katanya.
"Dari kantor?" tanya saya.
"Gaji saja tidak ada. Bagaimana uang jalan ada. Modal kami hanya kartu-kartu ini," ujarnya yakin. Mantap.
Saya tak dapat bicara lagi. Keinginan saya ada satu setelah itu, konfirmasi ke kantornya. Setelah itu melakukan verifikasi persoalan, check and recheck, triple check. Kepada teman dekatnya, kapan perlu kepada "orang rumahnya". Apa benar ia seorang wartawan? Apa kartu tadi hanya dibuat dikomputer lalu dilaminating? Sungguh, informasi ini baru sepihak saya dapatkan. []
abdullah_khusairi@yahoo.co.id

Tuesday, November 7, 2006

SAJAK USAI LEBARAN

Usai Lebaran

Kau dayung ke hulu
melawan arus Tembesi
menuju nasib kalah menang
akhir lebaran orang-orang menyudahi salam.

Kebencian kita tak terbatas
siang malam menangisi dusun mati.

Jiwa kita teramat sepi mengering sungai dan sawah
air mata doa serupa kabut sesat di jalanan.

Mengusir ke ujung nasib muara terasing
dan terbuang di subuh paling hina.
Dusun kita di huni hantu kita pergi dengan segenap resah membakar
jiwa dan lebaran mengusir kerinduan kebencian kebisuan.
Sarolangun Jambi, Oktober 2006

Kemarau Ini

Semacam duka senja kita berkerontang di tanah
merekah sawah-sawah memekik pilu meranggas kisah tersedih.
"Hujankan kami di ujung malam wahai Wahdatul Wujud"
Suara tak terperi requem terindah yang pernah terdengar aduh betapa kita
sadar sungai mengalir kecil dan embun tiada menetes.

Asap mengepung di horison tak terselam mata bathin kekosongan bersama kebodohan demi
kebodohan yang membisik keserakahan. Akal dan hati kita telah kering
dari segala makna. Hijau daun kedamaian kini meranggas mengguning pasi.
Sripelayang Sarolangun, Oktober 2006

Segurat Cerita

Dimana kita tak lupa begitu saja
di ujung derita bersua
aku rindu mencium kering tahi kerbau di padang kita
berlari di pematang sawah lalu hilang dalam ilalang hutan

Mengapa begitu jauh masa lalu tertinggal?
menjemputnya lelah langkah ingatan berjejak darah juga air mata

Segenap cinta bebatuan sungai perjalanan pada napal tanpa
batas ke lubuk-lubuk kenangan aku kita tak juga bersua atas kedewasaan
cepat beranak di ujung waktu.

Semua telah hanyut ketuaan menghujam
wajah kita membiaskan sejuta kenangan bergurat pahit dan manis. Adakah
cinta serupa kenangan membawa sorak remaja.

Aku masih diam menunggu
jawaban di sela kecipak air dalam mimpi.
Sarolangun, Oktober 2006

SAJAK INI JUGA DIMUAT DI Jambi Independen EDISI MINGGU, 5 OKTOBER 2006

Monday, November 6, 2006

KABINET HBA-ENDRA

The right man the right place. The wrong man the right place. The right man the wrong place. The wrong man the wrong place.


Kalimat di atas selalu menjadi acuan ketika orang bicara kabinet. Dimana harapan menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat akan membawa kesuksesan team work. Sebaliknya, orang yang tidak tepat di tempat yang tidak tepat akan membuat program amburadul.

Dan akan terjadi ketimpangan bila orang yang tidak tepat di tempat yang tepat atau juga orang yang tepat pada tempat yang tidak tepat. Hal terakhir acap kali menggagalkan semua sasaran yang akan dituju dalam team work.

Pasca dilantiknya pasangan Bupati Kabupaten Sarolangun, H Hasan Basri Agus (HBA)-Wakil Bupati Cik Endra sebuah harapan besar tertumpang kedua pemimpin bumi Sepucuk Adat Serumpun Pseko ini.

Harapan itu sebuah bayang-bayang kemajuan di masa depan. Dapatkah dua tokoh ini membawa Kabupaten Sarolangun sebagai "bintang" di tingkat nasional? Sungguh sebuah impian yang harus jadi kenyataan bagi kita semua. Tidakkah kita bangga bila kabupaten muda ini menjadi reference nasional? Misalnya pada sektor investasi, pendidikan, kesehatan atau juga Kelompok Usaha Kecil Menengah dan Kecil (KUKMK)?Agaknya, melihat fenomena dan kemampuan yang dimiliki, harapan itu bisa tergapai bila kerja keras dan cerdas dimulai pada titik nol saat ini. Tahun 2007 sebagai starting point membawa kecemerlangan.

Tanpa bermaksud meniadakan kesuksesan kepemimpinan sebelumnya, kabupaten ini masih berada pada tahap pondasi. Masih perlu menata struktur pemerintahan dan sarana yang masih terasa kurang.

Menilik satu per satu dinas, badan dan kantor Pemkab Sarolangun butuh pembenahan yang amat serius. Pasca kasus darmaga ponton, kabupaten yang lahir di tahun 2001 ini juga memiliki performance teramat jelek dalam hal good governance and clean govermance.

Harapan tetaplah harapan. Besar dan sangat menjanjikan kemengan dua pasangan ini. HBA pamong senior yang mumpuni. Berpengalaman dan bersih. Punya komitmen terhadap pembangunan kemasyarakatan. Setidaknya, pasangan ini merupakan modal yang amat besar (its the rising star). Putra terbaik yang memiliki kesempatan penuh untuk memperlihatkan kinerja dan kemampuan kepemimpinannya. Mampukah? Kita mesti yakin dan mendukung pemimpin yang kita pilih bersama. Bersatu dalam harmoni pembangunan. "Syahadat" yang sama demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Pemimpin akan mampu dan bisa bekerja dengan leluasa, berkreasi dan membuat terobosan demi kemajuan daerah ini.

Starting point yang amat menentuan adalah kabinet yang bakal membantu pasangan ini. Loyalitas dan kredibilitasnya mesti terjaga dan terukur. Komitmen dan kemampuannya bisa teruji mendukung penuh visi dan misi pasangan ini. Penilaian dan objektivitas amat sangat membantu.

Track record juga akan menentukan. Tetapi yang patut dicatat adalah jangan ada titipan khusus yang bisa merusak citra dan kepercayaan masyarakat. Mulai dari titipan politik hingga balas jasa politik. Jika Ini terjadi, menyakitkan dan mengecewakan masyarakat. Pada gilirannya nanti kepemimpinan ini akan oleng dengan sendirinya.?Isu yang berkembang banyak menyatakan, banyak dari orang luar. Namanya isu, semuanya masih semu.

Tetapi kita mesti mengingatkan---tanpa bermaksud menggurui---kepada pasangan ini, starting point amat menentukan. Karena salah menentukan akan membuat kegagalan dan laju mesin pemerintahan akan tersendat. Kata kunci pada garis ini adalah wawasan dan kemampuan. Tidak perlu kita menyebut orang luar orang dalam. Tidak penting barisan mana dan kader siapa, yang namanya pemerintah abdi masyarakat, komitmennya tetap mengacu kepada kepentingan masyarakat daerah. Lebih-lebih Kabupaten Sarolangun.

Mendukung kemajuan selain harmonisasi kabinet, pasangan pemimpin, sekdakab, juga teramat penting antara eksekutif dengan legislatif. Anggota legislatif sudah waktunya meniatkan hati seluruh dukungan terhadap kebijakan eksekutif yang berpihak kepada masyarakat dan pembangunan. Tidak berpijak pada kepentingan kelompok dan partai.

Tetapi menyimak paparan HBA setiap saat baik dalam pidato maupun pemberitaan, ia akan memberikan jabatan sesuai dengan kemampuan orang dan SDM yang tersedia dan memang jika tidak memungkinkan, terpaksa mengajak putra terbaik kabupaten ini yang masih mengabdi di daerah lain atau juga di tingkat provinsi. Hal lain yang juga menentukan keberhasilan adalah pembenahan pada komunikasi politik dan kepentingan daerah. Semestinya tidak saling menyalip menyilang yang bisa merugikan pembangunan. Dalam arti memberikan kesempatan penuh pasangan ini membuat terobosan yang luar biasa untuk kabupaten Sarolangun. Tentu saja kita tak mau terjadi "kayuh biduk pembangunan" terancam di arus deras kemunduran berpikir yang mengembalikan masyarakat Sarolangun ke titik nol kembali.

Terlau dini menilai pasangan ini, tetapi yang jelas, jika dari angka-angka penting makro ekonomi, orang selalu mengacu pada pendapatan per kapita masyarakat, pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran. Ini juga harus memiliki raport yang terbaik dan menanjak setiap tahun. Inilah pondasi yang dibuat harus mampu menjawab indikator tersebut dengan sebuah kebijakan yang berani dan strategis.

Jika saja kabinet telah bekerja cerdas dan bekerja keras tentu saja akan memperoleh keberhasilan. Inilah menjadi performance daerah untuk go nasional dan go international.

Dengan demikian akan membawa Kabupaten Sarolangun bisa dilirik dan dihormati selayaknya dengan kabupaten berprestasi di tingkat nasional. Inilah sebuah mimpi yang butuh jawaban hingga lima tahun ke depan. Semoga. []

*Abdullah Khusairi, tinggal di Kota Padang sehari-hari menjabat Redaktur Pelaksana Edisi Minggu Harian Pagi Padang Ekspres (Jawa Pos Groups) dan Pembina Himpunan Mahasiswa Sarolangun (HMS) Padang. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang.

BUPATI SAROLANGUN


BERSAMA BUPATI SAROLANGUN, Hasan Basri Agus. Kamis (3/11), pukul 20.00 WIB. Lelaki murah senyum itu menyambut hangat kedatangan penulis di kediaman.